Salam

Mengapa Wajah Lama Tetap Dominan di Daftar Bacaleg

Sebagian besar bakal calon legislatif (bacaleg) yang diajukan 20 partai politik (parpol) kontestan Pemilu 2019

Mengapa Wajah Lama Tetap Dominan di Daftar Bacaleg
SERAMBINEWS.COM/MASRIZAL
Ketua Harian DPA PA, Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak menyerahkan dokumen persyaratan bacaleg ke KIP Aceh, Selasa (17/7/2018). 

Sebagian besar bakal calon legislatif (bacaleg) yang diajukan 20 partai politik (parpol) kontestan Pemilu 2019 ke Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, umumnya masih mengedepankan wajah-wajah lama, termasuk yang diajukan oleh partai-partai baru.

Ke-20 parpol yang mengajukan bacaleg ke KIP Aceh terdiri dari 16 partai nasional (parnas) dan empat partai lokal (parlok). Yang parnas adalah Partai Perindo, Partai Demokrat, Partai NasDem, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, Partai Bulan Bintang, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Hanura, Partai Solidaritas Indonesia, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, Partai Berkarya, dan Partai Garuda. Sedangkan partai lokal yang mengajukan bacaleg adalah Partai Aceh, Partai Daerah Aceh, Partai Nanggroe Aceh, dan Partai SIRA.

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi setiap parpol, di antaranya memuat kuota bacaleg sebanyak 100 persen untuk partai nasional dan 120 persen untuk partai lokal di setiap daerah pemilihan (dapil). Selain itu, adanya 30 persen keterwakilan perempuan di setiap sebaran dapil.

Sedangkan bagi Bacaleg, selain memenuhi persyaratan administrasi, khusus untuk DPRA dan DPRK di Aceh ada persyaratan khusus tambahan, yakni diwajibkan mengikuti tes baca Alquran. Yang tidak bisa membaca Alquran bagi yang beragama Islam, maka dipastikan tidak memenuhi syarat, alias gagal.

Ada banyak kejuatan memang dari bocoran daftar nama bacaleg yang daijukan parpol-parpol. Selain terlihat banyaknya wajah lama yang masih bercokol di nomor urut yang menjanjikan, banyak pula politisi-politisi yang dianggap kawakan oleh masyarakat ternyata tidak masuk dalam daftar bacaleg. Salah satunya adalah Iskandar Usman Al Farlaki. Politisi Partai Aceh asal Kabupaten Aceh Timur ini, sekarang menjabat sebagai Ketua Fraksi PA di DPRA. Bahkan dalam susunan struktur kepengurusan PA, Iskandar Al Farlaki dipercayakan sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPA PA. “Saya sudah mencoba yang terbaik bagi Aceh,” kata Iskandar menanggapi tak masuk namanya dalam daftar bacaleg PA.

Ya, setelah masa pendaftaran bakal caleg ditutup, pembicaraan banyak orang di Indonesia kini tertuju ke dominasi wajah lama di urutan atas hampir setiap daftar caleg dari parpol-parpol. Ini bukan hanya terjadi di DPRA, tapi juga bacaleg untuk tingkat DPRK dan Pusat pun masih dominan pemain-pemain lama, termasuk yang daftar melalui partai baru.

Di antara mereka ada yang mendaftar untuk kelima bahkan enam kali. Tapi, yang paling banyak adalah yang mendaftar untuk kedua kali. Survei beberapa tahun lalu menyebutkan, yang mendaftar untuk kedua kali ini mengalahkan orang yang baru masuk daftar bacaleg untuk pertama kali.

Yang menjadi pertanyaan kita, apakah ini sebagai indikasi lemahnya kaderisasi dalam politik, atau memang sistem regenerasinya memang selambat itu. Sehingga kader-kader baru harus menunggu yang tua pensiun baru bisa mendapat tempat untuk maju? Atau, lantaran yang sudah berpengalaman modalnya lebih banyak untuk menyosialisasikan diri?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help