Citizen Reporter

Cara Prancis Jadikan Budaya Sebagai Peradaban Dunia

UNIVERSITAS Malikussaleh yang tergabung dalam 20 universitas di Indonesia diundang oleh Konselor Kerja Sama

Cara Prancis Jadikan Budaya Sebagai Peradaban Dunia
PROF APRIDAR 

OLEH PROF APRIDAR, Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara, melaporkan dari Poitiers, Prancis

UNIVERSITAS Malikussaleh yang tergabung dalam 20 universitas di Indonesia diundang oleh Konselor Kerja Sama dan Aksi Budaya dari Institut Prancis-Indonesia yang dikomandani Prof Marc Piton (Undangan No:521/IFI/2018) untuk mengikuti Kongres X Kerja Sama Prancis-Indonesia di Poitiers, Prancis.

Kampus yang diundang tersebut diberi kesempatan bergabung dalam Working Group Indonesia-Prancis 2018 dalam peningkatan riset inovasi dan kewirausahaan.

Poitiers merupakan kota yang terletak di bagian barat tengah Prancis. Wali Kota Poitiers dalam melaksanakan urusan kota sebagai vassal dari raja akan selalu setia terhadap kekuasaan yang dimandatkan kepadanya.

Keputusan yang diambil wali kota terhadap hal-hal yang menyangkut sipil dan kriminal harus dia konsultasikan terlebih dahulu dengan dewan pertimbangan, bukan secara otoriter. Dengan demikian, musyawarah terlihat kental dipraktikkan di kota pendidikan yang terletak di tepi Sungai Clain ini.

Di kota nan indah ini pula terlihat berbagai universitas, istana kerajaan, arsitektur berseni tinggi, dan toko-toko percetakan sangat berkembang. Pada abad ke-16 budaya bahkan peradaban masyarakat kota ini sangat dipengaruhi oleh kampus.

Setelah Revolusi Prancis, ketika universitas-universitas dihapus, Universitas Poitiers pun dibuka kembali pada tahun 1796. Fakultas yang dipulihkan saat itu dan masih eksis hingga kini adalah sejumlah fakultas sains dan fakultas administrasi. Pengelolanya kemudian mendirikan Sekolah Teknik Poitiers Nasional, sebuah departemen yang melatih insinyur. Pada tahun 1984, setelah mendirikan Institut Ilmu Pengetahuan dan Teknik Poitiers, maka perabadan masyarakatnya pun kembali bangkit dan berkembang.

Majunya sebuah peradaban dapat dilihat dari majunya perguruan tinggi di kota tersebut. Perhatian yang diberikan oleh pemerintah kepada kampus pun harus optimal. Pada akhirnya, seni budaya yang menjadikan Prancis sebagai rujukan dunia pun adalah hasil dari inovasi yang dilahirkan kalangan kampus.

Keselarasan ini membuat mereka tetap menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di pelbagai belahan dunia. Budaya modern itu terus dikembangkan dan disosialisasikan kepada semua pihak, bahkan sampai ke luar negeri, agar masyarakat dunia terbiasa merasakan manfaat dari pengembangan budaya itu sendiri yang sumber utamanya dari tradisi keilmuan di kampus-kampus terkemuka.

Lalu, apa yang bisa kita petik dari realitas itu? Aceh yang sudah berkembang sejak abad 7 dengan budaya islaminya yang kental, perlu melakukan gebrakan yang signifikan dalam membangkitkan kembali gairah budayanya. Keunggulan budaya yang lebih hakiki di Serambi Mekkah yang bersumber dari ilmu kalam Ilahi sangatlah penting kita kembangkan lebih luas lagi. Soalnya, kebaikan, apabila tidak diaplikasikan dalam kehidupan nyata, menjadi tak bermakna dalam peradaban manusia.

Sebagaimana Rasulullah selalu mencontohkan kebaikan dalam kehidupan sehari-harinya bahwa visi briliannya ditunjukkan dengan konsolidasi yang baik dilakukan di Madinah sebelum melakukan pengembangan dan ekspansi Islam ke seluruh dunia dengan kebaikan yang nyata.

Oleh karenanya, kampus-kampus di Aceh pun perlu mengembangkan jejaring dalam menebarkan virus kebaikan ke seluruh penjuru dunia. Kerja sama dalam meningkatkan inovasi untuk dipasarkan dalam kehidupan masyarakat sangat penting dilakukan oleh kalangan akademisi yang berkutat di kampus. Atmosfer akademik semestinya harus lebih kental dibandingkan dengan budaya debat yang tak memberikan solusi konkret walau dalam alam demokrasi hal itu dibenarkan. Padahal, demokrasi itu sendiri lebih mengedepankan kebersamaan daripada pemaksaan kehendak untuk mencapai tujuan kalangan tertentu.

Masyarakat sangat mendambakan manfaat dari inovasi serta pengetahuan yang dilahirkan kaum akademisi. Sangat pantas tentunya jika Allah Swt meninggikan beberapa darajat kedudukan kaum penghasil inovasi dan ilmu pengetahuan yang akan dimanfaatkan oleh masyarakat. Namun, akan dihukum lebih berat pula apabila akademisi membuat sesuatu yang akan memudaratkan masyarakat, seperti pencipta mesin atau alat pembunuh yang mahadahsyat. Begitu juga para pembuat kebijakan yang dapat menyesatkan masyarakat.

Oleh karenanya, tanggung jawab moral lebih besar disandarkan kepada kaum intelektual. Semoga kampus kita menjadi “menara air” yang menyejukkan sanubari serta memberi teladan yang dapat melahirkan berbagai kebaikan dalam kehidupan masyarakat, sebagaimana halnya kampus-kampus utama di Prancis yang sedikit banyaknya telah menjadi “telaga bening” bagi peradaban dunia.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help