Home »

Opini

Opini

Kiat Melestarikan Pahala Ibadah

SETELAH satu bulan menjalankan ibadah puasa dan Idul Fitri, kita kembali kepada fitrah (suci)

Kiat Melestarikan Pahala Ibadah
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Tiga ratusan jamaah dari berbagai daerah mengikuti ibadah suluk di Dayah Darul Ulumuddiniyah, Desa Rambong, Kecamatan Setia, Kabupaten Abdya selama bulan Ramadhan 1437 H, Selasa (7/6/2016). 

Oleh Abdul Gani Isa

SETELAH satu bulan menjalankan ibadah puasa dan Idul Fitri, kita kembali kepada fitrah (suci). Suci lahiriah dan batiniah, yang melambangkan bersih dari segala dosa, seperti bayi yang baru lahir. Persoalan yang muncul dan sering dipertanyakan oleh masyarakat adalah bagaimana kiat kita menjaga agar nilai ibadah/amal tetap lestari dan pahala tetap terjaga dari kita.

Untuk menjawab hal itu, sekaligus menjadi panduan buat kita, sepatutnya merenungkan kembali sabda Rasulullah saw yang artinya, “Ada enam hal yang dapat menghapuskan amal seseorang, yaitu sibuk membicarakan aib orang lain, kerasnya hati, hilang rasa malunya, cinta dunia, panjang angan-angan, dan kezaliman terus-menerus (tak pernah berhenti).” (HR.Dailami).

Hindari enam hal
Pertama, al-Isytighalu fi ‘uyubil khalqi (jangan membicarakan aib orang lain). Membicarakan aib orang lain merupakan hobbi bagi sebagian orang, bahkan ada orang yang setiap harinya suka mengadu domba, memfitnah, mencari-cari kesalahan dan keburukan orang lain. Kata orang bijak “lidah harimau bagimu”, “lidah itu tak bertulang”. Namun “diam itu emas”.

Orang tua/para endatu sering memberi petuah, haba yang ka takelua, tapeguda hanjeut ta’uet le (kata-kata yang sudah diucapkan tak mungkin ditarik kembali). Daripada tamarit get taim droe hana rugoe hana laba (daripada kita ngomong lebik baik diam, dengan diam tak ada rugi dan untungnya). Daripada taim get tapeugah narit yang pantah ta kelua (Daripada diam lebih baik kita ngomong, asal tidak menyinggung perasaan orang lain).

Dalam kaitan ini Allah Swt berfirman, “Tidak satu pun ucapan yang keluar dari mulut manusia, melainkan dicatat oleh Raqib dan `Atid.” (QS. Fatir: 11). Menggunjing, ghibah, mengupat, adalah dosa, bahkan Alquran menyamakan dengan memakan daging saudaranya (QS. al-Hujurat: 12). Rasulullah saw juga mengingatkan, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berbicara yang baik atau diam saja.” (HR. Bukhari Muslim).

Suatu ketika sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: “Apa itu ghibah? Rasul menjawab: Menceritakan akan seseorang, sedang yang bersangkutan tidak menyukainya, itulah ghibah. Ditanya lagi: Bagaimana pandanganmu (ya Rasulullah) bila apa yang kukatakan ada seperti itu inkana fi akhi ma aqulu. Nabi menjawab: Bila ada dan benar apa yang kamu katakan, maka kamu telah berbuat ghibah, dan jika omonganmu ternyata tidak benar, berarti kamu telah melakukan suatu kebatilan.” (HR. Muslim).

Kedua, qaswatul qalb (jangan; keras hati). Keras hati dimaksudkan di sini adalah hidup menyendiri, lebih mementingkan diri sendiri (egois), tak peduli dengan lingkungan dan sekitarnya. Padahal Islam sangat mendorong umatnya memiliki sifat itsariyah (lebih mengutamakan kepentingan orang lain dari diri sendiri). Bukankah di sekitar kita ada fakir miskin dan anak yatim, bahkan masih banyak orang-orang tidak makan dan masih kita jumpai orang-orang yang tak memiliki tempat tinggal (rumah).

Sifat kikir tak mau bersyukur atas anugerah nikmat Allah disebut dengan “qaswatul qalb”, keras hati. Sifat iba dan kasih sayang sudah dicontohkan Rasulullah saw kepada umatnya, beliau mengingatkan umatnya, bila memasak sesuatu di rumah, sebaiknya berilah kepada tetangga sedikit walau kuahnya saja tanpa ada sayurnya(HR.Bukhari Muslim).

Ketiga, wa qillatul haya‘ (jangan; hilang rasa malu). Malu salah satu sifat manusia, dan termasuk bagian akhlaqul karimah. Al-haya-u syatrul iman (sifat malu adalah bagian dari iman). Bila sudah tak punya rasa malu, maka iman seseorang turut hilang. Dalam hubungan ini Raulullah saw mengingatkan, Al-haya-u wal iman qurina jami’a (Iman dan malu kawan seiring).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help