Salam

Kembali Menjalani Rutinitas Keseharian dalam Kefitrian

Kita baru saja melaksanakan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh

Kembali Menjalani Rutinitas Keseharian dalam Kefitrian
SERAMBINEWS.COM/ZAINAL ARIFIN M NUR
Berbuka puasa di Plaza Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh 

Kita baru saja melaksanakan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Ibadah wajib yang merupakan pengejawantahan dari Rukun Islam ketiga itu, kita isi dengan berbagai ritual sunnah lainnya seperti Tarawih, tadarus dan tadabur Alquran, qiyamul lail, sedekah dan lain-lain. Semua ritual ini kemudian kita sempurnakan lagi dengan zakat fitrah, dan terakhir kita tutup dengan Shalat Id, serta merayakan Idul Fitri sebagai puncak kemenangan.

Bagi kita yang diterima puasanya karena mampu menundukan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadhan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan, maka Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, di mana pada hari ini Allah Swt akan memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapa pun, termasuk para Nabi dan orang-orang saleh, yaitu ridha dan magfirah-Nya, sebagai ganjaran atas amal baik yang telah dilakukannya.

Pertanyaannya, kira-kira berbagai ritual ibadah termasuk puasa yang kita laksanakan selama sebulan penuh diterima oleh Allah Swt, apa tidak? Atau yang kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, seperti yang pernah disinyalir Nabi Muhamad saw? Jawabnya, Allahu ‘alam, kita tak tahu sejatinya.

Akan tetapi menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil dalam menjalankan ibadah puasa: ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat. Ketika jiwanya makin dipenuhi hawa-keimanan. Ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana. Artinya, penghayatan mendalam atas Ramadhan akan membawa efek fantastik, individu, maupun sosial.

Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial, yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita merasakannya?

Itulah rahasia, mengapa kemudian Selamat Hari Raya Idul Fitri seringkali diakhiri dengan ucapan, Minal ‘aidîn wal faizîn (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat).

Selain sebagai doa dan harapan, ucapan itu juga bak pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan batin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa).

Oleh karena itulah, kita yang saat ini kembali menjalani ritinitas keseharian --setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan Idul Fitri-- hendaknya tetap mempertahankan sikap, perilaku dan tabiat kefitrian itu. Yaitu, tetap istiqamah memegang agama tauhid yaitu Islam, selalu berbuat dan berkata yang benar, serta selalu taat dan patuh kepada perintah-Nya.

Mudah-mudahan berkat ibadah selama bulan Ramadhan yang dilengkapi dengan menunaikan zakat fitrah, serta merayakan Idul Fitri, insya Allah kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrahnya dan mudah-mudahan bisa selalu mempertahankan kefitrahan itu dalam rutinitas keseharian, sampai akhir hayat kita.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help