Eksekutif-Legislatif Diminta Islah

Kurang harmonisnya hubungan antara Pemerintah Aceh dengan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menjadi sorotan

Eksekutif-Legislatif  Diminta Islah
SERAMBI/HARI MAHARDHIKA
Pembukaan muzakarah turut dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir H Nova Iriansyah MT, Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman MM, Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Warul Walidin AK MA, Katibul Wali Nanggroe, Drs Syaiba Ibrahim, dan sejumlah bupati/wakilbupati daerah lainnya di Aceh.SERAMBI/HARI MAHARDHIKA 

* Seruan Muzakarah Ulama Tauhid Sufi

BANDA ACEH - Kurang harmonisnya hubungan antara Pemerintah Aceh dengan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menjadi sorotan dalam acara pembukaan Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional 2018 di Lapangan Tugu Darussalam, Banda Aceh, Jumat (13/7) malam. Jamaah dan para ulama yang hadir menyerukan agar eksekutif dan legislatif segera islah (berdamai) dan kembali bersatu, berbuat dan bekerja sama untuk menyejahterakan masyarakat Aceh.

Demikian antara lain disuarakan oleh Ketua Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional 2018, Dr Munawar A Djalil MA, dalam sambutannya tadi malam.

Mantan kepala Dinas Syariat Islam Aceh itu mengatakan, salah satu tujuan diselenggarakan muzakarah ulama tersebut adalah sebagai ajang silaturahmi antarulama. Kecuali itu, muzakarah ulama itu juga sebagai ajang silaturahmi antarsemua pemangku kepentingan Aceh saat ini. “Tidak hanya ulama, termasuk stakeholder pemerintah di Aceh hari ini harus bersatu padu,” kata Munawar.

Pembukaan muzakarah tadi malam dihadiri jamaah dalam jumlah besar sehingga Lapangan Tugu Darussalam disesaki jamaah yang berpakaian serbaputih. Acara itu ditutup dengan zikir atau rateb siribee serta doa yang dipimpin ulama karismatik Aceh yang juga penggagas Majelis Rateb Siribee dan Pimpinan MPTT Asia Tenggara, Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidi.

Pembukaan muzakarah turut dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir H Nova Iriansyah MT, Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman MM, Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Warul Walidin AK MA, Katibul Wali Nanggroe, Drs Syaiba Ibrahim, dan sejumlah bupati/wakilbupati daerah lainnya di Aceh.

Dalam sambutannya, Munawar A Jalil juga mengatakan bahwa masyarakat Aceh saat ini bosan dengan tontonan disharmoni antara eksekutif dan legislatif yang tak kunjung reda. “Mohon izin Pak Plt Gubernur, kami menyampaikan curahan hati sebagai masyarakat, kami sudah bosan dengan tontonan-tontonan yang menjenuhkan itu. Tontotan itu dapat kita beri judul, ‘Seorang menanam, seorang lagi mencabut’. Sidroe pula, sidroe lheup,” kata Munawar mengutip peribahasa Aceh.

Oleh karena itu, muzakarah ulama tersebut, kata Munawar, harus menjadi pesan moral bagi semua pemangku kepentingan di Aceh saat ini, terkhusus bagi Pemerintah Aceh dan DPRA. “Maka pesan moralnya, kita mengajak semua pemimpin, Pemerintah Aceh dengan stakeholder yang ada hendaklah bersatu padu. Masih ada ruang rekonsiliasi, islah seluruh komponen masyarakat, termasuk pemerintahan antara ekskutif dan legislatif. Islah, islah!” seru Munawar yang disambut riuh gemuruh takbir jamaah.

Mantan penjabat Bupati Pidie ini juga mengatakan, bersatu padu antara pemimpin Aceh saat ini adalah kunci untuk membawa Aceh ke pintu kemakmuran. Menurutnya, jika para pemimpin tidak bersatu maka sulit untuk mewujudkan cita-cita Aceh di masa mendatang. “Bagaimana kita majukan Aceh dan menyejahterakan Aceh jika kita masih seperti ini. Silaturahmi dan bersatu menjadi penting, itu pilar untuk membangun Aceh ke depan, landasannya adalah cinta dan kasih sayang, itu yang telah hilang dalam diri kita sebagai muslim hari ini, tak terkecuali di Aceh,” imbuh Munawar.

Ia juga mengajak puluhan ribu jamaah untuk mendoakan pemimpin Aceh agar diridai Allah Swt dalam menjalankan amanah dan semua tugasnya, termasuk kepada Nova Iriansyah yang saat ini menjabat Pelaksana Tugas Gubernur Aceh. “Kita berdoa kepada Allah supaya dalam kepemimpinan beliau saat ini, Allah meridainya, begitu juga untuk seluruh masyarakat Aceh,” katanya.

Munawar kemudian mengutip sabda Rasulullah saw. “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan mereka dan mereka juga mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian, kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka juga melaknat kalian. Dan sahabat bertanya, ya Rasulullah bolehkah kami menentang mereka dengan pedang? Lalu Rasulullah mengatakan jangan, jika mereka masih menegakkan shalat di tengah kalian, ikuti mereka, taatlah kepada mereka,” kata Munawar, mengutip sabda Nabi Muhammad saw.

Dia juga tak lupa mengajak jamaah untuk tetap senantiasa mendoakan Gubernur Aceh nonaktif, Irwandi Yusuf yang saat ini sedang menjalani proses penyidikan di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus dugaan suap Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) yang disangkakan kepadanya.

“Dan kita juga berdoa kepada gubernur nonaktif, kita berdoa supaya Allah memberi kemudahan dalam setiap urusan yang beliau hadapi,” katanya. (dan)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved