BMKG: Waspadai Angin Kencang Hingga September

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh mengeluarkan peringatan (warning) yang menyebutkan

BMKG: Waspadai Angin Kencang Hingga September
Angin kencang tumbangkan tiga tiang listrik dan pohon besar di jalan provinsi Pondok Baru - Simpang Teritit, tepatnya di Kampung Puja Mulia, Godang, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Selasa (10/7). SERAMBI/MUSLIM ARSANI 

BANDA ACEH - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh mengeluarkan peringatan (warning) yang menyebutkan bahwa angin kencang akan melanda Aceh hingga September nanti. Meskipun tidak berlangsung setiap hari, tapi BMKG mengimbau masyarakat Aceh supaya mewaspadai dampak dari angin kencang dimaksud.

Hal itu disampaikan Kasi Data dan Informasi BMKG Aceh, Zakaria kepada Serambi di Banda Aceh, Selasa (10/7) sore. Zakaria menyebutkan, saat cuaca normal kekuatan angin sekitar 1-40 km per jam. Sedangkan saat musim seperti saat ini kecepatan angin bisa mencapai 80 km per jam.

Ia tambahkan, jika kecepatan angin mencapai 60 km per jam ke atas maka sudah potensial menyebabkan dahan patah, pohon tumbang, atap rumah beterbangan, bahkan gelombang laut tinggi.

Menurut Zakaria, selama beberapa hari terakhir kecepatan angin ada yang mencapai 80 km per jam, sehingga sejumlah pohon tumbang dan merusak beberapa bangunan. Sedangkan tinggi gelombang di perairan Sabang hingga ke barat selatan Aceh berkisar 1-3 meter, gelombang di Samudera Hindia ke bagian barat Sabang malah mencapai 4 meter. Sedangkan di Aceh bagian timur-utara atau Selat Malaka gelombangnya masih berkisar 1 meter.

“Kita imbau, para nelayan supaya mewaspadai angin kencang dan gelombang tinggi. Orang yang di darat sebaiknya menghindari untuk memarkir mobil atau melakukan aktivitas di bawah pohon, karena angin kencang bisa datang tiba-tiba,” ujar Zakaria.

Menurutnya, kecepatan angin akan mencapai 40-80 km per jam apabila muncul gangguan cuaca berupa siklon tropis atau tekanan rendah di perairan Aceh. Biasanya tekanan rendah itu terjadi di Samudera Pasifik bagian barat seperti Filipina atau Laut Cina Selatan, sehingga membawa pengaruhnya sampai ke kawasan Aceh.

Zakaria menyebutkan, sebenarnya angin kencang sudah mulai melanda Aceh sejak Mei lalu, yaitu saat memasuki musim kemarau. Saat ini posisi matahari sudah berada di belahan bumi bagian utara, karena tekanan rendah sering muncul di bumi bagian utara maka massa udara dari bumi bagian selatan akan bergerak menuju utara.

Ia informasikan kepada masyarakat, jika sudah muncul gumpalan awan hitam pekat (kumulonimbus) disertai kilat di langit, maka itu pertanda akan mulai berembus angin kencang. Masyarakat pun diminta mewaspai risiko yang dapat ditimbulkan oleh angin kencang tersebut. (mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help