Home »

Opini

Opini

Melanggengkan Kefitrahan

RAMADHAN hampir berlalu, hari nan fitri pun tiba. Harapan yang dipertaruhkan, Allah menerima segala amal perbuatan

Melanggengkan Kefitrahan
Warga sedang shalat Idul Fitridi halaman Masjid Baitul Quddus, Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah. SERAMBI/JALIMIN 

Oleh Zarkasyi Yusuf

RAMADHAN hampir berlalu, hari nan fitri pun tiba. Harapan yang dipertaruhkan, Allah menerima segala amal perbuatan serta mengampuni setiap dosa dan kealpaan yang kita lakukan, sehingga kefitrahan (kesucian) menjadi milik kita. Dalam buku Wawasan Al-Qur’an, Quraish Syihab menjelaskan bahwa makna ‘idul fitri adalah kembali keadaan asal penciptaan manusia, yaitu terbebas dari dosa dan noda, sehingga ia kembali berada dalam kesucian. Bahkan, populer diucapkan ketika Hari Raya Idul Fitri adalah minal ‘aidin wal faizin (orang yang kembali dan beruntung).

Kembali fitri, adalah sebuah keberuntungan yang perlu dipertahankan dalam kehidupan. Sebab, hari hari yang dilalui manusia penuh dengan halang-rintang yang mencemari dan mengotori asal penciptaan manusia itu sendiri (fitrah). Orang-orang yang beruntung dalam kehidupan ini tentu pasti akan dibalas dengan balasan yang setimpal oleh Allah, yaitu mendapatkan surga sebagaimana digambarkan Allah dalam Alquran, “Penghuni surga adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Hasyr: 59). Tidak hanya itu, Allah Swt juga akan melepaskannya dari api neraka, “Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung.” (QS. Ali Imran: 185).

Sebagaimana dimaklumi, bahwa setan tentu tidak akan pernah senang jika manusia menjadi makhluk yang beruntung dengan tetap menjaga kefitrahan, ia pasti akan melancarkan manuver-manuver untuk merusak kefitrahan manusia dengan berbagai macam cara dan strategi. Jika manusia tidak teliti dan jeli, pasti akan masuk dalam perangkap-perangkap setan yang menodai kefitrahan, sehingga berubahlah kondisi manusia dari suci menjadi kembali berdosa.

Apa yang harus dilakukan?
Apa sebenarnya yang harus kita lakukan agar dapat mempertahankan kefitrahan? Allah Swt berfirman, “Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang orang yang beriman, supaya kamu menjadi orang yang beruntung (menang).” (QS. an-Nur: 24). Perlu dicatat bahwa taubat adalah kewajiban bagi setiap manusia (fardhu `ain), sebab setiap orang pasti ada dosanya.

Ada beberapa unsur pokok taubat yang harus dijalani ketika manusia menyatakan dirinya bertaubat. Pertama; Menyesali perbuatan dosa, menyesal adalah bahagian dari taubat, demikian sabda Rasulullah saw (Ibnu Majah (4252), Ahmad; 1/376 dan Baihaqi; 10/154). Satu ciri orang yang telah benar-benar menyesali perbuatannya adalah lewat kucuran air matanya ketika mengenang masa lalunya yang kelam, serta hatinya menjadi lembut.

Kedua, menjauhkan diri dari segala dosa, di mana pun dan kapan pun. Penyesalan yang timbul akan melahirkan tekad untuk tidak mengulangi setiap kesalahan yang telah diperbuat, serta mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa dosa adalah penghalang besar dan terjal antara hamba dan rabbnya. Ketiga, bertekad tidak akan mengulangi melakukan dosa kembali. Orang yang menyatakan diri bertaubat akan terlihat dari usaha dalam menjauhkan setiap hal yang mampu menjerumuskannya melakukan kembali perbuatan dosa. Dan, kempat, jika kesalahannya itu berkaitan dengan manusia lain, memohon maaf dan izin kepada yang bersangkutan.

Cara mempertahankan kefitrahan selanjutnya adalah takwa. Orang takwa adalah orang yang mulia, demikian dijelaskan Allah dalam firman-Nya, “Di sisi Allah, orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling takwa.” (QS. al-Hujurat: 49).

Secara sederhana, takwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, baik ketika dilihat orang ataupun tidak. Satu jalan mendapatkan ketakwaan adalah dengan ibadah puasa Ramadhan (QS. al-Baqarah: 183). Satu harapan kita semua adalah puasa yang kita jalani diterima Allah Swt dan ketakwaan dapat kita raih.

Orang takwa pasti akan selalu berhati-hati dalam menjalankan kehidupannya, sehingga ia akan menghindari sekecil apa pun maksiat dalam kehidupannya. Suatu hari, Umar bin Khattab bertanya kepada Ka’ab al-Akhbar tentang makna takwa, Ka’ab menjawab bahwa orang yang bertakwa ibarat orang yang berjalan pada jalan penuh duri, ia akan berhati-hati dan menghindari terinjak duri.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help