Citizen Reporter

Rihlah ke Kota Ayutthaya

SETELAH dua minggu lebih saya berada di Thailand, sebelum pulang ke Indonesia saya sempatkan diri mengunjungi

Rihlah ke Kota Ayutthaya
MUHAMMAD SAYUTI

OLEH MUHAMMAD SAYUTI, Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora Jurusan Bahasa dan Satra Arab UIN Ar-Raniry, alumnus Dayah Darul Huda (Lhueng Angen) dan LIPIA Banda Aceh, melaporkan dari Bangkok, Thailand

SETELAH dua minggu lebih saya berada di Thailand, sebelum pulang ke Indonesia saya sempatkan diri mengunjungi kota yang sangat familiar dan bersejarah bagi warga Thailand (Siam) bersama Bapak Yurdi Yasmi selaku Presiden Diaspora Bangkok. Kami rihlah (berkunjung) ke sebuah kota yang sangat tua di Thailand, apalagi kalau bukan Ayutthaya, yaitu kota pertama dari Kerajaan Siam.

Ayutthaya adalah kota yang penuh dengan candi-candi. Untuk mencapai kota ini dibutuhkan waktu sekitar 1-2 jam dari Kota Bangkok. Para wisatawan mancanegara setiap hari mengunjungi Ayutthaya, karena candi di Ayutthaya ini menarik, merupakan peninggalan Kerajaan Ayutthaya Thailand dan merupakan salah satu Unesco World Heritage Site.

Salah satu dari candi-candi yang sangat mencolok di sini adalah Candi Wat Phu Khao Thong yang berada di sebelah barat Ang Thong Rd. Ini candi raksasa yang tinggi menjulang, berwarna putih, dan berdiri gagah di lapangan luas. Uniknya, candi ini tidak sejajar dari candi biasa. Posisinya agak sedikit miring. Anda bisa mendaki ke puncak Wat Phu Khao Thong untuk menikmati pemandangan di sekeliling Ayutthya. Tapi bersiap-siaplah untuk letih karena Anda akan menaiki tangga lebih kurang setinggi 30 meter.

Selain candi, ada juga patung ayam yang mirip dengan ayam siam. Orang Aceh menyebutnya manok siam. Di sini Anda juga dapat melihat Monument of King Naresuan the Great. Orang inilah yang pernah mengusir prajurit Burma dari Tanah Thai.

Walaupun Ayutthaya dikenal dengan Kota Seribu Candi, tapi wisatawan muslim tak perlu risau karena ada beberapa masjid di dalam lautan candi tersebut. Misalnya, Masjid Tonson, Haron, dan Masjid Muhammad Aliyir Shaliheen.

Ayutthaya juga dikenal sebagai kota gajah, karena banyak sekali gajah yang dipamerkan khusus kepada para wisatawan, baik di dalam maupun di luar negeri. Jadi, tak heran kalau Thailand dijuluki Negeri Gajah Putih. Nah, untuk bisa naik gajah Anda harus menyiapkan uang 200 bath membeli tiket, lalu Anda dibawa sekali putar taman kota yang jaraknya 1 km.

Di Ayutthaya juga ada pasar muslim yang sangat ramai pengunjungnya, terutama pada bulan Ramadhan. Uniknya segala macam makanan itu sudah mempunyai label halal. Saya sempat bertanya kepada salah satu pedagang, siapakah yg membuat label atau stempel halal itu? Mereka menjawab bahwa di Thailand ada seorang dokter bernama Winai Dahlan. Dia adalah cucu dari KH Achmad Dahlan, ulama dari Indonesia pendiri Muhammadiyah pada tahun 1912.

Winai Dahlan memilih menetap di Thailand dan mendirikan The Halal Science Center Thailand. Dia besar di Thailand, beliaulah yang merekomendasikan halal tidaknya makanan yang beredar di seluruh Thailand. Sungguh saya sangat senang dan bangga mendengar jawaban pedagang tersebut. Berkat usaha Winai Dahlan menjaga makanan dan minuman agar tetap halalan thaiybah, kami yang berkunjung ke Thailand bisa dengan sangat mudah mendapatkan makanan dan minuman halal. Masyaallah, sebuah kunjungan yang sangat luar biasa.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved