Kupi Beungoh

Ustaz Ilyas Abed, Pria Seribu Rahasia GAM

Ustaz Ilyas Abed ikut tertawa, seakan tak peduli dengan gagasan Pak Adli dan Prof Humam untuk menulis bukunya dengan judul 'rahasia atas rahasia'.

Ustaz Ilyas Abed, Pria Seribu Rahasia GAM
IST
Direktur Bandar Publishing Banda Aceh, Mukhlisuddin Ilyas. 

Oleh: Mukhlisuddin Ilyas*)

SENIN setelah zuhur Senin (18/6/2018), kami berkunjung ke seunujoh (tujuh hari) meninggalnya ibu kandung dari Prof Humam Hamid, Farhan Hamid, dan Muntasir Hamid.

Kami datang ke seunujoh berempat dengan mobil Avanza, Ustaz Ilyas Abed, Pak Ali, dan Pak M Adli Abdullah. Saya dijemput di kampung sekitar 4 Km dari rumah almarhumah, sedangkan yang lain datang dari Banda Aceh.

Tiba rumah almarhumah, kami disambut ketiga anaknya, Prof Humam, Pak Farhan dan Pak Muntasir.

Di lokasi sudah ada Abuwa saya yang tinggal di Mideun Geudong, Tu Abbas. Saya cium tangannya karena kali ini saya telat berlebaran di Samalanga. Saya belum sempat ke rumah Abuwa Tu Abbas, setelah lebaran pertama dan kedua menghabiskan waktu di Lhokseumawe.

Abuwa Tu Abbas sedang serius terlibat pembicaraan dengan pensiunan Bank Aceh Rusdy Hamid. Pak Rusdy Hamid pernah menjadi ketua Himpunan Masyarakat Samalanga (HIMSA) Banda Aceh. Saya juga pernah aktif di HIMSA sebelumnya. Beberapa meter di samping Abuwa saya, duduk Tu Bulqaini, saya datang dan salaman lebaran Idul Fitri.

Ilyas Abed
Ilyas Abed (DOK SERAMBINEWS.COM)

Prof Humam mengambil inisiatif, supaya kami berempat langsung makan di dapur. Dapur dalam khanduri seunujoh (kenduri tujuh hari) biasanya penuh dengan laki-laki.

Di Samalanga dan di Aceh umumnya, khanduri seperti itu dapurnya 'dikuasai' oleh para laki-laki, terutama untuk masakan kuah dalica, kuah boh labu dan jenis kuah lainnya.

Penguasa dalam rumah tetap perempuan, laki-laki hanya berkuasa di depan dan dapur. Pak Muntasir sendiri duduk di teras sambil berbicara dengan tetamu lainnya.

Di dapur, semuanya bebas dibahas. Termasuk beberapa rahasia dapur publik. Kami makan tidak dihidang, kami bebas ambil dan makan. Sambil didampingi oleh Prof Humam. Saya sendiri malu ambil daging yang banyak, karena inilah pertama kali secara face to face dapat berinteraksi dengannya. Dengan cekatan, Prof Humam ambil centong untuk menambah otot daging dan isinya ke piring yang saya pegang.

Halaman
1234
Editor: Safriadi Syahbuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help