Citizen Reporter

Menyusuri Sejarah Islam di Negeri Tirai Bambu

GUANGZHOU, kota terbesar ketiga di Tiongkok dikenal sebagai pusat perdagangan bagi pebisnis asing yang berkunjung ke Cina

Menyusuri Sejarah  Islam di Negeri Tirai Bambu
IRMA YUNITA, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris asal Banda Aceh, sedang kuliah program sarjana di Universitas Negeri Medan, melaporkan dari Guangzhou, Cina

IRMA YUNITA, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris asal Banda Aceh, sedang kuliah program sarjana di Universitas Negeri Medan, melaporkan dari Guangzhou, Cina

GUANGZHOU, kota terbesar ketiga di Tiongkok dikenal sebagai pusat perdagangan bagi pebisnis asing yang berkunjung ke Cina.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya dapat menginjakkan kaki di salah satu kota dari negara yang dijuluki “Negeri Tirai Bambu” ini.

Saat saya berkunjung ke Guangzhou sebagai salah satu dari sembilan orang anggota delegasi Indonesia yang menjadi tim relawan pendidikan dan sosial untuk anak-anak disabilitas di salah satu kota kecil di pinggiran Kota Guangzhou. Yakni dalam program Friendship from Indonesia (FFI) yang diselenggarakan oleh Intercultural Friendship Society.

Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan komunitas relawan, Morfia’s Community yang anggotanya berasal dari beberapa negara seperti Rusia, Kenya, Afrika, Amerika Serikat, Malaysia, dan Cina selaku tuan rumah.

Sangat banyak hal menarik yang saya temukan di kota modern dengan penduduk sekitar 14 juta jiwa ini. Namun yang sangat menyorot perhatian saya adalah sejarah masuknya Islam ke negeri ini.

Menurut catatan resmi dari Dinasti Tang yang berkuasa pada 618-905 M dan berdasarkan catatan serupa dalam buku A Brief Study of the Introduction of Islam to China karya Chen Yuen, Islam pertama kali datang ke Cina sekitar tahun 30 Hijriah atau 651 Masehi.

Disebutkan, Islam masuk ke Cina melalui utusan yang dikirim oleh Khalifah Usman bin Affan (23-35H/644-656 M) menurut catatan Lui Tschih, penulis muslim Cina pada abad ke-18 dalam karyanya Chee Chea Sheehuzoo (Perihal Kehidupan Nabi), Islam dibawa ke Cina oleh rombongan yang dipimpin Saad bin Abi Waqqash.

Saad bin Abi waqqash kemudian menetap di Guangzhou dan mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di Cina. Masjid ini menjadi masjid tertua di daratan Cina dengan usia yang telah melebihi 1.300 tahun. Bangunan ini berlokasi terpisah dari area pemakaman Saad yang juga disemayamkan di ibu kota Provinsi Guangdong.

Kompleks pemakaman Saad bin Abi Waqqash terletak di Jalan Lanpu Lu seberang Yuexiu Gong Yuan atau Yuexiu Park pusat Distrik Yuexiu. Dari pintu gerbang utama, setelah berjalan beberapa meter, kita akan temukan gerbang makam bertulisan Arab, Raudhah Saad Abi Waqqash.

Selain itu, di dalam kompleks ini juga terdapat sebuah masjid yang diberi nama Masjid Shahibi Saad Abi Waqqash atau dalam bahasa Mandarin dikenal dengan Xian Xian Qingzhensi . Artinya, Masjid Kehormatan Utama. Untuk menuju masjid ini, kita cukup berjalan lurus mengikuti jalan setapak dan nantinya akan disambut oleh bangunan masjid yang cukup luas berarsitektur bangunan khas Tiongkok berwarna merah berpintu lipat berjajar dari kayu yang unik.

Jadi, jika Anda berkunjung ke Guangzhou, sempatkanlah singgah ke tempat ini. Jaraknya tak jauh dari Konsulat Jendera Republik Indonesia (KJRI) Guangzhou yang berkantor di Hotel Dongfang atau sekitar 50 menit berjalan kaki dari masjid.

Di sini Anda akan dimanjakan oleh suasana yang sangat berbeda di tengah hiruk pikuk kota yang dipenuhi ribuan gedung pencakar langit.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help