Opini

Pengintegrasian Nilai Puasa dalam Keseharian

TIDAK terasa, kita telah memasuki tahap akhir ibadah puasa di bulan suci Ramadhan tahun

Pengintegrasian Nilai Puasa dalam Keseharian
GUBERNUR Aceh, Irwandi Yusuf, menyampaikan ceramah sebelum pelaksanaan shalat tarawih di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (17/5). 

Oleh Rita Khathir

TIDAK terasa, kita telah memasuki tahap akhir ibadah puasa di bulan suci Ramadhan tahun ini. Hari-hari yang penuh berkah dalam nuansa yang berbeda menempa kita untuk memperbanyak ibadah dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Kita beruntung sekali berada di masyarakat yang mayoritas muslim, sehingga aroma Ramadhan terasa di berbagai sudut kehidupan.

Sepanjang bulan ini, ibadah shalat tarawih dan kuliah agama menjadi rutinitas di malam hari. Ditambah lagi dengan berbagai kegiatan pengisi rohani lainnya seperti tadarrus dan tadabbur Quran, pesantren kilat, safari Ramadhan, kenduri puasa, peringatan Nuzulul Quran, trending baru buka puasa bersama, dan lain sebagainya.

Sejenak, mari kita lemparkan sebuah pertanyaan sederhana pada diri kita, dengan sekian banyak aktifitas membenahi rohani dan jasmani, apakah nilai-nilai puasa sudah terintegrasi dalam jiwa dan perilaku kita? Secara harfiah, makna puasa adalah menahan diri dari segala hal yang bisa membatalkan puasa dari semenjak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Artinya bahwa puasa ini mendidik banyak nilai positif untuk manusia. Pertama, menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa yang bersifat langsung seperti makan dan minum dengan sengaja, serta menahan diri dari hal-hal yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam seperti mencuri, menghina orang lain, berjudi, minum khamr, marah, dan sebagainya.

Batasan kedua adalah waktu tertentu, yang mana persyaratan ini mengandung nilai kedisiplinan bagi siapa saja yang mampu memenuhinya. Puasa ini adalah ibadah bersifat rahasia antara kita dan Allah Swt, yang tidak dapat dipertontonkan kepada manusia lain. Dengan demikian puasa mengandung nilai untuk mewujudkan integritas/kejujuran di mana pun kita berada, karena keyakinan yang kuat bahwa Allah Swt adalah yang Maha Mengawasi aktivitas keseharian kita. Jadi sudah semestinya puasa tahun ini berpotensi membentuk jiwa-jiwa yang disiplin dan jujur.

Kurang renungan
Dalam keseharian banyak aktivitas keliru atau salah yang kita lakukan karena kealpaan kita atau bahkan karena mewarisi aktivitas generasi sebelumnya (adat pak turot). Penyebabnya adalah karena kurangnya renungan (pemikiran) dan evaluasi terhadap suatu hal yang sudah dianggap lazim dalam kehidupan (tradisi).

Padahal, Islam mengajarkan agar kita tidak bertaklid buta dalam beragama dan berkehidupan. Hakikat puasa Ramadhan mengandung nilai-nilai religius seperti kesabaran, kejujuran, kedisiplinan, pengembangan kecerdasan, adanya kesamaan hak dan derajat sesama manusia, serta saling mengasihi dan menyayangi sesama. Namun implementasi nilai-nilai ibadah puasa Ramadhan dalam kehidupan manusia seolah tidak berbekas.

Sebagai contoh adanya tradisi melantunkan shalawat dan syair setelah azan dengan memakai pengeras suara (metode dengan mengeraskan suara) atau berzikir bersama setelah salam dengan pengeras suara (metode dengan mengeraskan suara), sementara itu sebagian jamaah ada yang hendak melaksanakan shalat sunnah, i’tikaf ataupun terdapat jamaah masbuk yang sedang melaksanakan shalat wajib. Kalau kita renungkan kembali, tradisi ini sangat mengganggu kenyamanan saudara kita yang sedang shalat atau beribadah.

Perlu ada pemikiran para ulama untuk mengatur strategi baru kapan dan di mana kita dapat melantunkan shalawat dan zikir dengan suara nyaring tersebut, sehubungan perbedaan hukum antara dua kegiatan ini jelas, di mana hukum shalat sebagai ibadah wajib atau sunnah, dan hukum shalawat, syair dan zikir dengan suara nyaring ini adalah mubah. Misalnya shalawat dan syair dilantunkan 10 menit sebelum masuk waktu shalat. Adapun tradisi zikir bersama dapat dilaksanakan di masjid atau mushalla khas yang mana tidak ada jemaah yang datang sepanjang waktu.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help