Ramadhan Mubarak

Menjaga Fitrah Manusia

FITRAH manusia dapat dimaknai sebagai kondisi asli dan sifat bawaan manusia

Menjaga Fitrah Manusia
Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I

Oleh Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I, Dosen IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

“Setiap orang boleh lebaran. Tapi tidak setiap orang boleh ber-Idul Fitri.” (KH. Zainuddin MZ)

FITRAH manusia dapat dimaknai sebagai kondisi asli dan sifat bawaan manusia. Kondisi asli dan sifat bawaan manusia adalah fitrah (fathara), suci dan kecenderungan menerima kebenaran. Maka hakikat manusia itu tidak terkotori oleh ucapan hina dan perilaku keji. Sebab, setiap manusia itu memiliki kondisi bawaan suci, bersih, dan tanpa dosa. Hanya saja ketika manusia lahir dan bergelut dengan kehidupan dunia, terjadi pertarungan antara nafsu dan akal. Kadang nafsu yang menang, akal yang kalah. Pun, kadang nafsu yang kalah, akal yang menang. Sekali-kali manusia laksana kehidupan malaikat, kadang laksana kehidupan binatang. Keberadaan fitrah pun bukan diperoleh dengan meminta dan mengusahakan. Namun fitrah merupakan pemberian Allah Swt kepada manusia sejak dalam alam ruh hingga lahir ke dunia.

Jika menelisik Alquran, maka ditemukan sebanyak 20 kali penyebutan kata ‘fitrah’ dalam berbagai bentuk kata. Semisal firman Allah Swt, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30). Bermakna bahwa manusia diciptakan Allah Swt memiliki naluri beragama tauhid, suci, dan cenderung kepada kebenaran. Maka jika ada manusia tidak beragama tauhid, keji, dan benci terhadap kebenaran, maka menjadi tidak wajar dalam kehidupan. Sebab, berlaku kotor dan menolak kebenaran merupakan bawaan asli iblis, bukan manusia.

Sebab itu, kehadiran Idul Fitri ingin mengembalikan kondisi asli dan sifat bawaan dasar manusia, yakni fitri (suci). Sebulan penuh manusia ditempa, dibina, digembleng, dilatih, dan dididik dalam fakultas Ramadhan, agar mampu mengembalikan sifat bawaan kesucian diri. Mungkin sebelum Ramadhan, manusia disibukkan dengan urusan-urusan materi, cemooh sana-sini, iri dengki, pelit nan jahil, lupa diri, provokator dalam setiap perilaku keji, hingga hilang sifat suci dalam diri. Tapi, kehadiran bulan suci telah menghapus setiap kesalahan sebelumnya hingga menjadi hamba yang fitri. Karena itu, kesucian yang telah dimiliki sejak awal masuk Ramadhan hendaknya dapat dijaga, dilestarikan, dan terus ditingkatkan. Jangan sampai manusia suci hanya di hari fitri, dan menjadi keji setelah beberapa hari pasca-merayakan hari fitri.

Bukan lebaran
Idul Fitri berbeda dengan lebaran. Jika Idul Fitri merupakan bagian dari ajaran agama, sedangkan lebaran adalah budaya. Idul Fitri memiliki filosofi tinggi dan mengarah kepada penyucian diri (tazkiyatun nufus). Adapun lebaran tanpa filosofi berarti, keberadaannya hanya sebagai kultur sosial masyarakat dalam menyambut hari raya. Maka pesan KH Zainuddin MZ sebagaimana kita kutip di atas, bermakna bahwa Idul Fitri hanya diperoleh oleh orang-orang yang berpuasa dan menghidupkan malam Ramadhan, sehingga dosa-dosa sudah terampuni. Nabi saw bersabda, “Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan keikhlasan, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan lebaran boleh dirayakan oleh siapa saja. Sebab, lebaran merupakan budaya yang tidak terkait dengan amalan selama bulan Ramadhan. Bahkan, jika menelisik lebih kritis kondisi sosio-kultural masyarakat saat ini, banyak yang berlebaran tapi sedikit yang memperoleh Idul Fitri. Buktinya, Idul Fitri bukan momentum untuk peningkatan amal kebaikan (syawwal), tapi hanya memamerkan materi, berupa pakaian baru, kendaraan baru, dan rumah baru. Padahal, bukanlah orang yang berhari raya hanya dengan mengenakan pakaian baru, tapi orang yang berhari raya adalah setiap orang yang bertambah ketaatan kepada Allah Swt. Artinya, puncak dari Idul Fitri adalah bertambah ketaatan untuk melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhkan larangan-Nya, takwa (QS. al-Baqarah: 183).

Sebab itu, setiap manusia hendaknya menyadari bahwa Ramadhan merupakan medium pembersihan hati dan penyucian jiwa. Idul Fitri merupakan proklamasi dari bersihnya hati dan sucinya jiwa. Sungguh merugi orang-orang yang menyambut kehadiran Idul Fitri dengan noda dan dosa. Itu artinya, puasanya sebulan penuh menjadi sia-sia dan tak berarti dalam kehidupan, yang ia peroleh selama puasa hanya lapar dan dahaga (HR. Ath-Thabrani), bukan ampunan dosa dan kesucian jiwa. Padahal, puasa Ramadhan sudah berulang kali menghampirinya, sesuai dengan jumlah umur yang dititipkan Ilahi, tapi arah perubahan kepada yang lebih baik belum diperoleh. Maka takbirnya di malam Idul Fitri bukan lagi dimaknai sebagai kalimat penuh syukur atas anugerah Ilahi selama puasa, tapi hanya sekadar ritual tahunan semata.

Puncak kesyukuran
Ucapan takbir pada malam Idul Fitri merupakan puncak kesyukuran dan keharuan seorang hamba yang melaksanakan ibadah puasa. Yakni, kesyukuran karena telah usai menunaikan sebuah ibadah mahaberat, dan haru karena akan ditinggalkan oleh bulan yang penuh keberkahan dan kemuliaan. Sebab itu, hendaknya malam Idul Fitri diisi dengan takbir dan pengagungan asma’ Allah Swt. Sesuai dengan perintah-Nya, “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185). Maka jangan sampai malam Idul Fitri diisi dengan ritual petasan dan ledakan mercon dan kembang api. Lebih-lebih jika dinodai dengan kemaksiatan di malam hari, tentu akan hilang makna hakiki dari hari fitri esok hari.

Lebih lanjut, malam Idul fitri merupakan satu malam dari malam-malam yang dimuliakan oleh Allah Swt. Pada malam itu Allah Swt turunkan keberkahan dan kemuliaan. Maka jangan sampai malam yang penuh keberkahan dan kemuliaan disia-siakan dan dinodai dengan perilaku keji dan kemaksiatan. Patut diisi malam tersebut dengan takbir, zikir, dan muhasabah, sebagai medium introspeksi diri dan menyusun strategi untuk menjaga fitrah yang telah diulang kembali oleh Ilahi.

Saat Idul Fitri manusia kembali suci laksana bayi yang baru lahir dari rahim ibu. Sebab itu, Idul fitri hendaknya menjadi momentum manusia untuk menjaga kefitrahannya. Yakni terpuji dalam berucap, mulia dalam berbuat, suci dalam berpikir, estetika dalam berkarya, dan menerima kebenaran yang datang dari siapa saja. Dari sanalah akan lahir masyarakat yang saleh dan salehah, guyub, toleran, peka dan peduli dengan sesama, benci dengan kemungkaran, korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi musuh bersama yang harus diperangi. Sebab, membangun sebuah negeri tidak cukup dengan mengandalkan slogan dan retorika, tanpa mempersiapkan manusia yang fitri. Maka kehadiran Idul Fitri harus mampu memobilisasi manusia menuju kebaikan kolektif. Semoga!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help