DPO Kasus Tambang Emas Menyerah ke Polisi

Dua warga Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, Dermawan (44) dan Thahir (34) yang namanya dimasukkan

DPO Kasus Tambang Emas Menyerah ke Polisi
KAPOLRES Aceh Barat AKBP Raden Bobby Aria Prakasa (kiri) memperlihatkan dua tersangka DPO (daftar pencarian orang) terlibat kasus tambang emas asal Kecamatan Pante Ceureumen yang menyerahkan diri ke polisi, Kamis (21/6). 

MEULABOH - Dua warga Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, Dermawan (44) dan Thahir (34) yang namanya dimasukkan Polres Aceh Barat ke dalam daftar pencarian orang (DPO) akhirnya menyerahkan diri medio Juni lalu. Keduanya ditetapkan DPO sejak Februari 2018 dalam kasus tambang emas ilegal di pedalaman Kecamatan Pante Ceureumen.

Penyerahan diri dua DPO Polres Aceh Barat itu diungkapkan Kapolres Aceh Barat dalam konferensi pers di mapolres setempat, Kamis (21/6). Dalam acara itu Kapolres AKBP Raden Bobby Aria Prakasa didampingi Kabag Ops Kompol Aditya dan KBO Reskrim Ipda P Pangabean.

Menurut Kapolres, tersangka Dermawan menyerahkan diri pada 14 Juni, sedangkan Thahir menyerah pada 17 Juni lalu. Sebelumnya polisi sudah mencari mereka, termasuk berkoordinasi dengan pihak keluarga dan aparat desa, dengan harapan kedua tersangka segera menyerahkan diri karena kasus tersebut tetap akan diproses secara hukum.

Menurut Kapolres, barang bukti dalam kasus ini berupa dua unit beko (ekskavator) sudah diamankan sejak Februari 2018 di Mapolsek Pante Ceureumen. Beko itu disita tim Polres Aceh Barat saat melakukan penggerebekan–melalui operasi khusus–di lokasi areal tambang emas ilegal yang berada di pedalaman Aceh Barat.

“Dalam kasus ini yang terlibat dua orang. Keduanya sudah menyerahkan diri,” kata Kapolres Raden Bobby sembari menyatakan bahwa kedua tersangka dijerat dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberatasan Perusakan Hutan.

Pelaku terancam pidana kurungan paling singkat tiga tahun dan paling lama 15 tahun serta denda paling sedikit Rp 1,5 miliar dan paling banyak Rp 10 miliar.

Di akhir konferensi pers itu, Kapolres Aceh Barat kembali mengimbau warga untuk tidak melakukan lagi penambangan emas secara ilegal, apalagi di kawasan hutan. Pihaknya akan terus melakukan penertiban di pedalaman Kecamatan Pante Ceureumen dan Sungaimas. “Dari laporan kita peroleh sementara aktivitas tambang emas ilegal sudah berhenti. Kita juga meminta masyarakat melapor apabila ada segera kita tindak,” demikian Kapolres Aceh Barat.

Sementara itu, kasus berbeda tapi terkait juga dengan tambang emas ilegal yang ditangani Polda Aceh dengan dua tersangka asal Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, KF (20) dan HI (38) sudah dilimpahkan ke Kejari Aceh Barat pekan lalu.

Kasus tersebut diungkap Polda Aceh pada Maret 2018 dengan menyita dua beko dan emas 100,5 gram. “Kasus itu segera kita limpahkan ke Pengadilan Negeri Meulaboh disidangkan,” kata Kajari Aceh Barat Ahmad Sahruddin melalui Jaksa Penuntut Umum, Dedek Sumartha Suir kepada Serambi, Kamis kemarin.

Seperti diketahui, Polda Aceh bersama Polres Aceh Barat membekuk 14 warga di pedalaman Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, pada Maret 2018. Warga tersebut selanjutnya diboyong ke Polda Aceh bersama beko serta emas 100,5 gram.

Dari pemeriksaan dua yang ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan yang lain dikembalikan kepada keluarganya. Polda Aceh juga menetapkan seorang DPO berinsial ZR yang merupakan warga Aceh Barat. (riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved