Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Hasilkan Tiga Rekomendasi

Muzakarah ulama tauhid sufi internasional di Banda Aceh, 13-15 Juli 2018 menghasilkan tiga rekomendasi

Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Hasilkan Tiga Rekomendasi
SERAMBI/HARI MAHARDHIKA
Pembukaan muzakarah turut dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir H Nova Iriansyah MT, Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman MM, Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Warul Walidin AK MA, Katibul Wali Nanggroe, Drs Syaiba Ibrahim, dan sejumlah bupati/wakilbupati daerah lainnya di Aceh.SERAMBI/HARI MAHARDHIKA 

BANDA ACEH – Muzakarah ulama tauhid sufi internasional di Banda Aceh, 13-15 Juli 2018 menghasilkan tiga rekomendasi dari lima rumusan persoalan yang dibicarakan selama muzakarah. Ketiga rekomendasi itu telah dibacakan di depan para jamaah yang hadir pada penutupan kegiatan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu (15/7) malam.

Ketua Panitia Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional, Dr Munawar A Jalil mengatakan, rekomendasi pertama adalah, pemerintah hendaknya berdiri di atas semua golongan dan memberikan perlindungan terhadap keberadaan semua kelompok keagamaan yang ada di Aceh sepanjang masih berada dalam koridor Alquran, hadis Nabi, dan iktikad ahlussunah wal jamaah.

“Ini salah satu yang diinginkan dalam muzakarah, yaitu soal persatuan umat. Salah satu elemen pemersatu itu adalah pemerintah, maka pemerintah diharapkan bisa berdiri di atas semua golongan tidak membeda-bedakan. Pemerintah harus mampu menyelesaikan persoalan umat,” kata Munawar A Jalil kepada Serambi, kemarin.

Kedua, pemerintah hendaknya mendorong dan memfasilitasi kegiatan kegiatan muzakarah para ulama untuk mengharmonisasikan

perbedaan pendapat guna menyelesaikan persoalan-persoalan umat. “Banyak permasalahan masyarakat yang kemudian ulama-ulama kita harus berperan. Semua ulama harus duduk dalam satu majelis untuk meyelesaikan masalah. Tujuannya untuk mengharmonisasikan perbedaan. Selama ini perbedaan yang terjadi justru tidak menjadi rahmat tapi permusuhan,” katanya.

Rekomendasi terakhir yang dihasilkan adalah, semua ulama dari berbagai paham diharapkan dapat bersatu padu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi umat, baik di tingkat lokal, regional, maupun internasional. “Kita berharap, setiap ada muzakarah ulama, maka semua ulama di Aceh dilibatkan, bersatu memikirkan umat dan semua persoalan umat. Selama ini, tidak semua dilibatkan,” katanya.

Munawar mengatakan, selama kurang lebih tiga hari berlangsungnya muzakarah ulama tauhid sufi di Banda Aceh, banyak solusi yang dihasilkan dengan cara pendekatan tasawuf. Dia menjelaskan, tauhid sufi adalah salah satu cara mendekatkan diri dengan Allah Swt. “Dengan tauhid tasawuf maka tidak ada lagi kebencian, dendam dan sebagainya. Dengan cara ini bisa menyelesaikan perkara umat, bisa mendamaikan,” katanya.

Dia mencontohkan, persoalan narkoba yang semakin merajalela di Aceh. Bahwa secara hukum fiqih, semuanya sudah tahu bahwa narkoba adalah haram. “Namun peredarannya di masyarakat terus merajelela, kenapa? Karena ada yang tidak dilakukan, yaitu tidak mampu menghadirkan Allah Swt dalam dirinya. Ini caranya hanya dengan tauhid tasawuf, jika itu berhasil maka peredaran barang haram ini pun akan berkurang,” katanya.

Atas nama panitia, Munawar mengucapkan terima kasih kepada semua ulama, santri, dan masyarakat yang telah berkenan hadir menyukseskan kegaitan muzakarah ulama tauhid sufi internasional di Banda Aceh. “Semoga apa yang telah kita lakukan ini bermanfaat dan menjadi hal yang positif bagi umat,” pungkas Munawar. (dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help