Mihrab

Sabang Cikal Bakal Embarkasi Haji Indonesia

SELAMA ini Sabang identik dengan keindahan alam bawah laut dan pulau-pulau eksotik, serta tugu 0 kilometer Indonesia

Sabang Cikal Bakal Embarkasi Haji Indonesia
MASJID Kampung Haji di Gampong Kuta Timu, Kota Sabang. Masjid ini dibangun permanen tahun 1914 oleh Sabang Maatschappij, yaitu perusahaan Belanda yang mengelola Pelabuhan Bebas Sabang, sebagai fasilitas perjalanan haji melalui Pelabuhan Sabang. 

SELAMA ini Sabang identik dengan keindahan alam bawah laut dan pulau-pulau eksotik, serta tugu 0 kilometer Indonesia. Bahkan dengan mengetik kata Sabang di mesin pencari Google, hasilnya adalah foto-foto keindahan alam Sabang.

Padahal gugusan pulau yang bernama Pulau Weh ini, menyimpan banyak sejarah heroisme perjuangan orang-orang Aceh masa dahulu. Tak heran bila Sabang banyak memiliki benteng. Tentu, karena di Sabang pernah terjadi pertempuran hebat yang melibatkan beberapa negara besar, seperti Amerika Serikat, Belanda, Portugis, serta Jepang. Nun sebelum Perang Dunia II, Sabang punya pelabuhan tercanggih di Indonesia (Hindia Belanda kala itu). Kecanggihan fasilitas tersebut membuat posisinya lebih penting dibandingkan pelabuhan Temasek (sekarang Singapura).

Itulah cerita-cerita tentang Sabang secara umum. Tak banyak yang bercerita, bahwa Pulau Weh pernah menjadi embarkasi haji bagi para calon jamaah haji dari Hindia Belanda (Indonesia). Sejarah mencatat, di Sabang lah keberadaan embarkasi haji pertama di wilayah Indonesia. Embarkasi yang dibangun oleh Belanda itu dilengkapi berbagai fasilitas hebat dan canggih (pada masanya), di Kota Sabang dan di Pulau Rubiah. Sebagian fasilitas haji itu masih utuh berdiri sampai sekarang, namun sebagian lainnya sudah lenyap karena tak terawat.

Di antara bangunan yang masih tertinggal dan terawat hingga kini adalah Masjid Kampung Haji di Gampong Kuta Timu, Kota Sabang. Dari prasasti yang berada di halaman depan masjid, dapat diketahui bahwa masjid ini dibangun secara permanen tahun 1914 oleh Sabang Maatschappij (perusahaan Belanda yang mengelola pelabuhan bebas Sabang), sebagai fasilitas perjalanan haji melalui pelabuhan Sabang.

Di masjid inilah para jamaah haji dari Indonesia beribadah dan belajar manasik, sebelum dikarantina di Pulau Rubiah, untuk selanjutnya diberangkatkan ke Tanah Suci. Meski kini jamaah haji Indonesia tidak lagi berangkat via Sabang, tapi masjid ini masih terawat dengan baik.

“Sebelum ke Tanah Suci, para jamaah haji Aceh, informasinya juga dari beberapa daerah lain di Indonesia, berkumpul di sini, untuk melakukan manasik. Pas di samping masjid ini merupakan bekas asrama haji. Tapi kini sudah menjadi permukiman,” kata Tgk Dedy Masykur (29), Imum Syik (Imam Besar) Masjid Kampung Haji kepada Serambi, 29 April 2018.

Di masjid ini pula Tgk Dedy menghabiskan masa kanak-kanaknya. Ia kemudian menuntut ilmu di Dayah Mudi Mesra, Samalanga Bireuen. “Dulu masjidnya tak sebesar ini, kecil. Ini telah mengalami beberapa kali renovasi, terakhir sekitar tahun 2010 sudah sebagus ini,” ungkap Dedy. Memang terawat baik. Di dalamnya juga terpasang AC. “Kami (Imam, pengurus, dan panitia pembangunan masjid) sudah berjumpa dengan Wali Kota Nazaruddin. Beliau sepakat dan telah merencanakan pembangunan yang sistematis. Insya Allah dengan doa kita bersama akan terealisasi,” ujar pemuda yang telah menjadi Imam Besar di masjid itu sejak tahun 2016.

Menurut Tgk Dedy masjid pertama di Kota Sabang ini tetap diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan. Di antaranya pengajian bagi remaja (Selasa malam), dan pengajian bagi ibu-ibu (Sabtu siang). “Ramai tamu dari Jakarta, Malaysia, dan turis muslim dari Eropa, melaksanakan shalat di sini. Rata-rata mereka tertarik datang setelah tahu sejarahnya,” kata dia.

Menurutnya, banyak pengunjung yang menyarankan supaya di halaman masjid dibikin beberapa prasasti berisi catatan tentang sejarah masjid tersebut, serta foto-foto zaman dahulu. Terhadap saran ini, Dedy menyerahkan kepada pengurus, panitia pembangunan dan pemerintah daerah, terutama dinas pariwisata.

“Saat ini baru ada satu prasasti yang bertulis sejarah singkat. Banyak pengunjung yang berfoto di prasasti itu. Ini masjid bersejarah di Kota Sabang, Aceh, serta Indonesia. Terutama sebagai bukti napak tilas sejarah asrama dan embarkasi haji di Indonesia. Jadi ya perlu dibenah sebagus mungkin,” ujarnya. Nah, ternyata di Sabang lah cikal bakal embarkasi haji Indonesia bermula. Yuk, kunjungi Sabang dan lihat langsung jejak jamaah haji di sana.(zainal arifin m nur)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help