Opini

Nonton Sepakbola Sepanjang Syawal

SETELAH takbiran Idul Fitri 1439 Hijriah, Kamis (14 Juni 2018), umat Islam kembali dininabobokan oleh si kulit bundar

Nonton Sepakbola Sepanjang Syawal
FIFA.COM

Oleh Muhammad Yakub Yahya

SETELAH takbiran Idul Fitri 1439 Hijriah, Kamis (14 Juni 2018), umat Islam kembali dininabobokan oleh si kulit bundar, bola kaki. Saat peluit ditiupkan wasit pukul 22.00 WIB, sesi upacara pembukaan yang amat meriah, baru saja berlangsung (sore dalam waktu setempat). Saat pembukaan, pesta kembang api, tarian oleh 500 penari dan penyanyi di Eropa Timur sana, bulan suci Ramadhan 1439 H berakhir, meninggalkan kita. Kali ini, selama perjamuan lebaran kita, mungkin juga tema silaturrahim kita adalah bola. Sepanjang Syawal, nonton sepakbola, hingga Zulkidah.

Ramadhan, Syawal, atau setelahnya, genderang perang di lapangan hijau rutin. Saat Piala Dunia 2014, 2010, dan 2006, 2002, 1998, 1994 dan sebelumnya, sama saja. Orang Aceh raheung dan sangak --istilah untuk penjual, tanpa bawa barang; istilah pembeli tanpa bawa duit. Reunggi --tersipu dungu-- depan televisi, diselingi iklan kacang. Usai tsunami, 2006, hingga sekarang orang kita nonton di café dan warung.

Sorak-sorai buat panser Jerman memastikan diri keluar sebagai kampiun Piala Dunia 2014 setelah berhasil mengalahkan Argentina 1-0. Dulu pernah di Prancis, Italia juara satu. Zidane, sang imigran Aljazair, main untuk kapten Timnas Prancis yang menanduk lawan pun mau pensiun. Delapan tahun lalu, 2010, Afrika Selatan tuan rumah. Spanyol juara. Juara di Brazil, lain lagi, tapi negara itu-itu saja. Siapa juara 2018, tunggu hingga akhir bulan puasa enam ini.

Saat Osama Hawsawi, kapten Arab Saudi dan Igor Akinfeev kapten Rusia, mengejar bola, memutari lapangan hijau, di Mekkah jutaan hamba Allah sedang thawaf. Saat yang sama seluruh dunia sedang mengagungkan-Nya, takbiran. Partai pembuka sepak bola, yang oleh pengamat labelkan pada pecandunya, dengan komentar the world game ini, sepertinya tidak mempertimbangkan tradisi yang sedang dilaksanakan umat Islam sedunia, Hari Raya Puasa.

Padahal kita catat, ada hampir 15 juta (10%) warga Rusia, juga umat Islam, puasa dan naik haji. Di ibu kota Rusia saja, ada lebih enam juta kaum Muslimin. Pemain dan wasit pun ramai yang Islam, ada mengaji, shalat, puasa, dan berhari raya. Media dan pemilik saham media pun, ramai orang Islam, yang ber-syahatain; Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Bola kaki disaksikan oleh sebagian umat Islam, sebagian dari sekitar 1,8 miliar Muslimin (24% penghuni jagad yang mencapai 7,3 miliar ini). Islam akan menjadi agama terbesar pada 2075 (BBC News Indonesia).

Kita umat Islam sangat naif, meski hanya dengan sekadar seruan pemboikotan. Misalnya karena bola digelar saat kita sedang puasa, atau sedang Hari Raya Idul Fitri kali ini. Justru dunia kapitalis dan Barat diuntungkan oleh iklan, rating tontonan, dan rokok yang disumbangkan pecandu Muslimin (juga dari Aceh). Untuk bola, untuk hal yang haram, serta duniawi lainnya. Human Rights Watch (HRW) saja, pernah serukan pada para pemimpin dunia memboikot tempat duduk VIP. Di sana Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyaksikan pembukaan acara di negara Beruang Merah.

Media asing-nasional, VOA Indonesia sebutkan, desakan itu tidak akan terjadi jika Putin bersedia mengambil langkah untuk melindungi warga sipil di tengah konflik Suriah yang berkepanjangan. Meski masuk grup C bersama Prancis, Peru, dan Denmark, Asutralia juga mau memboikotnya, lantaran masalah pengusian diplomat, dan soal mata-mata. Juga ajakan dari negara lain untuk memboikot ajang bergengsi itu, dengan alasan politis.

Pun demikian, kali ini masih untung, bagi sebagian kita, saudara/saudari kita, yang doyan nonton the fair play game itu, karena pembukaan dan permainan, pas habis Ramadhan. Paling tidak, jadwal Tarawih tidak perlu tergadaikan. Lantaran “musabaqah” oleh 32 negara, dalam delapan grup sedunia itu. Cuma penceramah malam tarawih dan shubuh selama puasa, ingatkan kita, bahwa derajat kita dinilai bukan selama puasa, tapi lebih pada 11 bulan, Syawal hingga Syakban. Sejak takbiran hingga jumpa Ramadhan 2019.

Artinya, ketaatan selama puasa, bisa kita lanjutkan seusainya. Kita tidak cepat-cepat bersorak bersama setan, saat nonton bola. Sebab belenggu yang selama Ramadhan diikatkan pada iblis telah dibukakan, untuk kembali bersama kita. Saat setan kian mudah masuk ke dalam diri kita dari atas, bawah, depan, belakang, kanan, dan kiri, jika kita terbuai melotot di televisi, Meski malaikat di langit mulai mengis, Ramadhan pamitan, justru setan dan manusia yang menabuhkan genderang dengannya, tidak peduli akan ratapan di atas sana.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved