Bantuan Pendidikan Diselewengkan

Hampir setiap tahun Pemerintah Aceh membayarkan bantuan pendidikan kepada para mahasiswa yang membutuhkan

Bantuan Pendidikan Diselewengkan

* 9 Anggota DPRA Diduga Terlibat

BANDA ACEH - Hampir setiap tahun Pemerintah Aceh membayarkan bantuan pendidikan kepada para mahasiswa yang membutuhkan biaya untuk merampungkan tugas akhir, skripsi, tesis, bahkan disertasi ataupun untuk keperluan lainnya di bidang akademik. Mayoritas mahasiswa yang mendapat bantuan pendidikan (bukan beasiswa, red ) itu merupakan hasil usulan anggota DPRA melalui dana aspirasinya. Tapi pada tahun 2017 lalu bantuan tersebut terindikasi dipotong oleh pihak pengusul dengan porsi lebih besar potongan daripada yang diterima para mahasiswa.

Di DPR Aceh saat ini terdapat 81 anggota dewan. Dari jumlah tersebut hanya 24 orang yang mengalokasikan dana aspirasinya untuk bantuan pendidikan bagi mahasiswa yang membutuhkannya. Akan tetapi, pada tahun 2017 lalu sembilan dari 24 anggota DPRA pengusul dana bantuan pendidikan itu terindikasi kuat memotong atau menyelewengkan dana tersebut.

Di dalam dokumen hasil Pemeriksaan Bantuan Pendidikan Pemerintah Aceh Tahun 2017 yang disampaikan Inspektorat Aceh kepada Gubernur Aceh pada 13 April 2018 disebutkan sembilan nama anggota DPRA yang diduga melakukan penyelewengan bantuan pendidikan itu. Mereka adalah 1) Iskandar Usman Alfarlaki (Partai Aceh), 2) M Saleh (Partai Golkar), 3) Dedi Safrizal (Partai Nanggroe Aceh), 4) Rusli (Partai Aceh), 5) Ir HT Hasdarsyah (Partai Demokrat), 6) Muhibussabri SAg (Partai Persatuan Pembangunan), 7) Jamidin Hamdani (Partai Demokrat), 8) Yahdi Hasan (Partai Aceh), dan 9) Aminuddin MKes (Partai Golkar).

Jumlah mahasiswa yang mereka usulkan untuk mendapatkan dana bantuan pendidikan itu bervariasi, demikian pula jumlah pemotongannya. Iskandar Usman Alfarlaky, misalnya, mengusulkan 322 mahasiswa dengan total nilai bantuan pendidikan Rp 7.492.000.000. Lalu kemudian sebagian penerima bantuan tersebut dikonfirmasi (diuji petik) oleh Inspektorat untuk memastikan apakah mereka benar menerima dana tersebut utuh atau tidak. Dari 322 penerima yang diusulkan Iskandar, Inspektorat Aceh hanya meminta keterangan dari 60 mahasiswa. Hasilnya, 23 mahasiswa mengaku dana bantuan untuknya dipotong oleh pihak pengusul melalui koordinator. Total pemotongan itu Rp 404.000.000

Masing-masing pengusul menunjuk seorang koordinator atau penghubung. Ada yang saudara, adik ipar, bahkan anak kandung dari si pengusul. Nah, para koordinator inilah yang kemudian menghubungi calon penerima bantuan pendidikan.

Modus pemotongan dana bantuan pendidikan ini, menurut pihak Inspektorat Aceh, dilakukan melalui empat tahap. Pertama, buku rekening dan kartu ATM calon penerima dipegang oleh penghubung. Kemudian, penghubung meminta uang secara tunai kepada mahasiswa penerima bantuan. Selanjutnya, mahasiswa tersebut mentransfer kepada penghubung. Ujung-ujungnya, penghubung membuat rekening atas nama mahasiswa penerima bantuan tanpa sepengetahuan mahasiswa tersebut. Uang yang diminta kembali atau dipotong dari para penerima bantuan itu kemudian diserahkan penghubung kepada anggota dewan selaku pengusul.

Total bantuan pendidikan yang telah disalurkan mencapai Rp 19,6 miliar kepada 803 mahasiswa penerima. Kemudian berdasarkan hasil konfirmasi Inspektorat terhadap 197 mahasiswa mereka hanya menerima Rp 5,2 miliar, Sedangkan Rp 1,14 miliar di antaranya belum mereka terima, karena sudah dipotong oleh penghubung.Malah saat Inspektorat melakukan konfirmasi kepada para penerima, masih ada uang mereka yang tertahan di tangan penghubung/koordinator.

Inspektorat pun sudah membuat persentase bahwa dari 172 penerima yang berhasil mereka konfirmasi, ternyata 64% di antaranya terindikasi tidak menerima penuh uang tersebut (dipotong), yang menerima penuh 33%, dan 3% di antaranya tidak menrima sama sekali. Artinya, kasus ini ada juga fiktifnya.

Kepala Inspektorat Aceh, Ir Zulkifli yang dihubungi Serambi, Rabu (23/5) siang menyatakan, Inspektorat Aceh sedang mendalami kasus ini dan belum bisa disampaikan ke publik. Begitupun, Zulkifli mengaku sudah mendengar informasi bahwa Polda Aceh sedang melakukan penyelidikan terhadap dugaan kasus pemotongan dana bantuan pendidikan bagi mahasiswa yang bersumber dari dana APBA 2017.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help