Budi Bahasa dalam Budaya Aceh

Aceh merupakan salah satu etnik yang selalu jadi pusat perhatian, baik dalam maupun luar negeri

Budi Bahasa dalam Budaya Aceh
DOK.SERAMBINEWS.COM
Kain sarung dengan label berbahasa Aceh. 

Oleh Dindin Samsudin, Penulis, Peneliti di Balai Bahasa Jawa Barat.

Aceh merupakan salah satu etnik yang selalu jadi pusat perhatian, baik dalam maupun luar negeri. Jika mendengar Aceh, kita pasti teringat dengan cerita kejayaan dan keterpurukan. Kejayaan dan kebanggaan Aceh di masa lalu telah melahirkan seorang nama besar Sultan Iskanda Muda dan Samudera Pasai, kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Berbagai keterpurukan dan kesedihan juga menjadi salah satu bagian perhatian terhadap daerah yang dikenal Serambi Mekah ini. Ketegangan dan kekacauan keamanan akibat konflik di Aceh telah “memopulerkan” nama Aceh di pentas dunia. Akibat konflik yang berkepanjangan, Aceh “terkenal” ke penjuru dunia. Musibah gempa dan tsunami yang maha dahsyat semakin melambungkan nama Aceh di pentas internasional. Pahit dan getirnya hidup dalam suasana konflik dan tsunami sudah dirasakan. Semua itu merupakan modal yang sangat berharga bagi masyarakat Aceh dalam membentuk kepribadian yang tangguh.

Aceh kaya akan suku bangsa. Suku bangsa Aceh, Alas, Aneuk Jamee, Gayo, Kluet, Simeulue, Singkil, dan Tamiang adalah pilarpilar tangguh yang dapat menjaga kekayaan bahasa. Sebagai bangsa yang berbudaya tinggi, tentu saja bahasa tidak cukup hanya untuk digunakan secara komunikatif. kan tetapi, harus mempunyai nilai budi bahasa. Budi bahasa adalah konsep etika dalam bertutur kata. Budi bahasa tidak hanya mencakup etika bertutur kata.

Akan tetapi, mencakup juga tingkah laku, budi pekerti, dan akhlak hidup bermasyarakat (Siti Zainon Ismail, dalam Warisan Budaya Melayu Aceh, 2003). Menurut catatan sejarah, Aceh merupakan bagian dari budaya Melayu. Memberi salam atau hormat ketika bertemu, bertegur sapa ketika bertemu, meminta izin ketika meninggalkan majelis, mempersilakan tamu, dan mengucapkan selamat merupakan beberapa budi bahasa yang diamalkan dalam masyarakat Melayu.

Berdasarkan hal tersebut, budaya Melayu-Aceh menunjukan budi bahasa yang santun dan halus. Yunus Maris dalam buku Warisan Budaya Melayu Aceh (2003) mengungkapkan bahwa bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasiantarmanusia, tetapi juga harus mempunyai pengertian yang lebih, yaitu mencakup pengertian adab, sopan, budi pekerti, jasa, bakti, dan ahlak yang mulia. Masyarakat Melayu memang menjunjung tinggi bahasa karena bahasa dipandang sebagai jiwa suatu bangsa. Bangsa yang tidak beradab sopan santun dalam berbahasa dipandang sebagai bangsa yang tidak berjiwa.

Seperti terlihat dalam peribahasa Bahasa menunjukkan bangsa dan Bahasa jiwa Bangsa (Siti ZainonIsmail:2003). Seperti halnya budi, bahasa pun tidak ternilai harganya dan tidak dapat diperjualbelikan. Dalam pantun Melayu disebutkan anak Cina menimbang madat//dari Makasar langsung ke Deli//hidup di dunia biar beradat//bahasa tidak dijual beli//.

Memang, sudah selayaknya kita harus berbudi bahasa, artinya kita harus menjadi sosok yang budiman. Teuku Iskandar dalam Kamus Dewan (1970) mengatakan bahwa orang yang budiman adalah mereka yang memiliki budi bahasa, adab sopan, bersungguh- sungguh dalam pekerjaan, mempunyai daya ihtiar yang tinggi, matang, bijaksana dalam membuat keputusan, dan yang paling banyak menabur jasa dan bakti. Orang yang berbudi bahasa merupakan puncak kebaikan dan keindahan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam sastra tradisional Aceh juga terdapatungkapan-ungkapan yang menunjukan betapa pentingnya budi bahasa, misalnya terlihat dalam narit maja (peribahasa Aceh) berikut: (1) meunyoe na pangkat beuna kaya, menyo na budi beuna bahasa ‘kalau ada pangkat perlu kaya, kalau ada budi perlu bahasa’, (2) ureung geumat bak narit, leumo geumat bak taloe ‘orang dipegang pada bicaranya, sapi dipegang pada talinya’, (3) ureung kon rupa nyang jroh, nyang jroh budi bahasa ‘orang dilihat bukan pada rupa yang baik, tapi pada budi bahasa’, (4) meunyoe get peue-budhoe, baranggasoe pi jeut keu sahbat, Menyo than jroh peue-budhoe, baranggasoe pi gob upat ‘kalau baik budi, siapapun akan dijadikan sahabat, kalau buruk budi siapapun diupat’, dan (5) ta ujoe meuhbak batee, ta ujoe ureueng bak lagee ‘kita uji emas pada batu, kita uji orang pada perilaku’.

Nilai-nilai kearifan budi bahasa yang terdapat dalam hadih maja dan panton Acehtentu harus dapat diimplementasikan dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jika semua’ kearifan tadi sudah melekat dalam batin dan jiwa masyarakat, perdamaian yang hakiki akan terus terjaga dan terpelihara.

Berkaitan dengan budi bahasa, dalam budaya Aceh dikenal juga istilah reusam. Reusam adalah cara atau kebiasaan sopan santun, tata tertib, hormat menghormati yang berhubungan dengan etika pergaulan masyarakat dan antarbangsa. Dalam hadih maja Aceh diungkapkan bahwa Kanun ngon reusam wajeb ta jaga yang artinya ‘kanun dan reusam wajib dijaga’. Maksudnya, masyarakat Aceh harus mengetahui bahwa bangsa Aceh sudah sejak lama mempunyai budaya sendiri.

Dengan demikian kanun dan reusam wajib dijaga karena sudah menjadi budaya bangsa (Muhammad Umar: 2002). Nilai-nilai luhur budi bahasa yang terdapat dalam hadih maja dan panton Aceh tentu dapat dijadikan kearifan lokal sebagai pondasi dasar dalam membentuk ahlak dan kepribadian masyarakat Aceh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved