Opini

Potret Buram Politik Aceh

TEPAT pada 5 Juli 2018, usia pemerintahan Gubernur Irwandi Yusuf dan Wakil Gubernur Nova Iriansyah

Potret Buram Politik Aceh

Oleh Munawar A. Djalil

TEPAT pada 5 Juli 2018, usia pemerintahan Gubernur Irwandi Yusuf dan Wakil Gubernur Nova Iriansyah dengan jargon “Aceh Hebat”, genap satu tahun. Namun sejak prosesi pelantikan mereka pada 5 Juli 2017 lalu itu, ternyata mendung di langit perpolitikan Aceh masih belum juga menunjukkan tanda-tanda akan tersibak dan menjadi cerah.

Mengikuti perkembangannya akhir-akhir ini, kita dibuat miris dengan perseturuan para elite politik Aceh, sehingga kita dapat membayangkan bagaimana masa depan “Aceh Hebat” yang baru berusia satu tahun tersebut. Pertanyaannya kemudian adalah masih terbukakah kemungkinan ruang rekonsiliasi yang mesti digelar oleh kaum pro-rakyat akan membuahkan solusi substansi untuk kesejahteraan rakyat?

Syahdan, menyikapi keadaan politik Aceh saat ini sungguh sangat meresahkan. Betapa tidak, dari gonjang-ganjing Peraturan Gubernur (Pergub) APBA 2018, Pergub Acara Jinayat sampai dengan polemik pelantikan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh periode 2018-2023 yang urung dilakukan Gubernur Aceh. Meskipun semua pihak berharap supaya polemik ini segera diakhiri, namun sulit karena disinyalir memang ada tarik-menarik kepentingan antara Gubernur dengan DPRA.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa belakangan ini hubungan Gubernur dengan DPRA sedang tidak harmonis. Dampaknya sebanyak 42 anggota DPRA sepakat mengajukan Hak Interpelasi terhadap Gubernur Aceh. Jawaban gubernur terhadap interpelasi itu pun ditolak semua oleh DPRA dalam Rapat Paripurna Istimewa di Gedung DPRA (Senin, 2 Juli 2018), yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Aceh. Keputusan penolakan itu ditetapkan pimpinan DPRA setelah sejumlah anggota DPRA menyatakan tidak puas dengan jawaban Gubernur Aceh (Serambi, 3 Juli 2018).

Yang menarik dalam interpelasi DPRA kepada Gubernur tidak hanya menyasar hal-hal terkait public policy, melainkan juga sudah menyentuh private policy, termasuk hubungan asmara Gubernur dengan seorang wanita asal Manado, Sulawesi Utara, yang sempat viral di media sosial (medsos).

Menurut saya, penggunaan Hak Interpelasi DPRA tersebut hanya sebagai ajang membuka aib dan saling menjatuhkan, keadaan ini membuat masyarakat Aceh miris dalam mensikapi kondisi terkini Aceh. Maka tidak berlebihan saya mentamsilkan bahwa Aceh seperti “rumah sakit jiwa”, di mana ketika orang lain melihat dari luar terkesan bangunannya begitu bagus dan indah, namun para penghuni di dalamnya ternyata beragam tingkah dan langgamnya.

Ada yang tertawa dan bicara sendiri, ada yang menjerit, ada yang bergaya seperti sopir bus dan lain-lain. Bahkan yang sangat menggelikan ketika kita melihat ada penghuni menanam bunga di taman, datang yang lain mencabutnya. Ditanam lagi, kemudian dicabut lagi. Begitu seterusnya. Tamsilan ini tampaknya cocok untuk menggambarkan Aceh saat ini, di mana ketika eksekutif (gubernur) menyemai benih, legislatif yang mencabutnya. Saat legislatif yang menyemai, eksekutif mencabutnya. Begitu potret yang dilihat selama satu tahun pemerintah “Aceh Hebat”.

Ditangkap KPK
Penangkapan Gubernur Aceh membuat seluruh masyarakat Aceh tersentak dan malah ada yang tidak percaya ketika selasa malam 3 juli 2018 tersiar berita bahwa Gubernur Aceh ditangkap KPK. Penulis juga merasa bahwa ini adalah hoax, namun setelah mendapat konfirmasi berulang dari beberapa teman penulis ternyata berita ini bukan bohong namun benar adanya.

Penulis merasa sangat sedih atas kejadian ini, karena pas satu tahun usia “Aceh Hebat”, Gubernur Aceh diperiksa KPK. Saya berdoa kepada Allah Swt agar Gubernur Aceh dimudahkan urusannya dan dibebaskan Allah dari segala fitnah yang mendera beliau. Amin. Sehubungan dengan itu pula, saya tidak tahu apakah penangkapan dan pemeriksaan Gubernur oleh KPK ada hubungan dengan kisrus elite politik saat ini yang saling menjatuhkan itu, yaitu sidroe pula, sidroe lheup (seorang menanam dan yang lain mencabut).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved