Kredit Macet Tertinggi di Aceh Tengah

Aceh Tengah menjadi daerah tertinggi kredit macet se-Aceh selama Mei 2018, yakni mencapai Rp 42,4 miliar

Kredit Macet Tertinggi di Aceh Tengah
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Zainal Arifin Lubis didampingi Wakilnya, Teuku Munandar, berdiskusi dengan Pemimpin Perusahaan Harian Serambi Indonesia, Mohd Din dan Redaktur Pelaksana, Yarmen Dinamika terkait perkembangan dan prospek ekonomi Aceh, di ruang rapat Kantor Perwakilan BI Provinsi Aceh, Kamis (5/7). SERAMBI/BUDI FATRIA 

BANDA ACEH - Aceh Tengah menjadi daerah tertinggi kredit macet se-Aceh selama Mei 2018, yakni mencapai Rp 42,4 miliar (3,11 persen) dari Rp 1,3 triliun kucuran kredit. Sebagian besar kredit macet atau non performing loan (NPL) itu dari sektor pinjaman untuk konstruksi. Sedangkan kredit macet terendah di Gayo Lues, yaitu 0,02 persen atau Rp 58 juta dari total penyaluran kredit Rp 259,7 juta.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, Zainal Arifin Lubis mengungkapkan hal ini berdiskusi dengan para pimpinan Serambi Indonesia, yakni Pemimpin Perusahaan (PP), Mohd Din, Redaktur Pelaksana Yarmen Dinamika, dan Redaktur Ekonomi, Mursal Ismail di ruang rapat Kepala BI Aceh, Banda Aceh, Kamis (5/7). Turut hadir saat diskusi ini Deputi Kepala BI Aceh, Teuku Munandar dan sejumlah karyawan lainnya.

“Kredit macet tertinggi selama Mei 2018 di Aceh Tengah. Penyebabnya ada di salah satu sektor, yaitu konstruksi, tingkat pengembaliannya sangat tidak baik karena proyek konstruksi tidak selesai tepat waktu, sehingga pembayaran dana untuk proyek tersebut juga terhambat, baik itu proyek pemerintah maupun proyek swasta,” ungkap Zainal Arifin.

Sedangkan kredit lainnya, seperti kredit sektor pertanian kopi dan usaha kopi yang menjadi andalan kabupaten tersebut masih berjalan baik, sehingga sektor tersebut akan berpeluang lebih besar untuk mendapatkan pendanaan perbankan.

Ia menambahkan, terdapat beberapa sektor yang berpotensi mampu menggerakkan perekonomian Aceh, di antaranya sektor pertanian, industri, dan sektor pariwisata. Berdasarkan data yang dimiliki Zainal Arifin, sektor pertanian merupakan yang paling banyak menyumbang tenaga kerja.

Namun, lanjut Zainal Arifin, petumbuhan sektor pertanian di Aceh masih sangat rendah. Penyebabnya kontribusi masyarakat ke sektor pertanian masih kecil, usaha pertanian masih kecil, serta pendanaan pihak perbankan masih sangat kecil.

Kita bisa melihat rendahnya pertumbuhan sektor pertanian saat ini, cabai, bawang merah hingga buah-buahan masih didatangkan dari luar daerah, bakan diimpor dari Cina dan India. Padahal lahannya pertaniannya masih sangat luas,” ujarnya. Ia menambahkan, Aceh yang memiliki banyak objek wisata belum mampu memanfaatkan sektor tersebut. Pariwisata juga mampu menyumbang pasokan devisa untuk negara.

Pada kesempatan yang sama, Zainal Arifin, juga menginformasikan bahwa BI Aceh juga menyediakan beasiswa kepada 150 mahasiswa kurang mampu dan berprestasi dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, dan Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh. Nilainya masing-masing Rp 1 juta/bulan yang diberikan setiap enam bulan atau Rp 12 juta/tahun. Program ini sudah berlangsung sejak 2015.

Untuk tahun 2018, kata Zainal Arifin, BI sudah menyalurkan beasiswa tahap pertama kepada 150 mahasiswa itu. Sedangkan untuk 2019 masih belum dibuka pendaftaraan. Zainal Arifin Lubis kemarin mengatakan, pemberian beasiswa itu merupakan program sosial rutin BI, sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan. (mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved