Danau Lut Tawar, ‘Oase’ dari Tanah Gayo

Aceh, tempat Matahari tenggelam di ujung Pulau Sumatera ini terus memancarkan pesona untuk menggoda wisatawan lokal

Danau Lut Tawar, ‘Oase’ dari Tanah Gayo
SERAMBINEWS.COM
Danau Lut Tawar 

Aceh, tempat Matahari tenggelam di ujung Pulau Sumatera ini terus memancarkan pesona untuk menggoda wisatawan lokal, nasional maupun asing untuk datang. Salah satunya, ‘Negeri di Atas Awan’ Dataran Tinggi Gayo, menyuguhkan panorama yang tak kalah menakjubkan dengan kawasan wisata lainnya di Aceh.

Daerah yang juga dikenal sebagai penghasil kopi ini menyuguhkan hamparan alam nan-hijau yang membuat mata enggan terpejam. Ya, kopi Arabika Gayo telah lebih dulu bergema sebelum kebanyakan orang mengenal Dataran Tinggi Gayo sendiri.

Kawasan ini melingkupi ‘tiga bersaudara’ bertetangga, dengan saudara tua Kabupaten Aceh Tengah dan dua ‘adik muda’ Gayo Lues yang masih berusia 16 tahun dan Bener Meriah berusia 14 tahun. Tempat di mana seni tradisional demikian hidup dalam sendi-sendi kehidupan warganya.

Membelah deretan Bukit Barisan, Danau Lut Tawar tak ubahnya ‘oase’ yang menawarkan ketenangan. Merasakan sensasi lebih dekat dengan alam yang mendamaikan jiwa dan menenteramkan pikiran. Inilah primadona wisata Dataran Tinggi Gayo.

“Tiap tahun, pas lebaran memang ke Takengon. Agak jauh memang, tapi nggak pernah bosan,” ujar perempuan yang akrab disapa Khallati ini sumringah di pinggiran Danau Lut Tawar.

Serambi yang menyambangi Danau Lut Tawar pada Minggu (17/6) melihat pengunjung mengalir ke destinasi wisata andalan Aceh Tengah itu. Kebanyakan mereka rombongan keluarga yang berpiknik di pinggir danau. Jejeran bukit yang memagari Lut Tawar menyegarkan mata dan riak air yang bergemericik mengantarkan kesejukan.

Hembusan semilir angin terasa melenakan, sehingga berada di sini membuat waktu seakan cepat berputar. Ada banyak jalan menuju kemari. Tapi yang pasti, butuh perjuangan ekstra untuk bisa menjejakkan kaki di tempat ini. Konon lagi jika musim libur lebaran tiba.

Jika meluncur dari jalan eks KKA dari Aceh Utara, maka butuh waktu sekitar 3 jam dan jalur alternatif ini bisa memangkas jarak tempuh bagi warga Lhokseumawe. Sebelumnya harus melaju dari Bireuen dengan jarak tempuh lebih lama.

Namun kendaraan yang mengular di beberapa titik, membuat kendaraan hanya bisa merayap. Di sisi lain, kondisi jalan yang mulus teraspal, ditambah kesejukan dari hijaunya pepohonan di sisi kiri dan kanan badan jalan membuat perjalanan tetap menyenangkan saat akan meluncur ke Danau Lut Tawar.

Ada banyak sudut yang bisa disinggahi untuk menikmati keelokan paras Danau Lut Dawar. Hotel Renggali yang berada tepat di bibir danau merupakan penginapan tertua di kota dingin itu dan bisa menjadi pilihan. Jangan khawatir, meskipun tak menginap, pihak pengelola tetap membolehkan wisatawan masuk.

Anda hanya perlu membayar tiket parkir Rp 20 ribu bagi kendaraan roda empat, maka sudah bisa mengeksplor sudut-sudut destinasi andalan Aceh Tengah ini. Keramba-keramba milik warga setempat menyusup mengisi pinggiran Lut Tawar dan yang ingin menyantap makan siang, maka ada cafe yang menyuguhkan ikan-ikan dari keramba tersebut, khususnya ikan depik yang hanya ada di danau.

Dari kejauhan, perumahan warga, tampak dari kejauhan tak ubahnya seperti noktah. Dipagari petak-petak hamparan sawah, yang lagi-lagi membuat tertegun. Tetapi, riak air danau yang demikian tenang saat diterpa langit cerah berawan, menyihir mata yang memandang. Siapkan kamera dan abadikan setiap jengkal keindahan paras Danau Lut Tawar.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved