Peunayong Mulai Bersolek

Peunayong mulai bersolek. Semburat warna warni membalut bangunan-bangunan tua yang mengapit sisi Jalan A Yani

Peunayong Mulai Bersolek
WAJAH baru kawasan Peunayong, Banda Aceh, Selasa (3/7). 

Peunayong mulai bersolek. Semburat warna warni membalut bangunan-bangunan tua yang mengapit sisi Jalan A Yani dan WR Supratman. Menyulap deretan rumah toko (ruko) yang sebelumnya terlihat muram menjadi sumringah. Di persimpangan jalan, mural memenuhi bidang tembok berwarna dasar kuning dengan sentuhan merah menyala. Menegaskan paras Peunayong yang makin berseri. Di bawahnya sebuah prasasti bercerita tentang asal muasal kawasan tersebut.

“Peunayong dikenal sebagai kawasan pecinan yang terletak di tepi Sungai Aceh. Para pedagang Tionghoa banyak yang bermukim di kawasan ini karena merupakan jalur lalu lintas perdagangan dalam kota masa kerajaan dulu. Peta-peta kuno menunjukkan bahwa sudah sejak abad ke-17 para pedagang Tionghoa mendiami kawasan ini,” demikian bunyi prasasti yang dirancang oleh Tim Bustanussalatin.

Alkisah berabad-abad yang lampau seorang bahariawan Tiongkok, Laksamana Cheng Ho merambah gugusan kepulauan terbesar di dunia bernama Nusantara. Kota-kota yang disinggahinya pun berkembang menjadi pusat perdagangan. Termasuk desa yang kini bernama Peunayong atau yang dalam bahasa lokal bermakna peumayong (memayungi). Menurut catatan Hakka Aceh, sebuah perkumpulan Tionghoa lintas suku dan agama, kini sekitar 4.000-an orang etnis Tionghoa yang berasal dari empat suku yaitu Hakka, Hainan, Konghu, dan Tio-Ciu menjadi jejak sang laksamana.

Serambi yang menyusuri Peunayong, Selasa (3/7) mendapati tak banyak yang berubah dengan aktivitas warga di kawasan yang juga dikenal sebagai pusat perdagangan itu. Lain halnya dengan bangunan fisik. Naga dan lampion yang menyembul di sana sini menegaskan nuansa oriental. Dekorasi ruangan dengan tema senada begitu mudah ditemukan tatkala menginjakkan kaki di kawasan Peunayong, Kecamatan Kuta Alam. Tidak hanya di rumah ibadah, tapi juga di pertokoan hingga tempat kediaman. Tak heran, kawasan ini telah didiami oleh etnis Tionghoa secara turun temurun. Keberadaannya bercampur baur dengan pribumi yang mendiami jantung Kota Banda Aceh.

Seperti pemandangan yang terlihat di pasar Peunayong. Gapura bertuliskan ‘Peunayong Gampong Keberagaman’ dengan aksen huruf kanji menyambut pengunjung. Juga menggunakan latar merah dengan tulisan berwarna kuning. Sepanjang selasar, lampion-lampion berwarna merah menyala bergelantungan. Warna yang dalam budaya etnis Tionghoa dipercaya membawa keberuntungan. Aktivitas pasar Peunayong berdenyut sejak subuh oleh warga lokal yang menjual aneka kebutuhan dapur.

“Kami menjual makanan halal karena kalau makanan halal dimakan untuk semua. Minya kami olah sendiri dengan tetap menjaga kualitas rasa,” ujar pemilik salah satu usaha kuliner legendaris, Warkop Jaya, Acin.

Ia mulai berjualan aneka olahan mi pangsit sejak 1982. Melanjutkan usaha keluarga yang diwariskan secara turun temurun. Warung sederhananya itu diminati masyarakat muslim, pun wisatawan yang melancong.

Usaha keluarga itu telah melewati tiga generasi. Hal ini bisa terlihat dari bangunan warkop yang tetap mempertahankan arsitektur lama bergaya era kolonial. Sebut saja model pintu, ventilasi udara, meja, plafon, hingga plang nama warkop. Namun ia mengaku menyambut baik anjuran dari Pemerintah Banda Aceh, untuk mengecat warkop miliknya tanpa mengubah bentuk asli. Tampil dalam wajah baru tanpa menanggalkan identitas. (nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help