Ramadhan Mubarak

Merayakan Hari Kemenangan

ALHAMDULILLAH, tanpa terasa kita sudah berada di pengujung bulan suci Ramadhan 1439 H

Merayakan Hari Kemenangan
Prof. Dr. Syahrizal Abbas, MA

Oleh Prof. Dr. Syahrizal Abbas, MA, Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

ALHAMDULILLAH, tanpa terasa kita sudah berada di pengujung bulan suci Ramadhan 1439 H. Kita hampir sebulan penuh berinteraksi dan mengisi hari-hari bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan ibadah, berupa; puasa, shalat Tarawih, membaca Alquran, berzikir, iktifaf, infak, sedekah, memberikan makan orang berpuasa, membantu fakir miskin dan berbagai ibadah sosial lainnya. Ibadah ini dilakukan kaum muslimin dalam rangka memperoleh ampunan Allah SWT dan mencari keridhaan-Nya.

Kita sadar bahwa beberapa saat lagi, bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan akan meninggalkan kaum muslimin dan kembali kepada Allah Swt dengan membawa amalan hamba-Nya. Amat beruntung, jika orang mengisi bulan Ramadhan dengan sejumlah ibadah, karena Ramadhan akan mempersembahkan amalan hamba yang berpuasa ke hadapan Allah Swt.

Sebaliknya, amat merugi kalau ada orang yang menyia-nyiakan dan membiarkan Ramadhan berlalu tanpa diisi dengan ibadah, karena Ramadhan tidak dapat mempersembahkan apa pun amalan hamba kepada Allah Swt. Oleh karena itu, pada detik-detik terakhir bulan suci Ramadhan ini, marilah kita sempurnakan ibadah kita, agar kita meraih kemenangan di hari yang fitri.

Ramadhan yang telah kita jalani selama sebulan penuh lamanya, telah meninggalkan kesan mendalam dalam sanubari setiap pribadi muslim. Ramadhan telah mengajarkan perubahan pola pikir, mental, pola sikap dan pola tindak secara mendasar dalam kehidupan sehari-hari.

Ramadhan memperkokoh keimanan, memperdalam keikhlasan, mendekatkan hamba dengan Sang Khaliq, memperkuat persaudaraan, membangun empati sosial, membangun sikap saling berbagi, mengikis kesombongan, menafikan hasad dan dengki, membersihkan sikap tamak harta dan menyucikan jiwa kaum muslim dari kotoran kemunafikan menuju jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah), bening dan sejahtera (qalb al-salim).

Pembelajaran yang ditinggalkan Ramadhan ini, harus menjadi catatan bagi setiap pribadi muslim dalam rangka mengarungi 11 bulan yang akan datang. Ketika Ramadhan meninggalkan kita, ada dua sikap yang muncul dari sanubari pribadi muslim, yaitu sikap sedih dan sikap senang-gembira. Sikap sedih muncul karena Ramadhan yang penuh rahmah, maghfirah dan itqun minan nar, meninggalkan kita. Barangkali kemuliaan, keberkahan dan keampuan Allah bagi hamba-Nya dalam bulan lain, tidak sebanding dengan yang dibawa bulan Ramadhan.

Rasulullah saw telah mengirfomasikan bahwa Ramadhan adalah bulan untuk umatku. Pada bulan inilah umat Nabi Muhammad saw meningkatkan keimanan, amal ibadah, membersihakan jiwanya menuju derajat takwa. Kesedihan juga muncul dari kekhawatiran kaum muslim tidak bisa memastikan bertemu atau tidaknya dengan Ramadhan yang akan datang. Bercermin dari realitas, bahwa banyak saudara, dan teman sejawat, yang Ramadhan tahun lalu sama-sama salat Tarawih, sama-sama ruku’, sama-sama sujud, ternyata Ramadhan tahun ini sebagian mereka telah menghadap Allah Swt. Inilah satu penyebab kesedihan kaum muslimin ketika ditinggalkan oleh bulan Ramadhan.

Sikap kedua yang ditampilkan kaum muslimin ketika berada di pengujung Ramadhan adalah sikap senang dan gembira. Sikap senang dan gembira ditunjukan sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Kaum muslimin telah berhasil menjalankan puasa, menghidupkan malam-malam Ramadhan (qiyam al-lail), tadarus Alquran, zikir, iktikaf dan berbagai ibadah sosial lainnya.

Kaum muslimin telah berusaha membersihkan jiwanya dari tamak harta, bakhil dan kikir serta menyempurnakan ibadah puasa melalui zakat fitrah. Zakat fitrah bertujuan membersihkan jiwa dan harta, membangun empati dan solidaritas sosial denga kaum fakir, miskin, dhu’afa dan orang yang memerlukan bantuan. Oleh karena itu, kaum muslimin berharap kepada Allah, agar puasa dan segala amal ibadahnya di bulan Ramadhan diterima di sisi-Nya.

Suci dari dosa
Kaum muslimin merayakan kemenangan pada hari yang fitri, didasarkan pada kesadaran bahwa ia telah berusaha membersihkan jiwanya dari noda dan dosa, terbebas dari kungkungan api neraka dan telah sempurna menjalankan segala amal ibadah di dalam bulan suci Ramadhan.

Kaum muslimin merasakan bahwa dirinya betul-betul bersih dan suci dari dosa, sebagaimana anak yang baru lahir dari kandungan ibunya. Pada hadis lain, Rasulullah saw bersabda, bahwa orang yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan penuh dengan keimanan dan ihtisab, maka Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu.

Keberhasilan dan kemenangan yang diperoleh kaum muslim setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah Ramadhan ditunjukkan dengan mengagungkan asma Allah; tahmid, tahlil, dan takbir; Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahilhamd. Ungkapan ini sebagai bentuk syukur kaum muslimin atas kesuksesannya menjalankan perintah Allah Swt dan mengikuti sunnah Rasulullah saw di bulan suci Ramadhan.

Kaum muslimin tidak merayakan kemenangannya melalui upacara dan perbuatan yang melanggar syariat Islam, seperti pemborosan, membakar mercon, pergaulan bebas muda-mudi dan lain-lain. Mari kita rayakan kemenangan ini, dengan menjalankan shalat Id Fitri, silaturrahim, dan berbagai ibadah lain yang bermanfaat.

Selamat merayakan Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbalallahu ya karim.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help