Pengamat: Sisihkan APBA untuk Bank Aceh

Pengamat Ekonomi dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh, Rustam Effendi menilai perlu

Pengamat: Sisihkan APBA untuk Bank Aceh
Rustam Effendi 

BANDA ACEH - Pengamat Ekonomi dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh, Rustam Effendi menilai perlu ada campur tangan Pemprov Aceh terkait persoalan Bank Aceh yang dinilai oleh Gubernur Aceh selaku pemegang saham mayoritas lebih memilih cara aman dengan banyak menyasar pinjaman untuk PNS, bukan untuk usaha produktif.

Rustam menilai pemerintah tidak cukup hanya menggenjot Bank Aceh, tapi juga harus memberikan suntikan dana yang bersumber dari APBA.

“Ada solusi lain, Pemprov juga punya kewajiban bantu Bank Aceh. Kan ada dana APBA, daripada untuk hibah atau dana TPK, lebih baik sisihkan ke Bank Aceh. Tempatkan Rp 50 miliar - Rp 100 miliar. Pemda mesti fair, tidak boleh asal-asalan digenjot, nanti masalah juga,” terang Rustam Effendi saat menjadi narasumber untuk Program Cakrawala Radio Serambi FM bertajuk `Teguran Pemegang Saham untuk Bank Aceh Syariah’, Rabu (27/6).

Program tersebut dipandu oleh Host Radio Serambi FM, Vea Artega dengan menghadirkan narasumber internal, Sekretaris Redaksi Harian Serambi Indonesia, Bukhari M Ali. Rustam menjelaskan, perlu dibuat sistem khusus. Di mana para pelaku usaha bisa mengakses ke bank, namun pastikan tidak ada memo dengan membiarkan bank sebagai pihak yang memutuskan layak atau tidak.

Dirinya menegaskan tidak menyalahkan Bank Aceh, tapi juga tidak sepenuhnya membetulkan tudingan pemerintah. Lebih lanjut dia mengatakan, kalau ingin adil tidak dengan menggenjot paksa bank tanpa mengindahkan prinsip kehati-hatian.

Ia menambahkan, berdasarkan pembukuan, laba sangat signifikan yaitu mengalami kenaikan 24,45 persen. Itu artinya Bank Aceh sudah menata dengan sangat baik biaya operasional. Satu hal yang diakuinya tidak mudah.

Persolannya bagaimana fungsi bank, kalau melihat Dana Pihak Ketiga (DPK) cukup signifikan,. DPK tumbuh 28 persen, yaitu dari Rp 14,4 triliun menjadi Rp 18,5 triliun. Namun jika melihat komposisi pembiayaan, hanya tumbuh 5 persen. Kenaikan DPK tidak sejalan dengan pinjaman. Terlebih yang dibiayai adalah aspek konsumtif.

“Yang aman, pinjaman sudah ada jaminan. Tinggal potong gaji, tidak ada faktor lain yang membuat bank beban. Tingkat kehati-hatian Bank Aceh sangat tinggi, mungkin berlebihan. Sebagai sebuah bank sah-sah saja, kalau tidak hati-hati juga timbul masalah, kalau macet segala macam,” tambah Rustam.

Ia melihat ini tidak sepenuhnya salah. Pihak Bank Aceh hanya perlu lebih banyak melihat ke bawah. Dengan lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan daripada di kantor. Seperti melihat praktIk sistem ijon yang meyediakan pinjaman lunak dengan bunga tinggi. Peluang ini bisa digarap Bank Aceh.

“Pak Gub menyampaikan karena ekonomi Aceh tidak tumbuh, hanya mengandalkan APBA. Sehingga sektor ekonomi tidak bisa digenjot. Implikasinya ada sektor ekonomi yang lambat, angka hanya tumbuh 3,35 persen migas dan 3,65 persen non migas. Makanya tidak bisa diungkit ekonomi kita, Ini butuh suntikan modal,” tegasnya. (rul)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved