Home »

Opini

Opini

Tarekat Urban

SEPANJANG jalan pulang mudik ke Aceh Selatan pada Lebaran kali ini, saya melihat banyak sekali spanduk Rateb Siribe

Tarekat Urban
Jamaah berzikir dalam rateb seribee yang dipimpin Pimpinan MPTT Asia Tenggara, Abuya Syekh H Amran Waly Al Khalidi di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. 

Oleh Sehat Ihsan Shadiqin

SEPANJANG jalan pulang mudik ke Aceh Selatan pada Lebaran kali ini, saya melihat banyak sekali spanduk Rateb Siribe. Beberapa di antaranya menampilkan sosok pemimpin Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf, Abuya H Amran Waly. Beberapa yang lain berisi foto tokoh masyarakat setempat di mana spanduk dibentangkan. Di Aceh Selatan sendiri, spanduk Rateb Siribe sama semaraknya dengan spanduk pasangan kandidat bupati Aceh Selatan yang dipasang di hampir semua persimpangan dan pinggiran strategis jalan protokol.

Spanduk Rateb Siribe sendiri belakangan ini juga banyak terlihat di Banda Aceh; di pinggir jalan, pertokoan, dan pagar masjid. Di sana ada informasi tentang jadwal mingguan pelaksanaan Rateb Siribe, baik di Masjid Raya Baiturrahman maupun di masjid lain yang ada di Banda Aceh. Bahkan beberapa kali Rateb Siribe dilaksanakan di lapangan terbuka yang diikuti oleh masyarakat umum dan oleh pejabat pemerintah. Dalam acara-acara tersebut panitia menghadirkan sosok utama gerakan ini yakni Abuya Syaikh H Amran Waly al-Khalidi, dari Labuhanhaji, Aceh Selatan.

Sebelum spanduk Rateb Siribe menghiasi banyak sisi kota Banda Aceh, fenomana yang sama diisi oleh MZA (Majelis Zikrullah Aceh). Sama dengan Rateb Siribe, MZA juga sebuah gerakan zikir berjamaah yang pada awalnya populer di Banda Aceh, lalu berkembang di berbagai daerah lain di Provinsi Aceh. MZA sendiri dipimpin oleh Syaikh Muda Tuanku Teungku Samunzir bin Husein, dari Aceh Utara. Pada awalnya gerakan ini memusatkan aktivitas zikir mereka di komplek makam Syiah Kuala di Gampong Deah Raya. Kemudian mereka pindah ke komplek Taman Sultanah Safiatuddin di Lamprit. Secara rutin mereka juga melaksanakan zikir di Majid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Selain dua majelis tersebut ada beberapa majelis lain yang serupa di Banda Aceh meskipun tidak sesemarak Rateb Siribe dan MZA dalam publikasi kegiatannya. Pemerintah kota Banda Aceh sendiri di bawah Wali Kota Aminullah Usman membentuk sebuah majelis zikir yang mereka namakan dengan MZPG (Majelis Zikir dan Pengajian Gemilang). Jauh sebelumnya, pada 2001 almarhum Abuya Djamaluddin Waly juga pernah membentuk majelis zikir yang beliau namakan dengan Majeliz Zikir al-Waliyah. Ada juga Majelis Zikir Nurun Nabi yang dipimpin oleh Uztaz Zamhuri MA. Di Tungkop, Aceh Besar, ada Majelis Zikir Raudhatul Qur’an yang dimpimpin oleh Dr Tgk H Sulfan Wandi MA.

Gerakan tarekat
Kalau kita lihat “akar” dari majelis zikir yang ada di Banda Aceh selama ini, kebanyakan majelis tidak dapat dipisahkan dari gerakan tarekat. Rateb Siribe yang dipimpin oleh Abuya Amran Waly memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang dibawa orang tuanya, Muda Waly al Khalidi ke Aceh pada 1939. Sementara Majelis Zikir Nurun Nabi memiliki afiliasi dengan Tarekat Naqsyabandi Haqqani yang saat ini menjadi tarekat paling berpengaruh di Eropa. Sedangkan Majelis Zikir Raudhatul Qur’an memiliki hubungan dengan TQN (Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah), di mana Tgk Sulfan adalah wakiltalkin utama di Banda Aceh.

Saya belum menemukan informasi tentang MZA; apakah gerakan ini memiliki hubungan dengan tarekat tertentu atau tidak. Sejauh perbincangan saya dengan beberapa jamaah, mereka sepakat mengatakan bahwa MZA tidak memiliki afiliasi dengan tarekat apa pun. Namun demikian, melihat latar belakangan Teungku Samunzir sendiri, beliau memiliki hubungan yang baik dengan beberapa kelompok tarekat di Aceh dan di Jawa.

Secara tidak langsung, relasi tersebut memepngaruhi model dan cara berzikir yang mereka lakukan. Kelompok yang mungkin benar-benar tidak berafiliasi dengan tarekat adalah MZPG, kelompok zikir bentukan pemerintah kota Banda Aceh di bawah Wali Kota Aminullah Usman.

Afiliasi dengan terekat sesungguhnya bukanlah hal penting dalam majelis zikir popular, seperti yang ada di Banda Aceh belakangan ini. Tarekat hanya menjadi sebuah latar untuk keseluruhan zikir yang dikembangkan. Hakikatnya majelis zikir ini hendak menggerakkan “sisi lain” dari cara beragama dalam masyarakat kota.

Sebagai masyarakat urban, kebanyakan warga kota Banda Aceh disibukkan dengan pekerjaan dan aktivitas padat dalam kehidupan seharian mereka, baik yang bekerja di perkantoran, pedagangan, pertanian, sektor jasa, dan lain sebagainya. Kondisi ini membuat mereka memiliki waktu yang sempit untuk praktik amalan agama. Zikir berjamaah menjadi wadah yang mereka sukai sebagai tempat mengekspresikan semangat beragama di luar kesibukan dalam kehidupan mereka.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help