Galus Gelar Kampung Tawar

Desa Ulun Tanoh, Kecamatan Kutapanjang, Kabupaten Gayo Lues (Galus) menggelar Tawar Kampung

Galus Gelar Kampung Tawar
Lanskap Kabupaten Gayo Lues yang didominasi dengan perbukitan dan hutan hujan tropis. Menyimpan kekayaan alam dan memiliki peranan penting untuk Aceh, Indonesia dan dunia. (Foto: Indonesia Nature Film Society (INFIS)) 

* Seusai 22 Tahun Lalu

BLANGKEJEREN - Desa Ulun Tanoh, Kecamatan Kutapanjang, Kabupaten Gayo Lues (Galus) menggelar Tawar Kampung atau juga disebut peusijuk di wilayah pesisir. Tradisi di negeri yang berjulukan ‘Seribu Bukit’ itu terakhir kali dilaksanakan 22 tahun lalu dan direncanakan akan digelar lima tahun sekali.

Setelah dilakukan tawar kampung yang dihadiri Wakil Bupati (wabup) Said Sani, maka warga beramai-ramai ikut menyembelih satu ekor kerbau untuk dijadikan sebagai kenduri rakyat. Kegiatan yang dipusatkan di Balai Desa Ulun Tanoh juga dihadiri Ketua DPRK Galus, H Ali Husin dan anggota, Majelis Adat Aceh (MAA), Kepala BPBD Galus, Camat Kutapanjang, tokoh agama, tokoh adat dan segenap masyarakat Ulun Tanoh.

Wabup Galus, Said Sani mengatakan tawar kampung merupakan salah satu budaya dan warisan secara turun temurun dari nenek moyang (datu-red) masyarakat Gayo. Kegiatan ini untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT agar desa selalu dalam keadaan aman dan tenteram, serta masyarakat hidup harmonis.

“Tradisi tawar kampung harus terus dilestarikan, tetapi tidak melanggar ajaran agama Islam yang berdampak pada kesyirikan,” ujar Said Sani. Dia berharap kampung selalu dalam keadaan tenteram dan terciptanya sebuah kebersamaan dan kekompakan di tengah-tengah masyarakat.

Sedangkan Ketua DPRK Ali Husin SH dalam sambutannya meminta warga untuk tetap bersatu dan melalui tawar kampung ini, diharapkan dapat menjauhkan masyarakat dari bahaya. “Kita harus bersama-sama dalam membangun perekonomian masyarakat dan melalui persatuan, seluruhnya dapat kita lakukan,” katanya.

Sementara, Penghulu Desa Ulun Tanoh, Suhardinsyah mengatakan tawar kampung ini merupakan salah budaya dari nenek moyang yang dilakukan untuk menghindari marabahaya dan bencana. Ditambahkan, juga untuk menciptakan kebersamaan dan kekompakan yang ditandai dengan menyembelih satu ekor kerbau secara beramai-ramai.

“Tawar kampung terakhir dilakukan di desa ini sekitar 22 tahun yang lalu, namun direncanakan kegiatan serupa akan dilaksanakan dalam lima tahun sekali yang berlangsung dengan meriah, bahkan para tamu dan undangan disambut secara adat dan budaya Gayo,” sebutnya.

Dilaporkan, sebelum kegiatan tawar kampung dilaksanakan, warga memberi sumbangan sesuai kemampuannya. Sebelum disembelih, warga beramai-ramai mengarak kerbau keliling kampung sambil membawa tawar (daun kayu). Sampai di meunasah desa, kerbau disembelih beramai-ramai, kemudian dimasak untuk dimakan bersama-sama, simbol kebersamaan warga. Terakhir, memohon kepada Allah SWT agar warga diberi kedamaian dan lahan subur.(c40)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved