Mahasiswa Aceh Bersama Empat Rekannya Ciptakan "Si PeKA" di Pekanbaru

Dengan sistem ini, anak-anak asuh bisa mengisi luang waktunya dengan program-program kreatif

Mahasiswa Aceh Bersama Empat Rekannya Ciptakan
Khalista Aqilla Mude (kedua dari kiri) bersama para pencipta "Si PeKA" . 

Laporan Fikar W.Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Untuk mendisiplinkan anak-anak asuh di panti asuhan, seorang mahasiswa berdarah Aceh, Gayo bersama keempat mahasiswa lainnya menciptakan satu sistem yang disebut "Si-PeKA."

Dengan sistem ini, anak-anak asuh bisa mengisi luang waktunya dengan program-program kreatif.

"Si PeKA adalah sistem pengolah kedisplinan anak yang dirancang bersama, berupa program kreativitas untuk mengisi waktu luang anak-anak asuh di panti asuhan," kata Khalista Aqilla Mude, gadis berdarah Aceh yang sedang kuliah di Universitas Riau, Pekanbaru.

Baca: VIDEO - Begini Suasana KPK Geledah dan Segel Ruang Kerja Kadis Pendidikan Aceh

Aqilla Mude bersama Alwati, Dini Kartika Ansyari, Aditya Wahyu Purnama dan Safrizal menciptakan sistem tersebut untuk memudahkan mengatur kedisiplinan anak.

Kelima mahasiswa ini kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau, saat ini mengikuti program kreativitas mahasiswa di bidang pengabdian masyarakat.

Aqilla menjelaskan, dalam program tersebut mereka menggunakan pemberian quisioner dan formulir kegiatan harian (daily activity form) yang diisi oleh anak-anak asuh selama 14 hari.

"Setelah mereka mengisi formulir, kami pun memberi reward atau penghargaan kepada anak-anak yang telah mengalami peningkatan selama 14 hari. Apabila awalnya ia belum disiplinan, kemudian menjadi disiplin. Reward tersebut memotivasi anak-anak supaya mematuhi peraturan yang ada di panti asuhan," ujar Aqilla.

Baca: Potret Pendidikan di Finlandia, Waktu Belajar Hanya 3 Jam Serta Tak Ada PR dan Ujian

Latar belakang diciptaknnya sistem tersebut, mengingat tingkat kedisiplinan anak-anak asuh di Pekanbaru sangat rendah.

Sebab mereka disana lebih banyak melanggar peraturan yang telah dibuat oleh pihak panti asuhan.

“Rata-rata seluruh panti asuhan hanya fokus untuk menampung, menyantuni, mendidik anak yatim/piatu/yatim piatu yang tidak mampu dan terlantar. Tetapi pihak panti asuhan tidak memperhatikan karakter anak-anak asuhnya terutama kedisiplinan. Karena kedisiplinan itu salah satu faktor untuk meningkatkan kualitas diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di masa yang akan datang.” kata Aqilla.(*)

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help