Opini

Pentingnya Akhlak dan Pendidikan Karakter

KAMPANYE back to school (kembali ke sekolah) mengingatkan para orang tua, murid, guru dan seluruh pemangku

Pentingnya Akhlak dan Pendidikan Karakter
ist
Rapat pengurus Komite 

Maka, jika kita berkaca pada model pendidikan Rasulullah saw pada periode awal masa kerasulannya, sebelum beliau mengajarkan tentang keimanan (tauhid), terlebih dulu melakukan perbaikan akhlak (moral) para sahabat dan umat Islam. Bahkan banyak kaum Quraisy yang kemudian memeluk Islam karena ketertarikan mereka terhadap budi pekerti (akhlak) Rasulullah saw. Ketika moral atau akhlaknya telah bagus, maka aspek yang lain dengan mudah dapat dibentuk. Bagaimana seorang anak didik memiliki motivasi belajar tinggi, jika mereka tidak mempunyai kedispilan yang baik?

Lalu bagaimanakah metode pendidikan karakter yang efektif? Pertama sekali ketika kita bicara tentang pendidikan karakter, maka kita bicara tentang moral atau akhlak seperti apa yang ingin ditanamkan dalam pendidikan tersebut. Setelah itu kemudian kita mencari dan menentukan metode yang tepat dalam melakukan prosesnya. Inti dari pada pendidikan karakter sesungguhnya adalah bagaimana seharusnya memanusiakan manusia.

Mengutip Wikipedia, “pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju ke arah hidup yang lebih baik.”

Menurut Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Kemdikbud RI, Anas M Adam, pembangunan kualitas manusia Indonesia harus disertai dengan pelaksanaan pendidikan karakter. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan karakter bangsa (Kompas.com, 22/11/2017). Dengan demikian jelas bahwa pemerintah memiliki keinginan yang kuat untuk mewujudkan pendidikan karakter sebagai basis pendidikan dasar dan menengah di Indonesia.

Oleh karenanya, kata Anas M Adam menambahkan, “keberhasilan pendidikan karakter bangsa di sekolah akan sangat tergantung pada peranan guru di sekolah, guru-guru selain mengajarkan materi pokok sesuai dengan bidang studinya, mereka juga harus mengisinya dengan pendidikan karakter yang sesuai dengan tema pembelajaran di kelas atau terintegrasi dalam pembelajaran.” Jadi strategi utama proses pendidikan karakter adalah guru/dosen.

Mendidik dengan hati
Barbara Harell Carson pernah berkata, “students learn what they care aobut, from people they care about and how who, they know, care about them.” Kurang lebih dapat dimaknai bahwa siswa akan belajar terhadap apa yang mereka peduli tentangnya, dari orang-orang yang peduli pada mereka dan peduli tentang mereka. Pesan Barbara ini hanya memiliki satu kata kuci, yaitu peduli.

Penting sekali bagi guru/dosen untuk memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap peserta didiknya, dengan kepedulian tersebut guru/dosen dapat menilai proses perubahan dan perkembangan mereka dari waktu ke waktu dalam setiap fase belajar. Dari sinilah segala kekurangan dapat diperbaiki menuju hasil yang lebih baik.

Menurut kami, cara yang paling efektif bagi guru/dosen menanamkan akhlak yang baik pada peserta didik pada model pendidikan karakter adalah menunjukkan keteladanan, terutama sikap baik para guru/dosen dan seluruh warga sekolah/kampus pada peserta didik dengan jujur (sebenarnya) dan tidak munafik. Tidak boleh sekali-sekali guru/dosen memperlihatkan sikap dusta kepada peserta didik sementara ia meminta murid/siswa/mahasiswa berlaku jujur.

Model pendidikan akhlak yang pernah dipraktikkan oleh Rasulullah saw dalam pergaulannya dengan para sahabat bahkan dengan musuhnya sekalipun dapat menjadi best practice bagi guru/dosen dalam upaya membangun karakter (character building) peserta didik sejak dini (TK/murid SD/siswa SMP). Beliau selalu menunjukkan sikap dan perbuatan baik dalam setiap interaksi, mulai dari ucapannya yang sopan, lemah lembut, berkata jujur sampai saat marah pun beliau masih menunjukkan etika yang mulia. Subhanallah!

Sifat seperti Rasulullah tersebut mencirikan bahwa mendidik bukan hanya dengan sejumlah teori dan memasok pengetahuan (sains), namun bagaimana transfer ilmu yang dilakukan oleh guru/dosen juga dibarengi dengan pembentukan akhlak (morality) yang padu-padan dengan kepribadian, keterampilan, yang dimiliki oleh para peserta didik.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved