Sang Singa Yang Menantang Para Juara

TIMNAS Maroko kembali ke putaran final Piala Dunia setelah absen selama 20 tahun

Sang Singa Yang Menantang Para Juara

TIMNAS Maroko kembali ke putaran final Piala Dunia setelah absen selama 20 tahun. Bukan rahasia lagi, negara Afrika Utara tersebut terakhir tampil di pentas turnamen sepak bola akbar sejagad, ketika World Cup dihelat di Prancis 1998.

Seperti diketahui, bagi Atlas Lions–julukan timnas Maroko, ini merupakan edisi untuk kelima kalinya mereka berpatisipasi. Karena sebelumnya, Sang Singa sudah pernah merasakan hiruk-pikuk pesta empat tahunan diawali di Meksiko pada Piala Dunia 1970. Seakan memberi tuah, mereka kembali datang ke Meksiko pada 1986, 1994 Amerika Serikat, dan Prancis 1998.

Hanya saja, selepas itu, prestasi Maroko benar-benar jatuh tanpa berbekas. Betapa tidak, mereka harus absen selama empat edisi Piala Dunia mulai 2002 di Korea-Jepang, 2006 Jerman, 2010 Afrika Selatan dan Brasil 2014. Tepatnya, Negeri Magribi tersebu hanya mampu menjadi penonton setia.

Usai berpuasa selama 20 tahun, akhirnya mereka kembali datang ke gelanggang Piala Dunia. Maroko lolos setelah menggenggam status juara Grup D di Prakualiafikasi Zona Afrika. Besutan pelatih asal Prancis, Herve Renard itu sukses menguburkan ambisi dari para pesaingnya yakni Pantai Gading, Gabon, dan Mali.

Rekor Medhi Benatia dkk sungguh mengesankan. Gawang mereka selama babak prakualifikasi Grup C kala itu clean-sheet. Dari enam partai dilakoni punggawa Sang Singa, mereka sukses melesatkan 12 gol tanpa kebobolan. Bahkan, mereka tak terkalahkan dalam enam pertandingan tersebut. Hasil ini sangatlah pantas jika mereka akhirnya menjadi satu dari empat tim dari Benua Afrika hadir ke negeri beruang merah.

Dari empat penampilan Maroko, maka Piala Dunia 1986 di Meksiko tak bisa mereka lupakan. Ya, mereka menjadi negara di Benua Afrika pertama yang sukses lolos ke babak 16 besar. Namun, di tiga partisipasi lainnya, mereka harus puas selalu kandas di babak penyisihan grup.

Pada Piala Dunia Meksiko 1986, timnas Maroko bergabung bersama Three Lions Inggris, Polandia, dan Portugal di Grup F. Di luar dugaan, mereka berhasil memuncaki grup itu. Kalau mau jujur, mereka sukses mempercundangi negara-negara Eropa. Hebatnya lagi, para pesaingnya merupakan negeri yang memiliki kultur sepak bola kuat.

Maroko mengawali pertandingan ketika menahan imbang Polandia, dan Inggris dengan skor 0-0. Di partai terakhir yang menjadi duel hidup-mati itu, mereka mengatasi perlawanan Portugal dengan skor telak 3-1. Dua gol diborong Abdelrazzak Khairi pada menit 19, dan 26. Sementara satu lagi disumbangkan Abdelkarim Krimau di menit 62.

Kemenangan di Tres de Marzo, Guadalajara, pada 11 Juni 1986 membuat mereka harus bertemu dengan runner-up Grup F, Jerman Barat. Laju skuadra Maroko akhirnya terhenti tiga menit menjelang pertandingan bubaran. Sebuah gol dari Lothar Matteus sudah cukup untuk memaksa anak anak Maroko kembali ke kampung halaman.

Dalam duel itu, Jerman Barat yang ditangani Frans ‘Die Kaizer’ Beckenbauer, memainkan pemain terbaik seperti Schumacher, Andre Brehme, Lothar Matthaeus, Karl-Heinz Rummenigge, plus Ruddi Voeller. Akhirnya, Jerman Barat lolos ke final guna melawan Argentina, dan kalah 2-3.

Di Piala Dunia Rusia nanti, Maroko bergabung di Grup B bersama timnas Portugal, Spanyol, dan Iran. Kalau mau jujur, Hakim Ziyech dkk harus menantang para juara. Tentu saja, ini membutuhkan kerja ekstra keras untuk dapat mengais satu tiket ke babak 16 besar.

Ingat..! Portugal hadir ke Rusia dengan status juara Piala Eropa 2016 di Prancis. Lalu Spanyol, tak bisa kita ungkapkan lagi. El Matador adalah juara Piala Dunia 2010, dan juara Piala Eropa edisi 2008 plus 2012. Dengan kondisi ini, sudah sepantasnya Mehdi Carcela dkk pantang menyerah.(imran thayeb)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help