Opini

Menyoal Integritas Politisi Kita

DUA pekan terakhir, masyarakat Aceh dihebohkan oleh berita politisi “begal” telah menyunat bantuan pendidikan

Menyoal Integritas Politisi Kita

Oleh Munawar A. Djalil

DUA pekan terakhir, masyarakat Aceh dihebohkan oleh berita politisi “begal” telah menyunat bantuan pendidikan bagi mahasiswa. Berita ini membuat kita tersentak, betapa prilaku tak bermoral yang dilakoni oleh politisi di Aceh. Malah beberapa di antara mereka terkenal kritis dan aspiratif dalam menyahuti berbagai persoalan masyarakat. Namun apa daya prilaku “tak senonoh” ini telah mencederai harga dirinya sebagai anggota dewan yang terhormat.

Nah, fakta tersebut justru telah membenarkan argumen bahwa politik sering dianggap sebagai “bisnis” yang kotor. Maka mencari politisi yang sungguh-sungguh jujur, peka, cakap sama dengan bikin dan sepi ing pamrih bagai mau “mencari garam di gunung yang tinggi”. Itulah pendapat “sinisme pragmatis”.

Saya ingin menunjukkan dalam tulisan ini, bahwa Aceh ini akan hebat dan maju kalau para politisinya memiliki integritas dan kejujuran pribadi. Sehingga berbicara tentang integritas dalam politik memang cukup problematik, karena tema integritas politik di satu pihak ditertawakan di antara para ahli, dan di lain pihak telah dikorupsi oleh para politisi sendiri.

Penempatan integritas ke dalam bangunan atas ideologi yang hanya berfungsi melegitimasikan struktur-struktur kekuasaan yang mapan, dengan harapan bahwa perbaikan integritas para politisi akan menunjang perbaikan dalam kehidupan masyarakat, hal itu dianggap naif, kolot, tidak realistis, bahkan dicurigai sebagai ideologis sendiri. Di lain pihak, para politisi terus menerus menceramahi masyarakat mengenai manusia utuh dan nilai-nilai kebangsaan, kewajiban dan tanggung jawab, tentang perlu adanya etos macam-macam, tentang kritik yang harus membangun dan lain sebagainya.

Akan tetapi menurut hemat saya, tidak kalah pentingnya agar kita tidak menarik kesimpulan yang salah dari inflasi moralisme yang mengorupsikan itu. Bukan “sinisme” dan “defeatisme” moral yang kita butuhkan, melainkan agar standar-standar integritas sebagai bentuk moralitas umum ditegakkan kembali. Meskipun benar bahwa imbauan-imbauan moral tidak akan membongkar kemunafikan yang meresapi satu budaya politik, namun tanpa integritas dan sikap sepi ing pamrih para politisi tidak akan mampu memberantas kanker korupsi moralitas umum.

Landasan moral
Kita perlu membangun sebuah landasan moral, di mana orang diharapkan kembali merasa malu kalau ia bertindak tidak jujur. Tetapi apakah masuk akal untuk menuntut kejujuran dalam bidang politik? Bukankah berpolitik sama dengan air comberan yang kotor?

Apa yang dimaksud dengan tuduhan bahwa politik itu kotor, kiranya pertama-tama bahwa berpolitik berarti mencari dan mempertahankan kekuasaan. Dan kekuasaan itu katanya kotor. Untuk memperebutkannya, orang harus keras, licik, pintar main bujuk ataupun memeras. Lawan harus dipukul tanpa ampun dan sahabat yang menjadi terlalu kuat harus dijegal sebelum menjadi ancaman.

Menurut pandangan ini jangan kita mengandaikan kesetiaan dan jangan percaya pada cita-cita para politisi, yang mereka cari hanyalah kekuasaan dan demi kekuasaan itu segala nilai lain harus dikorbankan. Maka tepat sekali kalau banyak orang bilang bahwa cita-cita luhur dan tujuan-tujuan terpuji para politisi tidak lebih dari sekadar kamuflase belaka, bagi kepentingan mereka yang sebenarnya adalah kekuasaan. Mereka hanya bisa bercuap-cuap saja tanpa tindakan yang nyata atau “NATO” (no action talk only).

Pada umumnya diandaikan bahwa tidak mungkin orang mencapai kedudukan berkuasa tanpa praktik-praktik kotor semacam itu. Tidak ada politisi berhasil yang tidak mengotori tangannya. Yang dimaksud bukan bahwa semua politisi secara pribadi bermoral bejat, melainkan bahwa kejujuran harus ditinggalkan dirumah kalau mereka mau mencapai sukses. Jadi, meskipun barangkali ada politisi yang sebagai pribadi dinilai jujur, tetapi diandaikan bahwa kejujuran itu “harus mereka parkirkan” di luar gedung permainan politik.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved