Cerpen

Marimba

FAJAR hampir menyingsing. Deru angin terasa semakin dingin. Deburan ombak bantaian menjilati pasir pantai

Marimba

Ia penasaran pada apa yang sedang tampak samar di matanya. Janjieng kini telah berdiri di atas pematang kuala. Pandangannya terus ia arahkan ke tengah mulut kuala. Sebuah benda berwarna kuning berkilau tampak sedang di jungkat-jungkit oleh seorang perempuan tambun bertubuh kuning dan berkilau. Perempuan itu mengenakan gaun pengantin keemasan, juga hijabnya. Perempuan itu terus memainkan benda itu, khas perempuan Aceh kala sedang menumbuk tepung dengan jeungki.

Perempuan itu melambai-lambaikan tangannya ke arah Janjieng. Memanggilnya dengan lembut sambil menyunggingkan senyum di bibirnya yang kuning bercahaya. Janjieng menoleh ke ufuk timur. Sinaran mentari kian membias di langit. Tapi keajaiban yang terjadi di mulut kuala masih kian tampak jelas di mata Janjieng. Jeungki dan perempuan berwarna emas itu tak juga menghilang walau pagi telah menggantikan malam. Semakin lama. Bias mentari kian menyatu dengan cahaya keemasan dari jeungki dan perempuan tambun itu.

Membuat air kuala yang mulai pasang bak disepuh dengan intan juwita. Gemerlap pagi itu seakan menyentuh hati Janjieng untuk melangkah lebih jauh ke arah jeungki dan perempuan kuning itu. Perlahan Janjieng mulai turun ke air kuala. Semakin jauh semakin terasa pula betapa dalamnya kuala, hingga membuat Jinjieng terpaksa harus mengapungkan dirinya, berenang menghampiri jeungki dan perempuan tambun bergaun pengantin keemasan. Janjing menyentuh lesung dan menaikinya. Tangannya memegang alu hingga ke ukiran kepala ayam jantan di ujung jeungki. Perempuan tambun itu pun mematung bersama jeungki yang tak lagi bergerak.

Inikah jeungki Marimba yang konon ditakuti oleh semua pelaut?

Inikah jeungki misterius itu yang sering diceritakan oleh para pelaut yang melintasi kuala ini?

Inikah hantu penghuni kuala ini?

Janjieng seperti tersihir dengan pertanyaan-pertanyaannya yang bermain dan bermunculan di dalam benaknya sendiri.

“ Akulah Monamu,” tiba-tiba suara perempuan muncul dari balik bibir keemasan itu.

Janjieng tersentak. Suara halus itu terasa cukup akrab dengan kehidupannya. Suara itu menyatakan dirinya adalah Mona. Monalisakah dia? Tapi mengapa mematung?

“Akulah Si Pemilik Jeungki. Akulah yang orang-orang sebut Marimba. Kau boleh mempersuntingku. Bawalah aku kemana pun kau inginkan. Emas diriku dan jeungkiku lebih besar daripada emas di puncak Tugu Monas. Kau boleh menggunakan aku semaumu. Sepuas hatimu, Janjieng! Cintaku padamu lebih berharga dari apa pun di dunia ini. Kemurnianku dunia pun tak mampu menandinginya. Sanggamalah aku. Bukankah itu salah satu yang selama ini kau harapkan dariku?” Bisikan suara halus dan lembut itu merasuk perlahan ke dalam diri Janjieng. Terbuai dan terpana adalah hal yang lumrah untuk emas sebesar itu. Kilauan. Dalam ton beratnya.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help