Home »

Opini

Opini

Tarawih tanpa Rakaat

SELAMA Ramadhan tahun ini yang tinggal beberapa hari lagi, jagad media sosial (medsos) di Aceh

Tarawih tanpa Rakaat
IST

Oleh Mizaj Iskandar

SELAMA Ramadhan tahun ini yang tinggal beberapa hari lagi, jagad media sosial (medsos) di Aceh sempat viral menyoal jumlah rakaat shalat Tarawih. Pembicaraan yang berujung pada perdebatan tersebut, masih seputaran keabsahan shalat Tarawih 8 rakaat, ada yang pro dan juga yang kontra. Tema klasik ini kembali mendapatkan tempat dalam wacana berpikir publik. Padahal, sudah tak terhitung lagi kitab, risalah, buku, dan tulisan yang membahas hal ini.

Perdebatan tersebut mendorong penulis untuk mengajukan wacana Tarawih tanpa rakaat. Tentu suatu hal yang mustahil mengerjakan shalat Tarawih tanpa rakaat. Oleh karena itu, yang dimaksudkan dengan Tarawih tanpa rakaat dalam tulisan ini bukanlah shalat Taraweh yang dikerjakan tanpa rakaat, tetapi shalat Tarawih yang melampaui sekat-sekat rakaat untuk mencapai substansi dan esensi dari Tarawih itu sendiri.

Dalam pada itu, artikel ini tidak dimaksudkan untuk memperkeruh suasana masyarakat yang terbelah antara pro dan kontra (split society). Melainkan artikel ini berusaha memindahkan fokus perdebatan dari jumlah rakaat menuju substansi dan esensi dari shalat Tarawih.

Tarawih ibadah spiritual
Dalam berbagai literatur fikih, puasa didefinisikan sebagai ibadah menahan diri dari segala hal yang membatalkannya mulai dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Merujuk pada definisi ini, semua aktivitas yang berkaitan dengan puasa Ramadhan dilakukan dalam batasan waktu terbit-tenggalamnya matahari. Namun begitu, dalam praktiknya, Nabi saw memilih waktu malam untuk menegakkan shalat Tarawih yang dikerjakan hanya di bulan Ramadhan.

Dalam banyak tempat, Alquran menceritakan satu fungsi malam (lailah) adalah sebagai tempat ketenangan (litaskunu fih). Dengan ketenangan tersebut diharapkan manusia dapat beristirahat pada sebagian waktu malam dan sebagian lagi digunakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Dalam ketenangan ini biasanya manusia bisa merasa lebih dekat kepada Allah Swt. Dalam kondisi batin seperti inilah beberapa peristiwa spiritual dalam Islam terjadi di malam hari dan bukan siang hari.

Di antara beberapa peristiwa spiritual yang terjadi di malam hari tersebut adalah malam Isra Mikraj, malam Nuzul Quran, dan malam Lailatul Qadar. Bahkan dua malam yang disebut terakhir terjadi dalam bulan Ramadhan. Rentetan pemilihan waktu malam sebagai wahana waktu terjadinya peritiwa spiritual, tampaknya patut dipertimbangkan; mengapa Nabi saw memilih mengerjakan Tarawih di waktu malam, bukan di waktu siang di mana ibadah puasa dikerjakan.

Asumsi ini ternyata selaras dengan satu sabda Nabi saw berkaitan dengan shalat Tarawih. Nabi saw bersabda, Man qama ramadhana imanan wa ihtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih (Barangsiapa yang menegakkan malam-malam Ramadhan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah semata, maka dosanya akan diampunkan oleh Allah). Dalam hadis ini, terlihat jelas bahwa Nabi saw ingin memberikan kesan spiritual pada shalat taraweh dengan menyebut kata iman dan ihtisaban (mengharapkan pahala hanya dari Allah).

Oleh sebab itu, belum ditemukan satu pun statemen keagamaan (hadits qawliyah) dari Nabi yang dengan tegas membatasi jumlah rakaat shalat taraweh. Dalam hal ini, jumlah rakaat shalat Tarawih hanya kita temukan dalam riwayat sahabat, tabi’in dan kitab-kitab fikih klasik.

Aisyah dan Jabir meriwayatkan delapan rakaat, kebijakan Umar yang kemudian mendapatkan legitimasi ijma’ dari para sahabat menyepakati rakaat Tarawih sebanyak 20. Sa’id bin Jubair mengerjakan Tarawih sebanyak 24 rakaat (al-Thabrani: 3/284). Dalam sebagian mazhab Maliki, Taraweh dikerjakan sebanyak 36 rakaat. Imam Syafi’i di masa hidupnya melihat penduduk Madinah mengerjakan Taraweh sebanyak 39 rakaat, walaupun ia lebih condong mengerjakan 20 rakaat (al-Umm: 1/167).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help