Citizen Reporter

Pesona Masjid Tertua di Afrika

MASJID merupakan salah satu simbol yang paling menonjol dalam Islam. Ia dibangun bukan untuk memperindah

Pesona Masjid Tertua di Afrika
M RIZKI AZMI ALAMUDDIN

OLEH M RIZKI AZMI ALAMUDDIN, alumnus MAS Ummul Ayman Samalanga, sedang magang di Markaz Syeikh Zayed Al Azhar Asyarif, melaporkan dari Kairo, Mesir

MASJID merupakan salah satu simbol yang paling menonjol dalam Islam. Ia dibangun bukan untuk memperindah pandangan atau sekadar untuk dikenang, bukan pula dimaksudkan sebagai museum pada masa depan. Bagi umat Islam, masjid--meminjam istilah Rusmir Mahmutcehajic--adalah heart of submission. Ia tempat berserah diri dan tunduk kepada Allah, Zat yang indah nan agung yang tak bisa dibayangkan oleh akal dan diangankan oleh khayal.

Di Mesir, tempat sekarang saya berada, masjid bukanlah sekadar tempat supranatural dalam kehidupan. Ia bahkan menjadi sentra bagi kemajuan dalam dunia pendidikan karena di sini diadakan kegiatan belajar-mengajar. Salah satu masjid yang sampai sekarang difungsikan seperti itu di Mesir adalah Masjid Amru bin Ash.

Gubernur Amru bin Ash membuka Mesir dan membangun Kota Fusthats sebagai ibu kota Islam pertama di Mesir pada 1 Muharam 20 Hijriah, bertepatan dengan 8 November 641 Masehi.

Masjid ini pertama kali dibangun pada 21 Hijriah atau pada tahun 641 Masehi oleh Amru bin Ash setelah menaklukkan Kota Mesir. Ia mengambil simbolik pembangunan masjid ini dari Rasulullah saw yang ketika hijrah ke Madinah membangun Masjid Nabawi.

Pada awal pembagunannya, Masjid Amru bin Ash ini didirikan di atas tanah seluas 1.500 m2 dan hanya mempunyai enam pintu, berdindingkan batu bata, atapnya dari pelepah kurma. Tapi setelah mengalami beberpa kali renovasi dari tahun 762 Masehi masjid ini menjadi semakin kokoh dan luas di bawah kekuasaan Sulthan Salahuddin Al-Ayyubi yang digunakan hingga saat ini, jauh sebelum adanya Universitas Al Azhar Assyarief, Masjid Amru bin Ash ini telah menjadi pusat belajar ilmu agama bagi muslim benua Afrika. Para pengajarnya terdiri atas sahabat Rasulullah saw, di antaranya Abdullah bin Amru bin Ash, Abdullah bin Umar bin Khattab, dan Azzubair bin Al Awwam ridhwanullahi alaihim.

Di masjid agung ini pula dulu imam besar salah satu pendiri mazhab yang empat, yakni Imam Syafi’i , mengajarkan ilmunya. Kemudian, pada masa Dinasti Fatmiyah berkuasa kilatan lapisan mosaik dan marmer mulai menghiasi bagian dalam masjid ini. Restorasi terakhir dilakukan pada masa pemerintahan Murad Bey dari Dinasti Ustmani (1797 M) dengan tujuan yang sama, yakni untuk perluasan sehinga masjid ini menjadi sangat luas dibanding semua masjid lainnya di Kairo.

Masjid ini juga mendapat julukan Taj al Jawami’, yaitu Mahkota Masjid-masjid. Selain sebagai masjid tertua keempat di dunia setelah Masjid Nabawi, Masjid Bashrah, dan Kufah, Masjid Amru bin Ash menjadi mesjid tertua di benua Afrika. Untuk diketahui, sebagian besar wilayah Mesir itu berada di Afrika, sebagian lainnya di Asia. Namun, meski berbahasa Arab, Mesir dikelompokkan ke dalam negara-negara Afrika.

Di tengah-tengah bagunan masjid ini terdapat kubah warna kuning yang merupakan tempat minum bagi jamaah. Halaman tengahnya dibiarkan terbuka tanpa hamparan karpet merah sebagai sajadah.

Masjid ini juga dikenal karena kebersihannya yang sangat terjaga sehingga tidak heran apabila masjid ini menjadi tempat wisata utama Kota Kairo. Area tempat ini berdekatan dengan situs Mar Girgis ataupun Gereja St George (hanya berjarak sekitar 200 meter) sehingga kawasan ini harus dijaga ketat oleh mabahist.

Memasuki pelataran Masjid Amru bin Ash pengunjung akan disambut ramah oleh cicit suara burung. Kawanan unggas itu berloncatan di langit-langit masjid, menukik tajam, lalu terbang menerobos ventilasi dinding masjid. Mereka menjadikan lampu-lampu gantung sebagai sarangnya. Mungkin karena tak ada lagi hutan atau semak belukar di negeri ini sehinga burung-burung itu memilih langit-langit masjid sebagai habitat barunya.

Di dalam masjid disediakan bangku-bangku panjang bagi jamaah yang membutuhkannya. Sepanjang hari masjid ini tak pernah sepi dari pengunjung, baik yang sekadar datang untuk menunaikan shalat atau pun seperti yang dilakukan turis asing nonmuslim, datang lalu pergi lagi.

Pada hari-hari biasa masjid ini juga digunakan sebagai tempat talaki (belajar langsung dari ulama besar atau syekh) bagi masyaikh Al Azhar Assyarief. Banyak juga dari mahasiswa asing Al Azhar menjadikan tempat ini sebagai tempat menghafal Alquran karena tempatnya sangat nyaman meski terletak di tengah-tengah keramaian.

Namun, pemandangan berbeda akan didapati pada bulan Ramadhan, di mana ribuan jamaah, baik dari Kairo maupun dari luar Provinsi Kairo, akan berbondong-bondong memadati Masjid Amru bin Ash. Mereka bahkan rela tidur di tenda-tenda yang didirikan di luar masjid hanya untuk mendapatkan saf paling depan dalam shalat dan acara khatam Quran yang biasanya diimami oleh Syekh Muhammad Jibriel (imam dan qari terkenal di Mesir). Ribuan orang rela bedesakan untuk shalat bersamanya sambil mendengar lantunan Ilahi dan doa.

Saking banyaknya jamaah yang ingin shalat di masjid bersejarah ini, jika Anda ingin shalat di saf paling depan maka harus datang pukul 2 siang sakalian itikaf. Jika beruntung, insyaallah Anda akan dapat mendengarkan suara indah Syekh Jibriel, imam terbaik Mesir.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved