Citizen Reporter

Cara Australia Lindungi Lingkungan

SEIRING dengan perkembangan industri dan pertambahan penduduk, semakin banyak aktivitas manusia

Cara Australia Lindungi Lingkungan
SUKMA HAYATI

OLEH SUKMA HAYATI, lulusan S1 International Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, penerima Beasiswa LPDP, mahasiswa Master of International Business di Macquarie University, melaporkan dari Sydney, Australia.

SEIRING dengan perkembangan industri dan pertambahan penduduk, semakin banyak aktivitas manusia yang menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan mengancam keadaan bumi yang berujung pada global warming. Kondisi ini dialami oleh berbagai negara yang menjadikan industri sebagai kegiatan utama dalam meningkatkan GDP untuk kesejahteraan warganya.

Menanggapi isu kerusakan lingkungan tersebut, berbagai upaya telah dilakukan oleh beberapa negara dengan tujuan menindaklanjuti permasalahan lingkungan yang memberi dampak negatif terhadap ekosistem bumi, termasuk Austarlia. Program pencegahan, penanganan, dan pemeliharan telah diluncurkan oleh Pemerintah Australia guna menjaga keberlangsungan ekosistem di negeri ini. Hal ini merupakan sebuah langkah menarik yang bisa diikuti oleh negara lainnya.

Berdasarkan data dari Australian Bureau Statistic, Australia, memiliki jumlah penduduk 24 juta jiwa yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Indonesia, dengan jumlah penduduknya berkisar 260 jiwa. Menariknya, dengan jumlah penduduk yang sedikit, potensi kerusakan lingkungan di negara ini pun juga sangat kecil dengan asumsi peningkatan penduduk dapat meningatkan jumlah sampah dan kerusakan lingkungan lainnya. Meski demikian, Pemerintah Australia dinilai cukup serius dalam melindungi lingkungan terbukti dengan berbagai inovasi yang telah diterapkan untuk menjaga stabilitas ekosistem di negaranya.

Salah satu inovasi tersebut adalah meluncurkan teknologi baru, yaitu mesin pembeli sampah atau lebih dikenal dengan “Return and Earn atau Reverse Vending Machine” pada December 2017 yang diprediksikan akan mengurangi jumlah sampah sebesar 40% pada tahun 2020. Mesin ini baru diluncurkan di New South Wales yang merupakan salah satu negara bagian tertua di Australia. Penduduknya terkenal padat dan teramai, layaknya Jakarta, ibu kota Indonesia. Tidak heran, jika penduduk di NSW menghasilkan 19 megaton sampah per tahun berdasarkan data Australian National Waste Report 2016.

Teknologi baru ini merupakan cara yang sangat kreatif yang diluncurkan untuk memutar perekonomian. Mesin ini diciptakan dengan tujuan untuk mendorong masyarakat supaya mengumpulkan sampah dengan menjadikan sampah sebagai sumber penghasilan yang bisa ditukarkan dengan uang melalui mesin tersebut. Tidak hanya mengurangi sampah dan menjaga lingkungan, tapi masyarakat juga memperoleh penghasilan tambahan melalui pengumpulan sampah tersebut.

Jenis sampah yang diterima oleh mesin adalah berbagai macam kontainer atau botol yang terbuat dari kaleng, kaca, aluminium, baja, dan karton. Setiap botol dibeli seharga 10 cent AUD atau setara dengan 1.000 rupiah. Cara menukarkannya cukup mudah yaitu memasukkan botol ke dalam mesin yang berbentuk layaknya mesin ATM itu, lalu kita bisa memilih jika ingin menerima uang dalam bentuk kas, transfer ke akun bank atau mendonasikannya. Tidak jeran jika masyarakat dari berbagai golongan usia, bahkan yang sudah tua renta terlihat sangat antusias terhadap sistem ini.

Selain itu, Pemerintah Australia juga mengeluarkan peraturan berupa larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di supermarket. Pada kenyatannya, plastik merupakan jenis sampah nonorganik yang membutuhkan waktu 50 sampai 100 tahun untuk bisa terurai. Mirisnya, Woolworth yang merupakan salah satu supermarket terbesar di Australia mengeluarkan 3,2 miliar plastik per tahun atau sama dengan 8 juta plastik per hari.

Pemerintah Australia tidak tinggal diam menghadapi masalah ini, larangan plastik di Victoria sudah diumumkan sejak Oktober 2017, namun di Queensland, Australia Barat, dan NSW baru saja diterapkan sejak 1 Juli 2018. Kini, supermarket tidak lagi menyediakan kantung plastik untuk konsumen yang berbelanja. Meski demikian, masyarakat merespons dengan sangat positif dan mendukung pemerintah dalam menerapkan peraturan ini. Terlihat jelas bagaimana mereka membawa tas secukupnya jika ingin berbelanja di supermarket. Tidak perlu khawatir jika lupa membawa tas dari rumah ketika ingin berbelanja, banyak tas berbahan kain dengan berbagai desain dijual dengan harga yang murah di berbagai supermarket. Tas berjenis kain ini lebih tahan lama, dapat digunakan berkali-kali dan lebih mudah untuk didaur ulang.

Tidak hanya itu, kampanye “the last straw” atau upaya penyingkiran sedotan plastik juga diterapkan di Australia. Sedotan plastik ini sangat banyak digunakan di berbagai kafe dan produk minuman yang biasanya berujung dengan pembuangan setelah sekali pakai dan juga merupakan salah satu penyumbang sampah terbesar.

Ribuan sedotan ditemukan di laut dan dimakan oleh hewan laut seperti gurita, burung laut, dan lain-lain. Tentunya, hal ini sangat membahayakan ekosistem laut. Kampanye ini direspons dengan positif di Australia, dibuktikan oleh sekitar 100 pebisnis seperti kafe dan restoran telah menerapkan larangan pakai sedotan. Tidak hanya pebisnis, masyarakat juga dianjurkan untuk membeli produk atau minuman tanpa menggunakan sedotan untuk mengurangi jumlah sampah sedotan.

Setelah mengamati cara-cara tersebut selama keberadaan saya enam bulan terkahir di Australia sebagai mahasiswi S2 di salah satu universitas di Sydney, keadaan ini sangat berbanding terbalik dengan negeriku Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, kesadaran masyarakat di Indonesia akan pentingnya lingkungan masih sangat kurang. Sampah bertebaran di tempat umum dan bencana alam seperti banjir yang disebabkan oleh sampah masih menjadi “PR” Indonesia saat ini.

Saya sangat terkesima dengan keseriusan Pemerintah Australia dan kesadaran serta dukungan besar dari masyarakat untuk bersama-sama melindungi lingkungan. Hubungan yang baik dan kerja sama inilah yang ke depan diharapkan di Indonesia, khusunya Aceh, untuk bisa bersama-sama dengan pemerintah mengatasi berbagai permasalahan lingkungan hidup.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved