Me-repair Telinga, Mata, dan Hati

DI antara sekian banyak catatan tentang Ramadhan yang baru saja kita jalani, imsak merupakan satu cacatan urgen

Me-repair Telinga, Mata, dan Hati
Umat Islam melaksanakan shalat tarawih pada malam pertama buan suci Ramadhan 1439 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman. SERAMBI/M ANSHAR 

Oleh Azwardi

DI antara sekian banyak catatan tentang Ramadhan yang baru saja kita jalani, imsak merupakan satu cacatan urgen untuk ditelaah. Demikian urai seorang ulama pada sebuah mimbar. Imsak adalah menahan diri dari makan, minum, jimak, dan segala hal yang dapat membatalkan (ain; fisik) puasanya, mulai dari terbit fajar sampai dengan terbenam matahari.

Lebih dari itu, juga tidak melakukan segala hal yang dapat membatalkan ruh atau hakikat atau pahala puasanya; menahan diri dari melakukan segala hal yang tidak diridai Allah sepanjang hari dan malam. Memelihara telinga, mata, hati, dan anggota tubuh lainnya dari melakukan sesuatu yang tidak diridai Allah Swt merupakan antara lain ruh; hakikat puasa yang wajib dipelihara.

Berdasarkan perspektif linguistik (ilmu bahasa), apa yang terekam dalam memori manusia sebagai hasil dari menyimak akan terkenang dalam waktu yang relatif lama. Terkait dengan teori ini, seorang ulama mengatakan bahwa dampak dari apa yang didengar atau terdengar (masuk ke dalam telinga) manusia lebih membekas daripada apa yang dimakan atau termakan (masuk ke dalam perut).

Sebagai analogi, orang yang hanya mendengar orang yang mengupat memperoleh dosa teramat besar. Sebaliknya, orang yang mendengar orang yang mengaji, membaca Alquran akan memperoleh pahala yang sangat besar. Akan tetapi, orang yang hanya melihat orang yang makan tidak akan membuat orang itu kenyang. Konsekuensi bagi orang yang suka mendengar orang yang mengupat misalnya, di hari kiamat nanti ke dalam lubang telinganya akan dituangkan cairan timah panas yang mendidih.

Indera pendengaran
Berkaitan dengan indera pendengar ini perlu kita bongkar untuk mengetahui sejauh mana efesiensi penggunaannya selama ini. Berapa persenkah audio kita ini terpakai untuk mengimput data yang diridai dan yang dimurkai Allah? Berapa lamakah durasi telinga kita singetkan untuk menyimak pembacaan Alquran; penyampaian dakwah islamiyah dan untuk menguping cerita upat atau berita maksiat atau sekadar dengarin musik barat? Adakah telinga kita ini menjadi telinga yang senantiasa terpelihara dari desas-desus suara yang haram, mendengar seruan-seruan Allah?

Mungkin saban hari, setiap saat, dan di sembarang tempat telinga ini selalu kita manjakan dengan asupan suara-suara ‘liar’ yang menghibur. Bukankah hal itu termasuk ke dalam pekerjaan sia-sia yang tidak diridai Allah? Di dalam HP, gawai, di dalam laptop, di dalam mobil, dan di dalam rumah mungkin kita sangat akrap dengan suara-suara musik atau syair dari berbagai penjuru sebagai halua geulinyueng.

Kemudian, terkait dengan penglihatan, dampak dari apa yang dilihat atau terlihat (masuk dan mengendap ke dalam hati) lebih membekas daripada apa yang didengar dan dimakan. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti semua mata akan menangis, kecuali tiga mata, yaitu: Pertama, mata yang senantiasa terpejam (terpelihara) dari pandangan yang haram; Kedua, mata yang senantiasa melek (terjaga) untuk beribadah kepada Allah, dan; Ketiga, mata yang senantiasa sembab (menangis) karena menyesali dosa dan takut akan azab Allah.

Berhubungan dengaan indera penglihat ini perlu kita periksa untuk mendeteksi sejauh mana efektivitas pemakaiannya selama ini. Berapa persenkah visual kita ini tergunakan untuk mengamati objek-objek yang diridai dan yang dimurkai Allah. Berapa lamakah frekuensi mata ini kita arahkan untuk melihat ayat-ayat Allah; berubudiah kepada-Nya dan menyorot pengumbar aurat atau sekadar tontonin film timur. Adakah mata kita ini menjadi mata yang senantiasa terpelihara dari pandangan yang haram, mata yang senantiasa terjaga untuk beribadah kepada Allah, mata yang senantiasa menangis karena menyesali dosa dan takut akan azab Allah yang amat pedih?

Mungkin saban hari, setiap saat, dan di sembarang tempat mata ini selalu kita arahkan untuk memelototi objek-objek terlarang yang berseleweran di sekitar kita dengan dalih sekadar cuci mata; menghibur jiwa. Bukankah hal tersebut juga termasuk ke dalam perbuatan sia-sia yang tidak diridai Allah. Di layar kaca, di alam maya, di ruang terbuka, dan di mana saja mungkin kita sangat akrab dengan sajian-sajian visual seronok yang mengusik saraf birahi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help