Opini

Ramadhan Mencegah ‘Blasphamy’

KEHADIRAN Ramadhan sangat dinantikan oleh setiap muslim sedunia dengan kewajiban mereka berpuasa

Ramadhan Mencegah ‘Blasphamy’
Jamaah Qiyamul Lail menikmati santapan sahur di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Senin (18/6/2017). SERAMBI/M ANSHAR 

Oleh Syamsul Rijal

KEHADIRAN Ramadhan sangat dinantikan oleh setiap muslim sedunia dengan kewajiban mereka berpuasa sebulan penuh yang menjadi pembebas diri mereka dari tersalah dan dosa dengan mendapatkan maghfirah-Nya. Keampunan yang diperoleh itu mempertegas jati diri insan yang bertakwa, yaitu mereka yang berkarakter full kebaikan dan minim kejahatan, bukan tidak tersalah sama sekali.

Ibadah puasa dapat menanamkan solidaritas sosial antarsesama, paling tidak antarsesama mampu membangun kemunikasi yang baik, bebas dari ujaran kebencian (hate speech), fitnah dan sejenisnya, merendahkan antara satu dengan lainnya (blasphamy) dan antarsesama, realitas ini sejatinya menjadi karakter mereka yang bertakwa.

Predikat takwa menjadi produk ibadah puasa yang ditunaikan seseorang menjadi gambaran hadirnya sosok yang berkarakter. Pertama, sukses mengendalikan diri karena dapat mengelola hawa nafsu. Pengendalian diri itu diperoleh dari buah kesabaran seseorang saat menunaikan puasa, menahan diri tidak makan dan minum, padahal dalam kesendirian seseorang dapat saja melakukannya.

Kedua, sukses menata lisan dan pikiran mengacu kepada bicara yang makruf, berguna dan bermanfaat. Penataan lisan itu terbiasa oleh ucapan yang ahsan sepanjang Ramadhan serta pengendalian diri untuk senantiasa memperbanyak zikir, membaca Alquran dan bicara yang baik dan benar telah turut mewarnai sentimen pikiran positif dalam bersikap dan bertindak.

Dan, ketiga, sukses menjadi sosok personal yang memiliki rasa kepedulian antar sesama yang cukup tinggi. Sikap humanisme-interest menjadi bagian bersikap dan bertindak sebagai buah dan hikmah prilaku puasa dari tidak makan minum, serta tidak melakukan hubungan biologis suami-isteri telah menempa kepribadian yang memiliki rasa kepedulian.

Sentimen sosial yang terpatri dalam setiap pribadi orang yang berpuasa membentuk karakter positif yang anat diperlukan dalam berkehidupan sosial pada segala lini dan strata kehidupan manusia modern.

Jauhi blasphamy
Dalam beragam literatur maka ditemukan bahwa blasphamy mengandung arti pencemaran, penjelekan, penghujatan, pemfitnahan, dan kata lain sejenisnya. Blasphamy lebih populer sebagai bentuk ujaran penghinaan, penistaan, atau penodaan terhadap keyakinan seseorang atau kelompok dalam beragama. Blasphamy dapat terwujud dalam komunikasi verbal dan atau dalam bentuk kata-kata tulisan, display gambar, ataupun karikatur.

Ujaran kebencian ini mendapat atensi secara mendunia bahkan dimunculkan dalam piagam International Covenant on Civil and Political Right yang diserukan diratifikasi oleh seluruh negara. Indonesia menyikapi hal tersebut dengan lahirnya UU No.12 Tahun 2005.

Pada perinsipnya, sikap ujaran kebencian termasuk sikap yang tidak terpuji. Ujaran kebencian, apalagi bersifat fitnah dapat merusak tatanan sosial yang baik dan memggiring suasana saling curiga antarsesama, serta meruntuhkan tatanan sosial yang merekat menjadi kondisi carut nafut dan saling ketidakpercayaan yang massive di tengah kehidupan masyarakat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help