Cerpen

Marimba

FAJAR hampir menyingsing. Deru angin terasa semakin dingin. Deburan ombak bantaian menjilati pasir pantai

Marimba

Suara bentakan dan tendangan tapak sepatu di dada Janjieng yang bertubi-tubi membangunkan Janjieng dari tidurnya. Tubuhnya terbanting beberapa kali di atas debu. Janjieng berusaha memicingkan kedua matanya. Janjieng terkejut bukan kepalang. Puluhan sertadu lengkap dengan baret dan senjata khas sedang sedang mengerumuninya.

“Ikat dan lemparkan dia ke reo,” perintah salah seorang dari serdadu pada temannya.

Janjieng kini tak hanya sebatas patah hati karena cintanya pada Mona yang terhalang oleh orang tua Mona. Tapi, satu tulang rusuk kirinya juga telah patah karena tapak sepatu. Mungkin juga nyawanya, lantara tak ada seorangpun yang berani menjaminnya untuk kembali hidup dan memukat atau menyaring bibit-bibit kerapu dan anak udang wat di pantai kala malam hendak mengukuhkan fajar. Yang jelas, sejak kejadian itu, Janjieng tak pernah lagi terlihat di sekitar pantai, walau hanya sekali saja dalam sejarah kehidupan di Kuala Matang Deungon.

* Iswandi Usman lahir di Matang Panyang, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, 5 Februari 1981. Sehari-hari bekerja sebagai guru PNS pada SD Negeri 8 Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help