Tafakur

Merusak Ketakwaan

Setelah belajar, beramal, dan (insya Allah) memperoleh derajat takwa di Hari Kemenangan Idul Fitri

Merusak Ketakwaan

Oleh: Jarjani Usman

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang sudah dipintal dengan kuat, sehingga menjadi cerai-berai kembali” (QS. an-Nahl: 92).

Setelah belajar, beramal, dan (insya Allah) memperoleh derajat takwa di Hari Kemenangan Idul Fitri, maunya kita tidak seperti wanita pemintal benang yang setelah demikian lelah bekerja berjam-jam memintal di pagi hari, lalu mencerai-beraikan hasil kerjanya di sore hari. Ini adalah pekerjaan sia-sia tentunya.

Kita diingatkan untuk tidak berbuat demikian. Maunya setelah berada sebulan penuh ditempa dalam bulan suci Ramadhan, kita benar-benar berubah menjadi lebih baik. Kita menjadi insan bertakwa, yang berhati ikhlas dalam menegakkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Bukan insan sebaliknya, yang tidak melakukan yang makruf dan gemar melakukan kemungkaran.

Memang menjadi insan bertakwa itu perlu kehati-hatian yang tinggi dalam hidup ini. Takwa diibaratkan dengan berjalan di di jalan yang penuh duri tajam, yang kalau tidak benar-benar hati-hati akan terinjak duri dan celaka.

“Terinjak duri” bisa dialami oleh siapa saja, termasuk oleh orang-orang yang sangat memahami agama Islam. Orang yang faham belum tentu mau serius mengamalkannya. Makanya tak jarang terjadi, orang-orang sudah berilmu agama tinggi pun ikut terjebak dalam perbuatan keji seperti korupsi atau mengambil yang bukan haknya demi memperturutkan hawa nafsunya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help