Bermegah-megahan

Hari raya Idul Fitri memberi makna berbeda-beda bagi orang-orang yang merayakannya

Bermegah-megahan
Umat muslim melaksanakan Shalat Idul Fitri. SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh: Jarjani Usman

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu hingga kamu masuk ke dalam kubur” (QS. At Takatsur: 1-2).

Hari raya Idul Fitri memberi makna berbeda-beda bagi orang-orang yang merayakannya. Banyak di antaranya merayakannya sebagai hari kemenangan setelah beribadah dan belajar giat di bulan suci Ramadhan. Namun tak sedikit di antaranya terjebak dalam lomba bermegah-megahan.

Padahal telah diingatkan dalam Alquran bahwa bermegah-megahan melalaikan akan kehidupan akhirat. Terbukti saat Idul Fitri, misalnya, karena niat ingin bermegah-megahan, tidak sedikit di antaranya berlomba menampak-nampakkan banyak harta. Termasuk di antaranya harta yang diperoleh dengan cara haram dan hasil menjual harta haram. Berangkat untuk shalat hari raya di masjid pun dengan mobil mewah haram.

Yang demikian jelas bukan mencari ridha Allah, tetapi mencari ridha setan. Allah murka kepada hamba-hambaNya yang melakukan perbuatan haram, tetapi hal itu sangat disenangi setan. Akibatnya, di saat orang lain merayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan, orang yang suka bermegah-megahan malah merayakan hari kekalahan, kehinaan, dan kemurkaan kepada Allah.

Karena itu, kita harus kembali ke jalan yang benar, sebelum masa hidup kita di dunia ini habis. Bila tidak, hidup menjadi sia-sia karena tidak ada amal yang dibawa mati, sedang dosa tak terkira.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved