Salam

Angkutan Laut Perlu Dievaluasi Menyeluruh

Para penyelenggara angkutan penumpang umum dan barang berbagai rute di perairan Aceh selama ini

Angkutan Laut Perlu Dievaluasi Menyeluruh
Kapal Motor (KM) Lestari Maju dikabarkan tenggelam saat berlayar dari pelabuhan Bira ke pelabuhan Pamatata Selayar, Selasa (3/7/2018). 

Para penyelenggara angkutan penumpang umum dan barang berbagai rute di perairan Aceh selama ini terindikasi belum cukup baik memperhatikan keselamatan penumpangnya. Oleh sebab itu, pemerintah sudah harus bersikap lebih serius terhadap para penyelenggara angkutan di sungai, danau, dan laut di Aceh.

Ada langkah baik yang telah dilakukan untuk wilayah Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang. Di kawasan ini, sudah ditegaskan kembali bahwa setiap penumpang yang melakukan penyeberangan dari Ulee Lheue ke Pulo Aceh serta dari Lampulo ke Pulo Aceh serta Pulo Breuh atau sebaliknya, diwajibkan menggenakan life jacket (baju pelampung).

Usaha mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk di laut itu dicapai dalam rapat koordinasi (rakor) bersama yang diadakan Direktorat Kepolisian Perairan (Ditpolair) Polda Aceh dengan melibatkan KSOP Malahayati, Basarnas Aceh, PT ASDP Banda Aceh serta pemilik dan pawang boat lintasan Banda Aceh-Pulo Aceh.

Dirpolair Polda Aceh, Kombes Pol Jemmy Rosdiantoro SSTMK SH menjelaskan, rakor itu juga menindaklanjuti instruksi Kapolri tentang Harkamtibmas pelayaran dan pengawasan penyeberangan. “Penting bagi kita duduk bersama dan berkoordinasi untuk mengambil langkah-langkah pencegahan,” ujar Kombes Jemmy.

Hal yang paling mendasari munculnya usaha antisipasi adalah menyusul banyaknya musibah pelayaran dan kecelakaan yang terjadi di laut, danau, dan sungai belakangan ini. Belum kering air mata kita atas musibah di Danau Toba, Sumatera Utara, sudah terjadi lagi di Selayar, Sulawesi Selatan. Baratus nyawa melayang di tengah danau dan laut.

Aceh juga pernah mengalami hal yang lebih buruk dari yang dialami korban kapal di Danau Toba dan Selayar, ketika KMP Gurita karam di bibir Teluk Balohan, Sabang, pada Januari 1997. Lebih dua ratus nyawa melayang hanya gara-gara penyelenggara angkutannya memaksa penumpang melebihi kapasitas. Dan, KMP Gurita juga sudah tidak lagi dalam kondisi cukup “fit” saat itu.

Nah, bagi Aceh, angkutan laut bukan hanya ke Sabang dan Pulo Aceh, tapi juga ada lintasan Meulaboh (Aceh Barat)-Simeulue, Labuhan Haji (Aceh Selatan)-Simelue, dan Singkil Simeulue yang kondisi lautnya jauh lebih menantang dengan jarak tempuh lebih dari delapan jam. Selain itu, masih ada juga angkutan dari Singkil ke Pulau Banyak.

Oleh karenanya, demi menjaga keselamatan penumpang laut, maka seluruh kapal dan boet pengangkut barang dan orang ke pulau-pulau itu perlu dievaluasi kembali kondisi dan perlengkapan keselamatan. Yang sangat memprihatinkan adalah penumpang ke Pulo Aceh dan Pulau Banyak. Mereka naik boat-boat kecil yang sangat kurang fasilitas keselamatan bagi penumpangnya, termasuk para wisatawan mancanegara yang dalam beberapa tahun terakhir paling rajin “mengantar” rupiah ke lokasi-lokasi wisata di Aceh. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved