Opini

Eksistensi Organisasi Belajar

PERKEMBANGAN zaman yang pesat pada masa sekarang, membuat banyak orang menghadapi banyak tantangan

Eksistensi Organisasi Belajar
Belajar Empat Bulan, Hafalan Siswa TK Medina 

Oleh Ramli Abdullah

PERKEMBANGAN zaman yang pesat pada masa sekarang, membuat banyak orang menghadapi banyak tantangan untuk mampu menghadapi persaingan. Bahwa untuk setiap orang dituntut memiliki keunggulan bersaing agar sanggup bertahan dengan dukungan dan kecerdasannya untuk mengurus lemabaga yang dipimpinnya. Demikian pula halnya dengan kegiatan belajar, terus mengelola kegiatan belajar dan pembelajaran melalui aktualisasi ilmu pengetahuan dan teknologi secara kontinyu. Bahwa organisasi belajar memiliki peran untuk membekali individu, dan kelompok dengan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dalam upaya memenangkan kompetisi dan persaingan yang cukup berat.

Dengan demikian, organisasi belajar sangat diperlukan dalam menghadapi perubahan lingkungan yang sangat cepat. Karena organisasi belajar itu merupakan suatu konsep di mana seseorang harus melewati proses belajar yang berkesinambungan secara mandiri dalam upaya menghadapi hambatan dan tantangan, baik dari dalam diri ataupun di luar dirinya dalam rangka tercapainya tujuan bersama.

Sange (1995) dalam bukunya, The Fifith Discipline, menegaskan bahwa organasasi belajar bukanlah sebagai sekelompok orang terpelajar yang mendirikan sebuah organisasi dan juga bukan kegiatan belajar berorganisasi. Semestinya, organisasi belajar bagaimana seseorang mau belajar untuk mengorganisir, mengelola, mengatur, merencanakan dan mewujudkan kapasitasnya melalui aktualisasi, improvisasi, inovasi dan pemberdayaan yang memungkinnya mendapatkan sesuatu yang baru dalam dirinya.

Memperluas kemampuan
Pada hakikatnya, organasasi belajar bukanlah sebagai sekelompok orang terpelajar yang mendirikan sebuah organisasi dan juga bukan kegiatan belajar berorganisasi. Aktivitas ini dapat memberi manfaat maksimal bagi diri dan lingkungannya. Seorang pimpinan memiliki kemampuan mengorganisir dengan baik kualitas keilmuannya, sehingga orang itu sanggup melaksanakan tugas dan kewajibannya lebih baik dari sebelumnya. Mampu melakukan dengan terorganisir, sistematis, lewat perencanaan yang matang, bukan secara asal-asalan, dan bukan hanya sekadar memenuhi kewajibannya. Maka organisasi belajar- belajar mengorganisasikan apa saja yang berkenaan dengan profesi yang melekat padanya melalui berbagai upaya yang berkelanjutan.

Selanjutnya, Sange (1995) menjelaskan bahwa organisasi belajar sebagai sarana di mana para anggotanya secara terus-menerus memperluas kemampuan mereka untuk mendapatkan hasil yang sesungguhnya sesuai dengan yang diharapkan; sebagai tempat di mana dikembangkannya pola-pola berpikir baru dan ekspansif, tempat di mana untuk mencurahkan aspirasi kelompoknya dengan bebas, dan tempat di mana para anggotanya belajar secara berkelanjutan dan melihat bersama secara keseluruhan. Jadi tegasnya, organisasi belajar sebagai wadah untuk terjadinya proses belajar dan pembelajaran yang berkelanjutan.

Sebuah orgnisasi dapat ditetapkan sebagai organisasi belajar, jika memiliki kriteria: Pertama, personal mastery. Belajar memperluas kapasitas personalnya untuk meraih kualitas kinerja sesuai yang ditargetkan, dan menciptakan lingkungan organisasi yang mampu menumbuhkan seluruh anggotanya untuk mengembangkan dirinya mencapai sasaran dan makna bekerja sesuai dengan tujuan telah ditetapkan bersama; Kedua, mental models. Proses bercermin, memperjelas, dan meningkatkan gambaran diri masing-masing tentang dunia luar, dan melihat bagaimana sebuah tim mengambil keputusan dan tindakannya;

Ketiga, shared vision. Membangun rasa komitmen dalam tim kerjanya, dengan mengembangkan gambaran bersama (tim) tentang masa depan yang akan dibangun, prinsip dan praktek yang menuntun cara kerja tim untuk mencapai tujuan sesuai harapannya; Keempat, team learning. Mentransformasikan pembicaraan dan keahlian berpikir, sehingga suatu tim dapat secara sah mengembangkan kecerdasan dan kemampuan yang lebih besar dibandingkan ketika masing-masing anggotanya bekerja secara individual, dan; Kelima, system thinking. Cara pandang, cara berbahasa untuk menggambarkan dan memahami kekuatan dan hubungan yang menentukan perilaku dalam sebuah sistem.

Sedangkan konsep organisasi belajar dari Guns dan Anundsen (1996) dalam bukunya, The Faster Learning Organization mengatakan, organisasi belajar merupakan suatu organisasi yang belajar secara kolektif dan bersemangat, dan terus menerus mentranformasikan dirinya pada pengumpulan, pengelolaan dan penggunaan pengetahuan yang lebih baik bagi keberhasilan lembaganya. Memberdayakan sumber daya manusianya baik di dalam atau di luar lembaganya untuk belajar sambil bekerja. Memanfaatkan teknologi untuk mengoptimalkan aktivitas belajar ataupun untuk produktivitas kerja. Dikarenakan pada masa sekarang membuat organisasi dihadapkan pada suatu tantangan dalam menghadapi persaingan bisnis.

Keunggulan bersaing
Setiap organisasi dituntut memiliki keunggulan bersaing agar dapat tetap bertahan yang didukung dengan intelegensi organisasi untuk mengelola pengetahuan melalui proses belajar berkelanjutan. Kehadiran konsep organisasi belajar yang berperan membekali organisasi dengan basis pengetahuan dalam rangka memenangkan persaingan tersebut.

Organisasi belajar sangat diperlukan, terutama dalam menghadapi perubahan lingkungan yang sangat cepat. Pada hakikatnya organisasi belajar ini merupakan suatu konsep dimana organisasi harus melewati proses belajar yang terus menerus secara mandiri untuk menghadapi berbagai hambatan baik dari dalam maupun dari luar organisasi untuk mencapai tujuan bersama.

Sange (2002) dalam buku lain, The Fifith Discipline Fieldbook, menjelaskan bahwa membangun organisasi belajar bermanfaat agar memiliki kemampuan dalam menghadapi tantangan perubahan dalam segala aspek lingkungan kehidupan dan menyesuaikan diri dengan perubahan itu agar tetap bertahan dan berkembang, mencapai kinerja yang tinggi dan memperbaiki kualitas dengan memunculkan beragam inovasi. Karena konsep organisasi belajar muncul dalam konteks perubahan lingkungan dan daya saing, di mana seseorang membutuhkan kompetensi dan kepemimpinan untuk mentransformasikan pengetahuan kepada seluruh mitra atau teman sejawat.

Konsep organisasi belajar dapat diimplementasikan dalam berbagai sektor kehidupan, seperti pendidikan, sosial, ekonomi, budaya maupun politik, baik secara perorangan maupun kelompok. Bahwa organisisi belajar menuntut adanya perbaikan/perubahan ke arah yang lebih tinggi kinerja individu maupun kelompok. Pencapaian kenerja yang lebih baik melalui upaya pengorganisir semua potensi yang ada untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Langkah-langkah ini ditempuh secara bertahap dalam pengelolaan pola pikir, metode, strategi, tujuan, dan potensi pendukung lainnya. Melaksanakan suatu aktivitas dalam sebuah lembaga atau perusahaan dengan menerapkan oraganisasi belajar jauh lebih efektif dan efisien dari pada terus melakukan secara konvensional.

* Dr. H. Ramli Abdullah, M.Pd., Dosen tetap Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, dan anggota Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah (BAP S/M) Aceh. Email: ramliabdullah@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved