Salam

Melihat Politisi Numpang Partai

Politisi Partai Aceh (PA) yang saat ini masih menjabat anggota DPRA ramai-ramai mendaftarkan diri

Melihat Politisi Numpang Partai
Gedung DPR RI 

Politisi Partai Aceh (PA) yang saat ini masih menjabat anggota DPRA ramai-ramai mendaftarkan diri ke sejumlah partai nasional (parnas) karena ingin bertarung sebagai bakal calon anggota DPR RI pada pemilu legislatif tahun depan. Di antara mereka yang ingin maju ke Senayan adalah Muharuddin, politisi Partai Aceh yang sekarang menduduki jabatan sebagai Ketua DPRA. Untuk “naik” ke DPR-RI, Muhar menggunakan Partai Nasdem sebagai “tangga”.

Lalu, ada juga Abdullah Saleh, yang sekarang menjabat sebagai Ketua Badan Legislasi DPRA, akan bertarung ke Pusat melalui bendera Partai Gerindra. Politisi PA lainnya adalah Azhari Cagee yang akan berusaha melaju ke Senayan menggunakan Partai Bulan Bintang (PBB).

Berikutnya Tgk Anwar Ramli yang kini menjabat Ketua Komisi IV DPRA akan menggunakan Partai Nasdem untuk berjuang merebut kursi DPR-RI. Kemudian, Effendi yang kini menjabat sebagaui Ketua Komisi III DPRA, juga akan berbendera Nasdem sebagai “kendaraannya” ke leguislatif Pusat. Lantas, ada Kautsar yang mantan Ketua Fraksi PA DPRA, akan naik menuju Pusat melalui Partai Demokrat. Selain itu, ada juga beberapa politisi partai nasional yang kali ini pindah partai untuk menjadi bacaleg Pusat atau bakal calon anggota DPRA maupun calon anggota DPRK.

Ya, kita tentu berharap, mereka akan sukses jika niatnya benar seperti yang mereka ucapkan dengan mulut, yakni ingin memperjuangkan kepentingan rakyat Aceh. Mereka berpendapat, duduk di lembaga legislatif Pusat akan lebih efektif memperjuangkan keinginan masyarakat Aceh. Sekali lagi, semoga mereka tak melupakannya kelak.

Fenomena pindah partai ini paling menonjol pada menjelang pemilu 2009. Kala itu, menurut satu hasil survei, partai yang paling banyak ditinggalkan kadernya adalah PDIP. Sedangkan partai paling jadi incaran adalah Gerindra. Aksi pindah partai di kalangan politisi partai nasional pernah beberapa kali diteliti. Salah satu hasilnya adalah, alasan mereka pindah partai antara lain karena kecewa kepada partainya. Alasan lainnya adalah mereka kalah bersaing dengan sesama politisi partainya.

Yang jelas, banyaknya politisi yang berpaling ke lain partai pada setiap menjelang pemilu adalah fenomena biasa. Apapun pendapat orang tentang mereka, yang pasti pindah-pindah partai itu bukan perbuatan terlarang dalam politik. Tapi, kalau keseringan pindah partai, maka masyarakat menyebutnya sebagai politisi kutu loncat.

Fenomen politisi parlok menggunakan parnas untuk maju ke DPR Pusat adalah fenomena baru di negeri ini. Dan, kita belum bisa melihat untung dan ruginya parnas atas penggunaan benderanya oleh para politisi parlok. Harapannya tentu ini mejadi hubungan yang saling menguntungkan. Tapi, yang lebih penting adalah siapapun yang berhasil kelak jangan sampai melupakan masyarakat nantinya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved