Opini

‘Ar-Rayyan’ Jalur Khusus Orang Berpuasa

SEBAGAI muslim, kita diajarkan bahwa surga adalah tujuan terakhir perjalanan hidup yang harus kita raih

‘Ar-Rayyan’ Jalur Khusus Orang Berpuasa
getty images
Ilustrasi seorang pemuda sedang membaca Alquran. 

Oleh Teuku Zulkhairi

SEBAGAI muslim, kita diajarkan bahwa surga adalah tujuan terakhir perjalanan hidup yang harus kita raih. Surga adalah tempat di mana indatu umat manusia, Nabi Adam as diciptakan oleh Allah Swt dan tinggal di dalamnya, kemudian diturunkan ke bumi menjadi khalifah. Banyak ayat Alquran dan hadis Nabi saw yang menjelaskan tentang surga dan kewajiban kita untuk berjuang meraihnya. Untuk meraih surga, Islam meminta kita untuk beramal saleh sebanyak-banyaknya dalam kesempatan hidup di dunia yang amatlah singkat.

Islam mengajarkan kita bahwa “dunia adalah ladang mencari bekal untuk akhirat”. Meskipun dunia diciptakan untuk kita, akan tetapi kita diciptakan untuk akhirat. Di akhirat tidak ada tempat antara surga dan neraka. Maka seorang muslim mestilah mengikuti jalan Islam agar selamat dari azab neraka. Orang-orang muslim juga diminta untuk selalu berdoa agar dijauhi dari neraka, serta selalu berdoa agar dimasukkan oleh Allah Swt dalam surga-Nya.

Sebab, surga adalah sebaik-baik tempat kembali. Tempat yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan. Sebalik dari surga, neraka merupakan seburuk-buruk tempat kembali, penuh dengan siksaan yang mengerikan. Maka Allah Swt mengingatkan kita dalam ayat-Nya agar kita tidak mati, kecuali dalam keadaan Islam. “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102).

Jadi, Allah Swt mewanti-wanti kita agar bisa istiqamah dalam Islam. Agar mempertahankan keimanan dan keislaman kita apapun resiko di dunia yang kita hadapi. Sebab, memang menjadi muslim adalah syarat mendasar untuk memasuki syurga. Sementara orang-orang kafir tidak akan bisa memasuki surga. Allah Swt menegaskan, tempat mereka adalah di neraka. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yaitu Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu seburuk-buruk makhluk.” (QS. al-Bayyinah: 6).

Pintu Ar-Rayyan
Akan tetapi, seperti dijelaskan di atas, menjadi muslim saja tentu saja tidak cukup. Umat Islam diharapkan memanfaatkan setiap potensi amalan yang bisa mengantarkannya ke surga. Salah satunya yaitu puasa di bulan Ramadhan. Ketika kita perhatikan, serangkaian ibadah yang diminta kita untuk mengarjakannya di bulan Ramadhan, sesungguhnya adalah bekal kita untuk memasuki surga-Nya. Tentulah, karena surga tidaklah gratis.

Sebagai pemilik surga, Allah Swt menjelaskan dalam Alquran tentang amal apa saja yang bisa mengantarkan kita ke surga, di antaranya puasa di bulan Ramadhan. Rasulullah saw bersabda, “Surga merindukan empat golongan, yang membaca Alquran, yang memberi makan orang-orang yang lapar, yang menjaga lisannya, dan yang berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmizi dan Abu Daud).

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dijelaskan bahwa surga memiliki delapan pintu. Dan salah satunya bernama Ar-Rayyan yang khusus terbuka bagi orang-orang yang berpuasa. “Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru: ‘Mana orang yang berpuasa’. Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, betapa istimewanya orang-orang yang berpuasa di hadapan Allah Swt. Bukan saja mereka akan meraih surga dengan izin-Nya, bahkan juga akan memasuki juga lewat pintu yang hanya dibuka khusus orang-orang yang berpuasa. Pintu ini tidak akan dibuka bagi orang-orang yang tidak berpuasa. Dapat disimpulkan, bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan yang kita kerjakan, selain berfungsi sebagai sarana kita untuk menata dunia menjadi lebih baik dengan serangkaian ujian kesabaran dan kejujuran, juga diharapkan bisa mengantarkan kita ke surga sebagai negeri yang kekal abadi.

Setiap tahun sepanjang hidup kita dengan izin Allah Swt kita menjumpai bulan mulia ini. Artinya, Ramadhan sejatinya adalah “paket tahunan” yang disediakan Allah Swt dan diharapkan dengan itu kita akan bisa dimasukkan dalam surga-Nya dengan berkat sifat Rahman dan Rahimnya Allah Swt. Jadi betapa Allah Swt itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Setiap tahun kita diberikan kesempatan meraih surga di bulan Ramadhan.

Memperbanyak amal
Dahsyatnya bulan ini karena pahala dari setiap ibadah yang kita lakukan juga akan dilipatgandakan. Dan ini akan memudahkan kita untuk memperbanyak pundi-pundi amal kebaikan bekal untuk negeri akhirat. Bahkan, bukan hanya itu, di bulan Ramadhan, umat Islam juga diberikan “paket 10 akhir Ramadhan”, di mana di dalamnya akan ada satu malam yang jika kita beribadah di dalamnya maka sama seperti kita beribadah 1.000 bulan.

Untuk meraih Lailatul Qadar, Rasulullah Saw mengajarkan kita untuk menghidupkan 10 akhir Ramadhan dengan i’tikaf agar kita betul-betul fokus memanfaatkan 10 akhir Ramadhan yang disebut oleh Rasulullah saw sebagai fase pembebasan dari api neraka (‘itqum minannar). Diriwayatkan oleh Aisyah ra, bahwa ketika memasuki 10 akhir Ramadhan, Rasulullah saw mengencangkan ikat pinggangnya, beliau menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. Jadi betapa Rasulullah saw sangat serius melewati fase akhir Ramadhan. Sebuah contoh teladan yang mesti kita ikuti. Maka marilah kita hidupkan masjid-masjid di Aceh dengan i’tikaf.

Memperhatikan bagaimana stimulus (dorongan) untuk beribadah di bulan Ramadhan, maka tidaklah mengherankan jika kemudian kita juga diperingatkan bahwa kecelakaan besar bagi orang-orang yang melewati Ramadhan akan tetapi dosanya belum terampuni. Hadis riwayat Imam Tirmidzi menyebutkan: “Amat merugi/hina seseorang yang Ramadhan masuk padanya, kemudian Ramadhan pergi sebelum diampuni dosa-dosanya.” Begitu banyak peluang investasi amal di bulan Ramadhan yang bisa mengampuni dosa-dosa kita, sekaligus membuka jalan kita ke syurga. Maka rugi dan celakalah siapapun yang tidak memanfaatkan bulan Ramadhan untuk meraih ampunan dan pembebesan dari api neraka.

Disebut dosa belum diampuni adalah karena jika seorang muslim tidak memanfaatkan potensi-potensi amal yang ada di bulan Ramadhan, baik dengan puasa sesuai dengan panduan Fiqh Islam, maupun dengan jalan menghidupkan malamnya dengan shalat malam dan amal kebaikan lainnya, yang semuanya akan dilipat-gandakan pahalanya. Jadi, semoga kita bisa memanfaatkan dengan baik detik-detik yang kita lewati di bulan mulia ini. Sehingga kelak, kita berharap dan berdoa kepada Allah kiranya kita akan dimasukkan dalam surga-Nya melalui pintu khusus Ar-Rayyan. Amiin ya Allah.

* Teuku Zulkhairi, M.A., Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, alumnus Dayah Babussalam Matangkuli Aceh Utara, dan Sekjend PW Bakomubin Provinsi Aceh. Email: abu.erbakan@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help