Opini

Beramal tanpa Batas

SETELAH Ramadhan meninggalkan kita, bukan berarti telah berakhir pula ketakwaan kita kepada Allah Swt

Beramal tanpa Batas
getty images
Ilustrasi seorang pemuda sedang membaca Alquran. 

Oleh Abd. Halim Mubary

SETELAH Ramadhan meninggalkan kita, bukan berarti telah berakhir pula ketakwaan kita kepada Allah Swt. Namun justru kita dituntut untuk membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan kita, dengan tetap mempertahankan semangat nilai ibadah dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Memang terasa sulit mempertahankan sesuatu yang telah kita raih, ibarat atlEt peraih medali dalam satu pertandingan, terasa berat untuk mempertahankan prestasi yang telah direngkuhnya itu, karena semakin banyak saingan yang bermunculan.

Sama halnya dengan mempertahankan amaliah kita yang kerap kembali ternoda setelah Ramadhan. Sebab rutinitas kembali melayari hari-hari kita. Di sana ada kejenuhan, tekanan, dan suasana yang berbeda. Sikap disiplin selama Ramadhan pun terkadang memudar. Syahdunya beribadah terusik dengan beragam kesibukan yang menyita waktu. Sehingga shalat malam pun banyak yang ditinggalkan. Termasuk amal-amal ibadah lainnya semisal bersedekah, infak, dan aksi sosial lainnya yang kian tergerus.

Memelihara ibadah
Allah Swt memberikan kita 12 bulan dalam setahun. Dan setiap hari Sang Khalik memberikan kita kesempatan untuk memperbanyak kualitas dan kuantitas amal ibadah kita tanpa harus memandang hari dan bulan apa yang kita lalui. Sebab di setiap nafas berdenyut dan pada setiap nadi berdetak, di sanalah terhampar kesempatan untuk meraih pahala-Nya. Memang benar Allah menciptakan hari dan bulan terbaik, seperti hari Jumat dan bulan Ramadhan. Namun bukan berarti di luar hari dan bulan itu, kita harus mengendurkan semangat dalam beribadah. Justru yang terbaik adalah perlu kiranya kita terus menjaga dan mempertahankan nilai ibadah yang sudah kita bangun di bulan Ramadhan. Sebagai wujud cinta kita kepada perintah Allah, makanya kita perlu memelihara dan mempertahankan nilai ibadah kita sama seperti di bulan Ramadhan. Ada sejumlah parameter sebagai yang kita perlu cermati.

Pertama, dalam menggapai keridhaan dan ampunan Allah di mana fitrah yang telah kita raih, bisa membawa kita untuk menjaga amal ibadah kita di bulan Ramadhan. Karena pada dasarnya fitrah kita sebagai manusia ada dua, sebagaimana firman Allah, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams: 8-10).

Terdapat dua karakter dalam jiwa manusia: potensi berbuat dosa dan di saat bersamaan memiliki juga potensi ketakwaan. Kedua potensi tersebut aktif dalam diri masing-masing. Yang artinya bahwa orang-orang yang sudah terbiasa melakukan perbuatan takwa, semisal akrab dengan masjid, senantiasa tilawah Alquran dan perbuatan saleh lainnya, tetap saja orang tersebut masih memiliki potensi untuk bisa berbuat dosa.

Seseorang akan merasakan pertentangan dengan karakter kefitrahannya. Namun semakin seseorang terus melakukan perbuatan tersebut, maka rasa bersalah itu perlahan akan memudar, dan ia lama kelamaan akan terbiasa melakukannya. Bahkan jika tidak berbuat maksiat lagi, justru ia akan merasa gelisah dan sisi negatif tadi akan terus mendoronganya. Allah Swt berfirman, “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. al-Baqarah: 7).

Kedua, setiap kita tidak terlepas dari perbuatan dosa tanpa terkecuali. Bahkan sekecil apapun perbuatan dosa itu, bisa dari mata, telinga, lisan, tangan, kaki maupun hati kita. Oleh karena-nya konsep orang muttaqin adalah bukan orang yang tidak pernah berbuat dosa dan kesalahan. Dalam Alquran dikatakan bahwa orang muttaqin manakala berbuat sebuah dosa, maka ia kemudian mengingat Allah dengan memohon ampunan-Nya dan sebisa mungkin tidak mengulangi lagi perbuatannya atau dengan melakukan tobat nashuha.

Ketiga, sebagai manusia adakalanya seseorang sering terjerembab pada godaan dan hawa nafsu yang ada dalam dirinya. Ajakan berbuat kesalahan dan dosa bisa ada di mana saja dan kapanpun. Lihatlah bagimanaa seorang Zulaikha sampai tergoda dengan ketampanan Nabi Yusuf. Itulah tipu daya setan yang ada dalam diri manusia. Maka untuk menanggulangi tipu daya setan, kita senantiasa harus berlindung kepada Allah Swt. “Barang siapa yang berpaling dari dzikir kepada yang Maha Pemurah, kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az Zkhruf 36:).

Seyogyanya kita tetap berada dalam perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dalam keadaan bagaimanapun. Sehingga kita tidak mudah terbujuk oleh rayuan setan. Sebab setelah Ramadhan berlalu, setan akan kembali bergentayangan untuk menggoda manusia. Untuk itu mari menjaga dan merawat apa yang telah kita bangun pada bulan Ramadhan. Apakah kita tetap masih istiqamah dan tawadhu’ seperti yang kita perlihatkan dan lakukan selama Ramadhan? Dengan menanggalkan segala bentuk kesombongan dan sifat riya dan tetap ringan tangan dalam membantu sesama.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help