Angin Terbangkan Atap Rumah Warga

Satu atap rumah warga di Gampong Cot Abeuk, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang, diterbangkan angin

Angin Terbangkan Atap Rumah Warga
Boat nelayan bersandar di Gampong Deah Glumpang, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Sabtu (14/7). Cuaca buruk dalam dua hari ini yang melanda Banda Aceh dan beberapa wilayah lain di Aceh, membuat sebagian nelayan tidak melaut. SERAMBI/BUDI FATRIA 

* Badai Terjang Sabang
* Di Banda Aceh Puluhan Pohon Tumbang

SABANG - Satu atap rumah warga di Gampong Cot Abeuk, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang, diterbangkan angin saat puncak badai menerjang Sabang, Sabtu (14/7) siang. Peristiwa angin kencang tersebut juga merusak satu tempat usaha milik warga serta menumbangkan dua batang pohon yang telah berumur puluhan tahun di Kecamatan Sukakarya.

Selain di Sabang, angin kencang juga menimbulkan dampak buruk di Kota Banda Aceh, Sejak Senin hingga Sabtu (9-14/7). Setidaknya ada puluhan pohon tumbang di tengah kota maupun permukiman warga.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Sabang, Muhammad Amin SE, yang dihubungi Serambi, kemarin menjelaskan, puncak angin kencang yang menerjang Kota Sabang, terjadi antara rentang waktu sekitar pukul 14.00 sampai pukul 15.00 WIB.

“Angin kencang yang menerbangkan satu atap rumah warga serta merusak satu usaha milik warga dan menumbangkan dua pohon di dua titik di Kecamatan Sukakarya terjadi begitu cepat. Alhamdulillah, dari empat kejadian tersebut tidak ada korban jiwa dan saat situasinya sudah kembali normal,” sebutnya.

Dia menjelaskan, BPBD Kota Sabang telah memberi bantuan berupa dua lembar terpal kepada keluarga korban yang atap rumahnya rusak diterjang angin kencang. Dua terpal itu langsung dipasang di bagian atap rumah yang diterbangkan angin. “Insya Allah, kalau ada hujan, masih bisa teratasi. Kami juga mengucapkan terima kasih, karena pada saat pembersihan pohon yang tumbang juga ikut dibantu oleh TNI dari prajurit babinsa,” ujar Muhammad Amin.

Kalaksa BPBD Kota Sabang ini juga mengatakan dirinya telah mengintruksikan kepada seluruh petugas BPBD untuk memantau situasi setiap saat, sewaktu-waktu angin kencang terjadi kembali.

Sementara dari Banda Aceh, cuaca ekstrem berupa angin kencang dan hujan deras juga menimbulkan dampak buruk. Sejak Senin hingga Sabtu (9-14/7), sedikitnya ada 20an pohon tumbang di tengah kota maupun permukiman warga, di antaranya di kawasan Pango, Blang Oi, Lamjame, Merduati, dan sejumlah lokasi lainnya. Begitu pula beberapa ruas jalan protokol yang saban hari dikotori dedaunan yang rontok dan patahan ranting.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh, Drs T Samsuar MSi, saat ditanyai Serambi, kemarin, terkait dampak angin kencang belakangan ini. Meski dampaknya sudah agak berkurang dibanding awal pekan lalu, aku Samsuar, namun pohon tumbang maupun rantingnya yang patah masih terjadi sampai sekarang.

Samsuar mengatakan, petugas DLHK3 bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh dalam menangani pohon tumbang. Di samping itu, untuk meminimalisir dampak akibat pohon/dahan patah, pihaknya aktif melakukan perintisan di sejumlah titik. “Misalnya di jalan Politeknik Aceh, dimana ada banyak pohon besar yang harus selalu dirintis. Rantingnya ini perlu dipangkas karena bisa membahayakan,” jelasnya.

Kepada warga yang mendapati pohon tumbang, lanjut Samsuar, dapat segera melaporkan kejadian itu ke DLHK3 Banda Aceh melalui nomor call centre 08116788444. Selain pohon tumbang, warga juga dapat melaporkan masalah sampah, lampu jalan, maupun terkait keindahan kota.

Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi (Datin) BMKG Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar, Zakaria SE yang dikonfirmasi mengatakan, fenomena angin kencang untuk wilayah Aceh sudah dimulai sejak Mei lalu dan diprediksi akan berlangsung hingga September mendatang.

Menurutnya, cuaca buruk itu dikarenakan posisi matahari sudah di belahan bumi utara yang menyebabkan terjadinya tekanan rendah (low pressure). Massa udara dari belahan bumi selatan akan bergerak menuju tekanan rendah di bumi bagian utara itu melalui wilayah Aceh. “Akibat pergerakan udara ini terjadi lah angin kencang yang rata-rata kecepatannya 10-40 kilometer per jam, bahkan bisa saja mencapai 80 kilometer per jam,” jelasnya.

Zakaria juga mengimbau warga agar tidak sembarangan membuka lahan dengan membakar hutan atau tumbuhan liar. Karena dikhawatirkan api dapat merambat cepat akibat angin kencang dan menyebabkan kebakaran. “Begitu pula dengan puntung rokok, agar dibuang pada tempatnya. Kondisi yang kering saat ini rawan terjadi kebakaran,” demikian Zakaria.(mir/fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved