Opini

Lebaran di ‘Jambo Jaga’

JAMBO jaga yang dulunya terletak di depan Meunasah, kini nyaris tak terlihat lagi

Lebaran di ‘Jambo Jaga’
Tradisi Lebaran 

Oleh Nab Bahany As

JAMBO jaga yang dulunya terletak di depan Meunasah, kini nyaris tak terlihat lagi. Jambo itu sudah puluhan tahun difungsikan warga kampung sebagai ajang tempat berkumpul setelah mereka melakukan aktivitas sehari-hari, hingga lantai jambo yang terbuat dari pohon pinang tua itu tampak berkilat dan licin, karena tiap saat diduduki dan dipenuhi warga kampung.

Bila bulan puasa volume fungsi jambo itu pun meningkat, karena banyak warga yang memanfaatkannya sebagai tempat istirahat, atau sekadar nimbrung sesama warga sambil menunggu waktu berbuka bersama di Meunasah dengan bubur kanji yang sudah menjadi tradisinya. Terlebih pada saat beberapa hari menjelang hari raya, jambo jaga itu bertambah ramai, karena banyak warga kampung yang merantau pulang ke kampung untuk berhari raya bersama keluarganya yang terkadang sudah bertahun-tahun di tinggalkan.

Warga kampung yang merantau ini, terkadang ada yang pulang setahun sekali, ada yang dua, tiga atau lima tahun sekali, bahkan ada yang sudah selama ia merantau baru sekali ini pulang kampung halaman untuk berhari raya bersama orang tua dan sanak saudaranya.

Bagi yang bernasib baik di perantauan, tentu mereka ada yang pulang dengan “memperlihatkan” kemewahannya pada orang kampung, bahwa ia sudah sukses hidup di perantauan. Kenderaan mewah dan gaya hidup menjadi andalan keberhasilannya yang “dipamerkan” pada orang kampung. Namun ada juga yang pulang dengan apa adanya, yang penting mereka bisa berhari raya di kampung halaman. Ini memang sangat tergantung pada status sosial ekonomi mereka yang hidup di perantauan.

Tapi yang menarik bukan soal mewah atau tidaknya bagi mereka yang pulang kampung pada hari raya, melainkan ada nilai-nilai yang berubah dalam masyarakat kita terkait fungsi “jambo jaga” tadi pada saat-saat suasana lebaran di kampung halaman.

Dulu, tiap orang yang pulang dari rantau berhari raya di kampung halaman, mereka selalu berkumpul di jambo jaga membagikan pengalamannya bagi waraga kampung, bagaimana suka duka hidup di rantau hingga kemudian ia berhasil dalam suatu usaha atau jenjang karir yang dicita-citakan. Warga kampung juga sangat serius mendengar kisah pengalaman yang diceritakan oleh orang yang pulang dari rantau, terutama bagi anak-anak muda yang juga ingin mencoba merantau, mencari penghidupan baru di negeri orang.

Menimbulkan motivasi
Pengalaman yang diceritakan di jambo jaga oleh orang yang pulang dari rantau --berhari raya di kampung halaman-- makin menimbulkan motivasi anak muda kampung untuk pergi mengadu nasib di rantau orang. Maka tak heran, kalau sehabis lebaran banyak anak muda yang meninggalkan kampung halamannya merantau ke kota-kota tempat tinggal orang kampungnya yang sudah menetap di kota tersebut. Malah ada di antara mereka yang hidup di rantau, begitu ia kembali ke tempat perantauannya sehabis hari raya, mereka sekaligus membawa serta dua atau tiga orang teman atau saudara sekampungnya untuk diajarkan bagaiman mencari rezeki di rantau orang. Dalam hal ini urbanisasi sehabis lebaran tak dapat dihindari.

Nuansa itu nyaris tak lagi ditemukan dalam tradisi pulang kampung pada hari raya. Mereka yang pulang dari rantau tak sempat lagi bercengkarama dengan teman-teman sepermainan dulu di “jambo jaga”. Apalagi bila status sosisal teman-teman sepermainan di kampung dulu tidak seberhasil mereka yang pulang dari rantau. Maka rasa mulia dan rasa hormat pun berubah menurut status sosial yang disandangnya. Sehingga ungkapan lama, mulia sabe kaya, meujeut-juet sabe gasien suatu ungkapan yang tak terelakkan dalam pola hidup hari ini.

Maka kehilangan jambo jaga di depan Menasah kami sebagai simbol kebersamaan sekaligus telah melunturkan nilai-nilai tradisi sosial yang pernah ada di kampung dulu. Semua warga kini lebih memilih berkumpul di warung kopi yang dibangun di persimpangan-persimpangan gampong sambil nonton televisi yang dipantulkan lewat layar fokus.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved