Warga Pidie Meninggal di Air Terjun Ie Rhop

Mahdi M Jamil (33), warga Desa Gampong Neulop Dua Gapuy, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie

Warga Pidie Meninggal di Air Terjun Ie Rhop
AKBP Riza Yulianto SE SH,Kapolres Bireuen

BIREUEN - Mahdi M Jamil (33), warga Desa Gampong Neulop Dua Gapuy, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie, yang hilang di kawasan objek wisata air terjun Desa Ie Rhop, Simpang Mamplam Bireuen, Rabu (20/6) sore ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di objek wisata pada pukul 09.45 WIB, Kamis (21/6).

Informasi yang diperoleh Serambi, awalnya korban bersama beberapa temannya mandi di air terjun tingkat dua tersebut. Setelah sampai di lokasi, tiga orang temannya melompat ke air. Begitu juga dengan Mahdi. Namun, naas baginya. Ketika yang lain muncul ke permukaan, Mahdi justru tak muncul-muncul. Kondisi ini membuat rekannya panik. Sebagian mereka segera turun ke bawah meminta pertolongan.

Kalak BPBD Bireuen, M Nasir SP MSM mengatakan, ketika berjumpa dengan pengunjung lain, mereka menceritakan kronologis dan menelpon sejumlah temannya di Pidie dan BPBD Bireuen. Sekira pukul 21.30 tim dari berbagai kelompok berangkat ke lokasi yang berjarak sekitar 20 km arah selatan jalan Banda Aceh Medan dari simpang Ie Rhop.

Anggota Tim Reaksi Cepat bergabung dengan tim Pos Sar Bireuen dan tim kecamatan dari Koamil dan Polsek Samalanga untuk melaksanakan pencarian korban. Keluarga korban dan puluhan warga ikut mencari korban. Usaha pencarian membuahkan hasil. Korban ditemukan meninggal dunia, tenggelam di lokasi air terjun tempat jatuh korban, Kamis (21/6). Korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke Puskesmas Simpang Mamplam. Setelah divisum segera dibawa pulang ke rumah duka di Pidie.

Objek wisata air terjun di Desa Ie Rhop, Simpang Mamplam, Bireuen, berjarak sekitar 20 kilometer lebih dari jalan nasional Banda Aceh-Medan. Harus melalui hutan belantara, kendaraan tidak bisa tembus ke lokasi tersebut.

Kapolres Bireuen AKBP Riza Yulianto SE SH melalui Kapolsek Samalanga, Iptu Rifki Muslim SH kepada Serambi, Kamis (21/6) mengatakan, sulitnya tim bergerak ke lokasi selain jaraknya mencapai 20 kilometer lebih, juga harus berjalan kaki dua jam lebih dari Desa Ie Rhop. “Kami dapat laporan sekitar pukul 20.00 WIB, tim dari Polsek dan lainnya bergerak ke sana. Roda empat harus parkir jauh dari lokasi, kemudian naik sepeda motor juga tidak bisa tembus ke lokasi itu. Tim berjalan kaki dan baru tiba menjelang pukul 23.00 WIB dan tidak bisa dilakukan pencarian karena gelap,” ujar Kapolsek.

Di lokasi saat tim tiba sudah ada keluarga korban dan puluhan masyarakat yang tidak bisa berbuat banyak karena hari gelap. Akhirnya, masyarakat bersama tim mulai dari Basarnas, Polsek, Koramil, melakukan pencarian. Mereka menemukan korban sudah meninggal di lokasi tempat jatuhnya korban.

Informasi dari masyarakat dan teman korban, saat itu beberapa rekannya melompat dan ada yang selfi. “Ada yang lompat ke kiri, kanan, dan tengah lokasi air terjun. Terakhir korban ikut lompat dan informasinya tidak bisa berenang. Saat ditemukan tersangkut di ranting kayu pada lokasi tersebut,” ujarnya.

Diduga karena korban tidak bisa berenang dan baju tersangkut dahan kayu yang ada di tempat jatuhnya air terjun, sehingga korban tidak muncul lagi. Dengan kejadian tersebut diharapkan kepada masyarakat yang mengunjungi objek wisata tersebut harus melapor ke warga setempat. Kemudian harus kembali paling lambat sebelum waktu Ashar, karena kawasan itu hutan belantara, cepat gelap, dan jauh dari jalan negara.(yus)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved