Merawat Tradisi Ketupat

LEBARAN kurang lengkap tanpa kehadiran ketupat. Kudapan yang satu ini sudah sekian lama menjadi peneman khas

Merawat Tradisi Ketupat
Pengrajin menganyam bungkus ketupat di Desa Tungkop, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Selasa (12/6). SERAMBI/ NURUL HAYATI 

LEBARAN kurang lengkap tanpa kehadiran ketupat. Kudapan yang satu ini sudah sekian lama menjadi peneman khas Lebaran di nusantara. Ya, selalu ada cerita di balik kelezatan citarasa tradisi. Kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Warga Banda Aceh dan mungkin juga warga di daerah lain memang kerap menjadikan makanan yang satu ini sebagai menu ‘wajib’ setiap Lebaran. Disantap bersama kuah sayur dan perintilan lain nan menggugah selera, kudapan ini siap memanjakan lidah penikmatnya. Tak heran, ketupat menjadi primadona di hari kemenangan.

“Saya sudah buat ketupat sejak 30 tahun lebih. Kalau untuk Lebaran memang dibuat khusus karena pasti kebutuhan lebih banyak dari biasanya,” ujar Basyiah saat dijumpai di rumahnya di Desa Tungkop, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Selasa (12/6).

Saban hari, nenek yang memiliki sejumlah cucu ini menganyam hingga seribu bungkus ketupat. Bungkus-bungkus ketupat itu kemudian dijual kepada pedagang satai. Pada saat menjelang Lebaran, pembungkus makanan yang terbuat dari daun kelapa muda ini produksinya bertambah hingga setengahnya. Apalagi kalau bukan menjadi menu andalan saat merayakan hari kemenangan.

Basyiah dibantu anak-anaknya, saban hari mulai membuat ketupat sejak siang hingga larut malam. Ketupat buatan keluarga ini dilepas Rp 200 per bungkus. Ketupat dirangkai menjadi 25 bungkus per ikat. Menariknya, di sini tersedia tiga pilihan warna ketupat. Pembeli tinggal memilih sesuai selera.

Bahkan karena tingginya permintaan ketupat, Basyiah mengaku sampai pernah kehabisan bahan baku. Daun kelapa muda itu dibeli khusus dari langganannya. Untuk membuatnya panjang umur, daun kelapa muda itu disimpan dalam plastik.

Pelanggan setia Basyiah rutin membeli dengan mendatangi rumah yang juga tempat produksi bungkus ketupat. Jika musim Lebaran tiba, bungkus ketupat hasil keterampilan tangan Basyiah juga dengan mudah ditemukan pagi hari di Pasar Peunayong, Banda Aceh.

Berbungkus bungkus ketupat mengalir ke pasar yang kemudian menjadi pengisi perut tetamu yang datang di Hari Raya. Bungkusan ketupat itu juga kerap dijadikan buah tangan penyambung silaturahmi. Mencecap kebersamaan dalam balutan tradisi.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help