Pasangan Homo Dicambuk

Sebanyak 15 pelanggar syariat Islam menjalani hukuman cambuk di halaman Masjid Baiturrahim, Ulee Lheue, Banda Aceh

Pasangan Homo Dicambuk
PELANGGAR syariat Islam menjalani uqubat cambuk di halaman Masjid Baiturrahim, Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (13/7) siang. FOTO IST 

* Bersama 13 Pelanggar Syariat Lainnya

BANDA ACEH - Sebanyak 15 pelanggar syariat Islam menjalani hukuman cambuk di halaman Masjid Baiturrahim, Ulee Lheue, Banda Aceh, usai shalat Jumat (13/7). Dua di antaranya adalah pasangan homo (liwath) yang ditangkap di salon kawasan Simpang Dodik, beberapa waktu lalu.

Usai shalat Jumat, tepatnya sekitar pukul 14.10 WIB, 15 pelanggar syariat Islam itu dihadirkan ke halaman Masjid Baiturrahim oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh dengan mobil tahanan. Pelaksanaan uqubat cambuk ini disaksikan Sekda Kota Banda Aceh, Ir Bahagia Dipl SE dan ratusan warga yang baru saja menunaikan ibadah shalat Jumat di masjid tersebut.

15 pelanggar syariat Islam ini tercatat melanggar Qanun Nomor 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat. Dari 15 pelanggar, tercatat 4 orang terlibat kasus khamar (minuman keras), dua orang kasus liwath (homoseksual), dan sembilan orang kasus ikhtilath (berduaan di tempat sepi yang bukan muhrim).

Dua pelanggar kasus liwath dicambuk masing-masing 87 kali setelah dipotong masa tahanan sebanyak tiga kali. Kasus khamar dicambuk bervariasi antara 15 kali, 25 kali, dan 30 kali, setelah dipotong masa tahanan. Sedangkan, kasus ikhtilath dicambuk masing-masing 25 kali setelah dipotong masa tahanan masing-masing tiga kali.

Sekdako Banda Aceh, Ir Bahagia dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi kepada Kejari Banda Aceh, Mahkamah Syari’ah Banda Aceh, dan Polresta Banda Aceh, serta semua pihak yang telah mendukung sehingga pelaksanaan uqubat cambuk berlangsung sukses. Pemerintah Kota Banda Aceh, lanjutnya, memiliki komitmen yang kuat dalam hal penegakkan syariat Islam.

“Pemko Banda Aceh tidak menginginkan adanya pelanggaran hingga menyebabkan hukuman cambuk. Karena, jika penegakan syariat Islam berjalan dengan baik, maka tidak akan ada lagi warga yang kena cambuk,” ujarnya. “Namun, untuk penegakan hukum dan pelaksanaan syariat Islam di kota ini, maka eksekusi cambuk tetap harus dilaksanakan ketika terbukti melanggar,” tegas Sekdako.

Menurut Bahagia, penegakan syariat Islam sangatlah penting. Karena dengan tegaknya syariat Islam, maka ridha dan hidayah Allah akan turun dan ajaran Islam akan terus eksis, hidup, serta semarak, sehingga dengan sendirinya dapat menciptakan suasana dan lingkungan islami. Bahagia mengatakan, saat ini di Banda Aceh telah hadir para ulama dari berbagai negara di dunia dalam rangka mengikuti Muzakarah Ulama Internasional.

“Dan pelaksanaan uqubat cambuk ini dapat menjadi bukti kepada dunia internasional bahwa Pemko bersama-sama dengan warganya, tetap komit dalam menegakkan syariat Islam di Banda Aceh. Para pelanggar Qanun Syariat Islam yang ditangkap dan dicambuk hari ini pun merupakan hasil tindak lanjut dari laporan masyarakat,” ungkap Bahagia.

Penegakan syariat Islam, ucapnya, merupakan cita-cita bersama, di mana Kota Banda Aceh harus bersih dari maksiat. Karenanya, ia berharap dukungan dari segenap elemen kota untuk tidak memberi ruang sedikitpun bagi pelanggar syariat di Kota Banda Aceh. Ia berharap, hukuman cambuk tidak hanya sebatas hukuman fisik kepada para pelanggar qanun saja, tetapi juga berefek jera kepada pelaku dan menjadi iktibar bagi semua yang menyaksikan. “Uqubat cambuk ini bukan untuk mengejek dan menertawakan pelaku, tapi sebagai bahan pelajaran bahwa apa pun yang kita lakukan ada konsekuensinya,” pungkas Sekdako Banda Aceh, Ir Bahagia.(min)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved