Home »

Sport

Aroma Dendam 25 Tahun

STADION Luzhniki, Moskow, nanti malam, akan menjadi saksi perhelatan Piala Dunia 2018

Aroma Dendam 25 Tahun

* Rusia vs Arab Saudi Buka Piala Dunia 2018

STADION Luzhniki, Moskow, nanti malam, akan menjadi saksi perhelatan Piala Dunia 2018. Dalam partai pembuka Grup A, kekuatan tuan rumah langsung diuji Timnas Arab Saudi.

Jujur saja, Stadion Luzhniki memiliki tuah bagi perjalanan Timnas Rusia. Seperti diketahui, dari 31 pertandingan yang pernah dilakoni di sana, punggawa Beruang Merah--julukan Timnas Rusia--sukses mencatat 19 kemenangan, tujuh kali imbang, dan lima kali kalah.

Kekalahan terakhir terjadi saat dihajar Brasil, 3-0, pada Sabtu, 24 Maret 2018. Tiga gol bagi tim tamu kala itu dilesatkan Joao Miranda, plus duo gol bintang Barcelona, Philippe Coutinho dan Paulinho.

Lalu, bagaimana peluang tuan rumah nanti malam? Sepertinya ini bukan laga mudah bagi Akinfeev dkk. Memang, sebagai tuan rumah tentu saja Rusia sangat diunggulkan. Terlebih, angka sempurna dalam duel pembuka memiliki makna penting guna menjaga peluang lolos ke babak 16 besar.

Hanya saja, menjelang pertandingan tersebut, timnas Rusia masih saja dibayang-bayangi oleh kekalahan memalukan 25 tahun lalu. Pada pertandingan persahabatan di Riyadh, 6 Oktober 1993, tuan rumah Arab Saudi tanpa ampun menghajar Rusia dengan skor telak 4-2.

Disaksikan 15.000 lebih penonton, kemenangan Arab Saudi ketika itu didapat melalui dua gol Khaled Messe serta satu gol masing-masing oleh Hamza Idriss Falatah dan Fahad Al Mehallel. Sementara gol balasan Rusia diborong mantan bintang Celta Vigo, Alexandr Mostovoi.

Hasil itu merupakan satu-satunya rekor pertemuan kedua kesebelasan. Kini, setelah 25 tahun lalu, Rusia dan Arab Saudi kembali bertemu dalam turnamen resmi. Boleh jadi, inilah kesempatan bagi Pelatih Stanislav Cherchesov untuk menuntaskan dendam tersebut. Apalagi, mereka akan bermain di depan publik sendiri.

Kondisi tak menggembirakan masih menyelimuti timnas Rusia menghadapi partai perdana mereka, nanti malam. Hingga pertandingan uji coba ketujuh, Alexander Samedov dkk gagal mencatat kemenangan. Bukti terakhir, Rabu (6/6) dini hari, Rusia ditahan imbang Turki, 1-1, di Moskow.

Selain itu, dalam daftar peringkat yang dikeluarkan FIFA, Kamis (7/6), posisi tuan rumah sangat buruk. Ya, Rusia akan memulai duel pembuka dari peringkat 70. Posisi mereka lebih buruk dari Arab Saudi yang berada di urutan 67. Karena itu, tak salah jika publik tuan rumah sangat mengkhawatirkan tim kesayangannya menjelang pembuka turnamen sepak bola terakbar sejagad itu.

Tak ayal, tren buruk tersebut membuat Alexender Sedov, kolumnis olahraga Gazeta.ru pada Senin (11/6) mengangkat tulisan dengan judul, hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan Rusia dari fase grup. Itu peringatan keras bagi anak-anak tuan rumah tiga hari menjelang melawan Arab Saudi.

Tak salah kalau Sedov menulis kritikan keras itu. Bukan rahasia lagi, tim besutan Stanislav Cherchesov tanpa kemenangan dalam tujuh laga uji coba internasional. “Tujuh pertandingan terakhir tanpa kemenangan, menjadi catatan terburuk dalam sejarah Timnas Rusia modern di bawah pelatih yang sama, dan nol kemenangan pada tahun 2018,” kritik Sedov.

Seperti diketahui, Yuri Zhirkov dkk hanya bermain imbang ketika menghadapi Iran (1-1), Spanyol (3-3), dan Turki (1-1). Kemudian, menelan kekalahan atas Argentina (0-1), Brasil (0-3), Perancis (1-3), dan Austria (1-0). Bahkan, tiga kekalahan terakhir diderita secara beruntun.

Sementara tuan rumah mencatat kemenangan terakhir pada laga persahabatan melawan Timnas Korea Selatan, 7 Oktober 2017. Dalam duel di VEB Arena, Moskva, awak Rusia menang 4-2 kendati dihiasi dua gol bunuh diri pemain Korsel, Kim Joo-Young. Selebihnya mereka tanpa kemenangan.

Dengan situasi ini, tentu saja tuan rumah dipaksa harus bermain ekstra keras. Apalagi, skuadra Arab Saudi lebih memilih untuk tampil lepas. Racikan dari sang arsitek Juan Antonio Pizzi tersebut tak tertutup kemungkinan akan membuat Rusia kalang-kabut. Pun begitu, inilah kesempatan bagi Igor Akinfeev dkk menuntaskan dendam setelah 25 tahun lalu.(imran thayeb)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help